Saturday, August 12, 2017

Most Important Event

Earlier this morning I did my final test on TOEFL iBT Preparation Course, and the writing section asked me to write one of the most important events have taken place in last 100 years in less than 300 words only in 30 minutes. So this is what I wrote.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------
I know that there are lot of important events that happened in last 100 years, but I believe that my graduation (February 19th, 2017) and Hippocratic Oath (April 13th, 2017) are the most important events in my last 23 years of life. Because they are my life turning point to whoever I became now.

Before I officialy graduated, I have 3 free months after my clinical year ended on November. I prepared for my graduation, my national examination and also did contemplation about my future. I took a long period to think and decide my next plans, whether to work as a medical doctor at a hospital, to take graduate school, or to take internship at certain hospital as initial step to take specialistic school. Finally I decided to take master degree in the next 2 years from now on.

Graduation and Hippocratic Oath are the points when I realize that by those time, I have my own responsibility about myself, more than previous one. Because I already graduated and sworn to be a medical doctor, a professional one, it is a huge responsibility to serve people with noble values, pure heart, and good attitude. It was the time when I realize that I as person have already became someone whom I never thought before, and I proud of myself.



It was also a time where I realize that I have to achieve certain level of settlement for myself, my family, and also my future family. I should be started to work, earn money, and pay my own bills. I should not asked for my parent's money anymore. At first it hooked me in the face that life has flew this far, but I'm grateful.

Monday, June 12, 2017

"I'm also just a girl, standing in front of a boy, asking him to love her." - Notting Hill


Sunday, May 21, 2017

I'm going

"Good luck for everything,
I'm looking down at you and I wish nothing but happiness.
I'm looking for smiles, laughs, and loves.
See you at your happy moments, dear.
Sorry, I'm going."

Jakarta, 21 July 2013

Saturday, May 20, 2017

"You took me back in time to when I was unbroken"

setelah berhasil membuat saya senyam senyum karena lagu manisnya yang berjudul Say You Won't Let Go, James Arthur kali ini berhasil bikin saya terpana sejenak setelah mendengarkan single barunya, Can I Be Him

disclaimer: sejujurnya saya sangat jarang mendengarkan lagu-lagu terkini, ada beberapa daftar lagu yang senang saya putar seharian dan berulang-ulang saking sukanya, tapi pastinya bukan lagu terkini karena selera musik saya dan cukup spesifik. ada banyak kriteria sih, tapi 2 dari banyak itu adalah: saya hanya suka lagu-lagu dari band/penyanyi/duo laki-laki dan jarang sekali suka lagu-lagu dari Amerika, jauh lebih suka dari Inggris. Nah, walaupun James Arthur penyanyi terkini, tapi kan dari Inggris... jadi ya masih masuk kriteria.

"You walked into the room / And now my heart has been stolen / You took me back in time to when I was unbroken / Now you're all I want / And I knew it from the very first moment / Cause a light came on when I heard the song / And I want you to sing it again."

"I heard there was someone but I know he don't deserve you / If you were mine I'd never let anyone hurt you / I wanna dry those tears, kiss those lips / It's all that I've been thinking about / Cause a light came on when I heard that song / And I want you to sing it again."

Diatas adalah 2 penggal bait yang berhasil bikin saya yang pagi-pagi sedang siap-siap ke kantor diam sejenak dan mengecek handphone saya lagu apa yang sedang diputar secara acak di youtube. "Oh... James Arthur ya? Can I Be Him ya judulnya?" Duh ini remeh temeh sekali tapi saya ingin bilang saya sedang merasakan apa yang lagu ini coba ceritakan. 

Sampai beberapa waktu lalu, saya masih saya yang tidak punya pasangan, lelaki yang diidamkan, apalagi rencana untuk mengakhiri masa lajang. Saya adalah saya yang telah merencanakan hidup saya sematang mungkin setahun hingga lima tahun ke depan, dan tidak ada menikah dalam perencanaan itu. Saya adalah saya yang semakin skeptis terhadap konsep cinta, jodoh, pertemuan, dan kasih sayang yang dulu sempat saya agung-agungkan. Saya adalah saya yang sudah mulai 'menyerah' mencari dan inginnya dipertemukan di waktu yang tepat sesuai dengan rencana-Nya. Sampai suatu hari sesuai dengan lirik lagu itu "You walked into the room, and now my heart has been stolen, you took me back in time to when I was unbroken."

