Sunday, May 21, 2017

I'm going

"Good luck for everything,
I'm looking down at you and I wish nothing but happiness.
I'm looking for smiles, laughs, and loves.
See you at your happy moments, dear.
Sorry, I'm going."

Jakarta, 21 July 2013

Saturday, May 20, 2017

"You took me back in time to when I was unbroken"

setelah berhasil membuat saya senyam senyum karena lagu manisnya yang berjudul Say You Won't Let Go, James Arthur kali ini berhasil bikin saya terpana sejenak setelah mendengarkan single barunya, Can I Be Him

disclaimer: sejujurnya saya sangat jarang mendengarkan lagu-lagu terkini, ada beberapa daftar lagu yang senang saya putar seharian dan berulang-ulang saking sukanya, tapi pastinya bukan lagu terkini karena selera musik saya dan cukup spesifik. ada banyak kriteria sih, tapi 2 dari banyak itu adalah: saya hanya suka lagu-lagu dari band/penyanyi/duo laki-laki dan jarang sekali suka lagu-lagu dari Amerika, jauh lebih suka dari Inggris. Nah, walaupun James Arthur penyanyi terkini, tapi kan dari Inggris... jadi ya masih masuk kriteria.

"You walked into the room / And now my heart has been stolen / You took me back in time to when I was unbroken / Now you're all I want / And I knew it from the very first moment / Cause a light came on when I heard the song / And I want you to sing it again."

"I heard there was someone but I know he don't deserve you / If you were mine I'd never let anyone hurt you / I wanna dry those tears, kiss those lips / It's all that I've been thinking about / Cause a light came on when I heard that song / And I want you to sing it again."

Diatas adalah 2 penggal bait yang berhasil bikin saya yang pagi-pagi sedang siap-siap ke kantor diam sejenak dan mengecek handphone saya lagu apa yang sedang diputar secara acak di youtube. "Oh... James Arthur ya? Can I Be Him ya judulnya?" Duh ini remeh temeh sekali tapi saya ingin bilang saya sedang merasakan apa yang lagu ini coba ceritakan. 

Sampai beberapa waktu lalu, saya masih saya yang tidak punya pasangan, lelaki yang diidamkan, apalagi rencana untuk mengakhiri masa lajang. Saya adalah saya yang telah merencanakan hidup saya sematang mungkin setahun hingga lima tahun ke depan, dan tidak ada menikah dalam perencanaan itu. Saya adalah saya yang semakin skeptis terhadap konsep cinta, jodoh, pertemuan, dan kasih sayang yang dulu sempat saya agung-agungkan. Saya adalah saya yang sudah mulai 'menyerah' mencari dan inginnya dipertemukan di waktu yang tepat sesuai dengan rencana-Nya. Sampai suatu hari sesuai dengan lirik lagu itu "You walked into the room, and now my heart has been stolen, you took me back in time to when I was unbroken."

Tiba-tiba saya jadi sangat bersemangat, berapi-api, dan meluap-luap. Dan herannya lagi... "Now you're all I want, and I knew it from the very first moment." Kok saya bisa suka orang lain pada pandangan pertama, ya? Dan kemudian rasa suka itu meningkat, membuncah, membumbung, dengan frekuensi yang ternyata sama. Akhirnya radio pembicaraan kami pun saya putar setiap hari.

Setelah merasakan apa yang saya bilang dengan "You took me back in time to when I was unbroken", jujur saya benar-benar bingung kenapa saya bisa jatuh pada orang baru ini. Terlebih lagi dia berhasil membawa saya pada perasaan berbunga-bunga yang sangat murni dan indah seolah-seolah saya lupa saya pernah hampir mati karena risiko yang begitu besar dari perasaan itu. Dan kalau ditanya orang lain, saya bisa bilang bahwa ini adalah jatuh cinta kedua yang saya rasakan setelah terakhir kali merasakannya di awal tahun 2007. Sepuluh tahun kemudian, akhirnya, saya kembali merasakan senyam senyum yang mengembang sepanjang hari.

Ya walaupun "(You) It's all that I've been thinking about", akhirnya beberapa waktu kemudian saya menemukan kalau "I heard there was someone but I know he don't deserve you". Jujur saya ingin bilang tepat di wajahnya "If you were mine I'd never let anyone hurt you, I wanna dry those tears, kiss those lips" setiap mendengar keluhannya tentang perasaanya atau kehidupan percintaannya. Tapi sekali lagi, semuanya tidak semudah itu.

Dan akhirnya setelah beberapa waktu, jauh sebelum bunga berkembang dan bermekaran, saya memetik bunga itu dan menyimpannya di tengah-tengah sebuah buku bacaan saya yang tebal. Berharap bunga yang belum berkembang ini mengering di buku tersebut, sama seperti perasaan saya yang harus saya redam secara terpaksa. Jauh lebih baik perasaan itu saya petik duluan sebelum kemudian mekar dan terjatuh ke tanah, terinjak. Dan akhirnya bunga mengering inilah yang saya simpan di buku bacaan saya, agar suatu hari saya bisa melihatnya lagi, mengingat kalau saya pernah merasakannya, itulah alasan saya menulis tulisan ini.

Kalau saya jadi bunga, saya akan bertanya kenapa saya harus dipetik sebelum mekar. Sama seperti saya yang bertanya, kenapa saya harus merasakan patah hati di saat-saat seperti ini; di usia saya yang sudah hampir 24 tahun, di usia di mana saya datang ke undangan pernikahan hampir setiap akhir pekan, di usia di mana ibu saya ingin saya punya pasangan, di usia yang saya juga merasa saya memang butuh pasangan, untuk hidup saya. Awalnya saya sempat merasa ini kurang adil. Tapi adil memang tidak berarti harus sama rata, kan?

Sampai hari ini saya masih ingin bilang "Can I be him?" di depan wajahnya sambil menghirup wangi parfumnya. Walaupun saya pasti tidak akan siap dengan jawabannya, karena itu lebih baik saya tidak bertanya. Untuk perempuan pujaan James Arthur dan seseorang yang saya dedikasikan tulisan ini, terima kasih telah mengepakkan sayap kupu-kupu di perut saya beberapa waktu terakhir, menorehkan senyum sepanjang hari, menyemangati perjalanan saya, dan membuat saya percaya kalau saya masih bisa jatuh cinta. Walaupun saya tidak punya nyali untuk bertanya langsung "Can I be him?", semoga tulisan ini mewakilinya.