Tiba-tiba saya jadi sangat bersemangat, berapi-api, dan meluap-luap. Dan herannya lagi... "Now you're all I want, and I knew it from the very first moment." Kok saya bisa suka orang lain pada pandangan pertama, ya? Dan kemudian rasa suka itu meningkat, membuncah, membumbung, dengan frekuensi yang ternyata sama. Akhirnya radio pembicaraan kami pun saya putar setiap hari.

Setelah merasakan apa yang saya bilang dengan "You took me back in time to when I was unbroken", jujur saya benar-benar bingung kenapa saya bisa jatuh pada orang baru ini. Terlebih lagi dia berhasil membawa saya pada perasaan berbunga-bunga yang sangat murni dan indah seolah-seolah saya lupa saya pernah hampir mati karena risiko yang begitu besar dari perasaan itu. Dan kalau ditanya orang lain, saya bisa bilang bahwa ini adalah jatuh cinta kedua yang saya rasakan setelah terakhir kali merasakannya di awal tahun 2007. Sepuluh tahun kemudian, akhirnya, saya kembali merasakan senyam senyum yang mengembang sepanjang hari.

Ya walaupun "(You) It's all that I've been thinking about", akhirnya beberapa waktu kemudian saya menemukan kalau "I heard there was someone but I know he don't deserve you". Jujur saya ingin bilang tepat di wajahnya "If you were mine I'd never let anyone hurt you, I wanna dry those tears, kiss those lips" setiap mendengar keluhannya tentang perasaanya atau kehidupan percintaannya. Tapi sekali lagi, semuanya tidak semudah itu.

Dan akhirnya setelah beberapa waktu, jauh sebelum bunga berkembang dan bermekaran, saya memetik bunga itu dan menyimpannya di tengah-tengah sebuah buku bacaan saya yang tebal. Berharap bunga yang belum berkembang ini mengering di buku tersebut, sama seperti perasaan saya yang harus saya redam secara terpaksa. Jauh lebih baik perasaan itu saya petik duluan sebelum kemudian mekar dan terjatuh ke tanah, terinjak. Dan akhirnya bunga mengering inilah yang saya simpan di buku bacaan saya, agar suatu hari saya bisa melihatnya lagi, mengingat kalau saya pernah merasakannya, itulah alasan saya menulis tulisan ini.

Kalau saya jadi bunga, saya akan bertanya kenapa saya harus dipetik sebelum mekar. Sama seperti saya yang bertanya, kenapa saya harus merasakan patah hati di saat-saat seperti ini; di usia saya yang sudah hampir 24 tahun, di usia di mana saya datang ke undangan pernikahan hampir setiap akhir pekan, di usia di mana ibu saya ingin saya punya pasangan, di usia yang saya juga merasa saya memang butuh pasangan, untuk hidup saya. Awalnya saya sempat merasa ini kurang adil. Tapi adil memang tidak berarti harus sama rata, kan?

Sampai hari ini saya masih ingin bilang "Can I be him?" di depan wajahnya sambil menghirup wangi parfumnya. Walaupun saya pasti tidak akan siap dengan jawabannya, karena itu lebih baik saya tidak bertanya. Untuk perempuan pujaan James Arthur dan seseorang yang saya dedikasikan tulisan ini, terima kasih telah mengepakkan sayap kupu-kupu di perut saya beberapa waktu terakhir, menorehkan senyum sepanjang hari, menyemangati perjalanan saya, dan membuat saya percaya kalau saya masih bisa jatuh cinta. Walaupun saya tidak punya nyali untuk bertanya langsung "Can I be him?", semoga tulisan ini mewakilinya. 

Saturday, April 22, 2017

Kenapa?


  • Kenapa harus magang di Konsultan Komunikasi? 
  • Kenapa bukan magang di Rumah Sakit? 
  • Kenapa tidak jaga klinik saja sebagai dokter pengganti?
  • Kenapa harus jauh-jauh ke Kuningan untuk ngantor? 
  • Kenapa harus susah payah naik Transjakarta untuk ke kantor pagi dan sore berdesakkan?


Pertanyaan ini sudah banyak yang menanyakan kepada saya dan inilah jawaban saya yang saya rangkum dalam sebuah blogpost. Saya akan mencoba menjawabnya menggunakan 5W + 1H. Mulai dari kenapa saya magang, kapan waktu saya magang, dimana saya magang, siapa saya sesungguhnya yang membuat saya magang, apa yang menjadi tujuan saya, dan bagaimana magang ini berdampak untuk saya.

Why?
Saya suka dengan dunia komunikasi sebagai industri sejak SMA, saya sempat ingin melanjutkan ke pendidikan jurusan komunikasi namun orang tua saya tidak merestui keinginan tersebut. Saya juga tertarik dengan isu sosial, politik, ekonomi, kesejahteraan, dan kesehatan yang merupakan konsumsi obrolan saya sehari-hari. 

When?
Saya punya waktu kosong kurang lebih 6 bulan sejak selesai Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) hingga menuju keberangkatan ke tempat internship sebagai dokter internship, saya memilih magang selama 2 bulan, mulai pertengahan Mei sampai akhir Juni.

Where?
Karena saya sudah pernah belajar otodidak tentang komunikasi dan mendalami pembahasan isu yang saya gemari selama 5 tahun lamanya di Sinergi Muda dan Indonesian Youth, saya mencoba belajar di wadah yang lebih terstruktur yaitu perusahaan, pilihannya agensi atau konsultan. Setelah saya teliti dan cari, kantor tempat magang saya adalah perusahaan konsultan yang sangat terstruktur dan isu yang dibahas adalah ekonomi dan sosial, politik, oil and gas, energy, mining, finance and insurance, palm oil, hal-hal yang saya suka. 

Who?
Tujuan akhir saya adalah menjadi saya yang lebih baik dan seseorang yang berbeda dari lainnya. Yang membedakan satu orang dan lainnya adalah pengalamannya. Kita bisa menempuh pendidikan yang sama persis, tapi keberanian mengambil pengalaman lain membuat kita lebih cakap di bidang yang kita gemari.

What?
Karena berkaitan dengan mimpi saya menjadi seorang expert di bidang Health Administration, saya yakin saya perlu terbiasa dengan proses, birokrasi, administrasi dan policy-making. Services di kantor ini yang saya pelajari: public affair, stakeholder management, dan media relation. Saya juga harus belajar budaya bekerja di perusahaan atau organisasi pemerintah. Dan saya memaksa diri saya untuk mempelajarinya.

How?
Langkah ini kecil, saya tidak tahu tepat atau tidak. Yang saya tahu ini langkah yang harus saya tempuh sebelum saya melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Ini akan menjadi sebuah momentum saya keluar dari zona nyaman saya selama ini, dan saya bangga pada diri saya dapat melakukannya.

Demikian, semoga cukup menjawab pertanyaan,

Sunday, January 08, 2017

Romantic Comedy Movie from 20th Century

         Selain membaca, menonton film mungkin salah satu hobi yang hampir setiap hari saya lakukan dengan senang hati, bukan cuma untuk hiburan saja tapi banyak sekali yang bisa saya pelajari dari sebuah film. Ketemu orang yang sesuai untuk diajak ngobrolin film juga pasti membahagiakan kan, percaya atau tidak tapi selera film bisa memudahkan koneksi antar dua orang, karena saya bisa berjam-jam membicarakan film atau serial yang saya suka dengan satu orang tertentu sampai dengan gossip terbaru pemerannya.
Beberapa hari terakhir saya senang sekali menonton film-fim Hollywood tahun 80an dan 90an. 90an mungkin terdengar belum terlalu jauh ya tapi kalau dilihat dari film-film produksinya, sangat berbeda menurut saya. Nah bicara tentang genre, kayaknya ketebak kalau saya suka sekali genre komedi romantis. Karena ya, cewek banget dan indah untuk ditonton, walaupun abis nonton bisa mewek karena ingin punya cerita yang sama. Nah setelah ini, saya akan sedkit cerita beberapa film romcom (romantic comedy) favorit saya. Saya tidak akan menceritakan jalan cerita filmnya karena bisa dengan mudah didapat di Wikipedia, jadi saya akan banyak cerita tentang pandangan saya tentang filmnya.

Notting Hill (1999)

Sepertinya ini tontonan wajib penggemar romcom, deh. Disini Julia Roberts muda, cantik, dan benar-benar menggemaskan. Mungkin jalur ceritanya sedikit tidak realistis yah tapi namanya juga cinta semua ya bisa saja. Film ini juga indah karena berlatar Inggris dan saya suka sekali aksen British. Walaupun Hugh Grant adalah salah satu aktor Inggris paling sukses, tapi saya tetap lebih suka Colin Firth (efek Bridget Jones, nih). Dialog antar pemaindi film ini ada yang ringan, lucu, dan sarkas tapi ada juga yang mendalam. Ada beberapa parafrase dalam dialog film ini yang tambah bikin manis hubungan antara Anna dan William. Bagian terbaik menurut saya adalah ketika Anna dan Will bertengkar di rumah Will setelah ratusan wartawan muncul karena teman sekamar Will memberitahu orang lain keberadaan Anna. Disini mereka jadi bisa melihat masing-masing kekurangan yang mereka miliki dalam mebangun hubungan, kemudian menerima, dan melihat perbedaan itu apakah bisa menyatukan mereka, huhuhu. Oh ya kebiasaan saya kalau nonton film British adalah sedia kamus sambil nonton film supaya kata yang mereka pakai dan saya tidak tahu artinya tidak berlalu begitu saja.

As Good As It Gets (1997)

Kalau ini juara sih! Jujur film ini berat bagi saya, saya sampai harus istirahat di tengah film untuk mengembalikan energi dan mood saya untuk nonton lagi karena rasanya sudah terkuras di setengah film. Konfliknya luar biasa, sebenarnya ringan tapi bisa jadi kuat karena akting pemainnya yang bagus sekali. Saya benar-benar bisa kesal dengan Melvin yang kaku, kasar, dan selalu mengenyahkan orang yang baik di dekatnya. Tapi juga bisa tersentuh saat Melvin melakukan kebaikan kepada tetangganya yang membencinya. Melvin yang juga memiliki penyakit OCD membuat saya benar-benar merasakan kecemasannya yang membuatnya menderita kadang. Saya juga bisa merasakan jadi Carol yang lemah, berantakan, insecure, tapi punya keinginan yang kuat untuk menjadi ibu dan perempuan yang baik untuk keluarganya. Dialog di film ini jujur kuat banget, dan saya tipe orang yang suka film dialog jadi… Tidak akan ada satu dialog pun yang akan saya lewatkan. Bagian terbaik menurut saya ketika Melvin, Carol dan Simon pergi ke Baltimore dan menemukan banyak hal baru diantara mereka, perhatikan dialog mereka, bagus-bagus sekaliii dan ketika Melvin dan Carol bertengkar, saya merasa senang mereka bisa mengeluarkan pandangan mereka tentang diri mereka masing-masing. Menarik, deh.

When Harry Met Sally (1989)


Film ini sudah lama sekali ingin saya tonton, big expectation sebelum nonton, and turns out yaaa not impress me that much. Semua orang sangat bisa berada dalam posisi Harry dan Sally, atau mungkin malah selama ini kita terjebak dalam hubungan seperti mereka? Film ini sebenarnya cukup datar karena ceritanya baru akan berubah ketika di akhir film, konflik lebih banyak muncul dari dalam diri Harry maupun Sally untuk mengakui bahwa mereka saling suka dan sulit untuk tidak berdekatan, ya sampai akhirnya Harry yakin kalau dia tidak bisa hidup tanpa Sally. Bagian terbaik menurut saya ketika Harry dan Sally bertengkar di pinggir jalan di depan apartemen sahabat mereka yang akan menikah, emosi yang mereka tanam bertahun-tahun akhirnya tumpah disitu. So, is it true that woman and man are really can’t be friends?

You’ve Got Mail (1998)

Nah kalo ini saya suka banget karena latar filmnya New York City sekaliii. Walaupun dua film diatas dan dibawah juga berlatar New York, tapi di film ini NYC sangat terekspos keramahan dan keindahannya. Menonton film ini saya banyak senyam senyum karena merasakan kekaguman Joe ke Kathleen dan sebaliknya, betapa mereka menemukan kecocokan yang sangat dalam pada teman chatnya di internet yang ternyata di kehidupan aslinya mereka bermusuhan. Oh ya mungkin ini film romcom Tom Hanks yang paling saya suka karena disini Tom Hanks digambarkan sempurna menurut saya. Bagian terbaik menurut saya ada di akhir cerita tentunya ketika mereka berjanji bertemu di Taman Riverside, rasanya semua emosi yang sudah tersimpan sepanjang film berhasil terluapkan di bagian ini, dan saya pun berkaca-kaca bahagia karena akhirnya mereka sealing menemukan, dan lebih manis lagi Kathleen berkata, “I wanted it to be you, I wanted it to be you so badly.”

Sleepless in Seattle (1993)

Ini adalah film yang mempertemukan Tom Hanks dan Meg Ryan kedua yang telah saya tonton. Yang saya suka dari film ini adalah karena Tom Hanks berhasil menjadi semenyedihkan itu dan Meg Ryan berhasil menjadi sekuat itu untuk mengikuti kata hatinya, ya… ngga banyak lho orang yang mau mengorbankan banyak hal demi kata hati. Sudah banyak sih film yang menunjukkan kalau mengikuti kata hati itu lebih baik, misalnya kalau di New Year’s Eve, Josh Duhamel dan Sarah Jessica Parker ketemu lagi di satu titik setelah berjanji di malam tahun baru sebelumnya, karena mereka percaya kata hati mereka. Tapi di film ini beda, Annie benar-benar bisa mengambil keputusan penting dan akhirnya bertemu dengan cinta sejatinya. Bagian terbaik adalah ketika Annie berkunjung ke Seattle dan lihat-lihatan dengan Sam dari pinggir jalan. Ini manis, menyedihkan, nanggung, tapi saya sangat suka momen ini.

Kalau dilihat-lihat, film romcom tahun 80an dan 90an adegan seksnya minim sekali dan bisa menunjukkan perasaan yang kuat dari para pemainnya, mungkin itu yang buat saya ketagihan menonton film romcom dari tahun tersebut. Film-filmnya sangat bisa dinikmati, alurnya yang pelan membuat saya bisa mengembangkan emosi terhadap film dengan baik dan tuntas, endingnya juga manis manis dan sering diluar dugaan endingnya akan seperti itu.

Selain 5 film diatas, ada juga beberapa film romcom tahun 80an dan 90an yang sudah saya tonton, belum banyak sih, tapi sejauh ini favorit saya 5 diatas. Mungkin nanti kalau saya sudah nonton film lainnya daftar tersebut bisa saja berubah. Oh ya saya juga menerima saran film romcom apa yang harus saya tonton, walaupun saya juga sudah punya daftar sendiri dan banyaaak sekali, hehe. Jadi apa film romcom jadul favorit kamu?

Saturday, January 07, 2017

If you can dream it, you can do it

Saya yakin banyak sekali yang sudah pernah mendengar quote “If you can dream it, you can do it.” Yang dengan mudah dapat menggebu semangat kita untuk mencapai mimpi-mimpi karena kalau bisa dijadikan impian, pasti suatu saat hal tersebut bisa terwujud. Nah, saya punya pengertian yang sedikit berbeda tentang quote ini.
Dari kecil mungkin ibu saya sudah sadar kalau saya anak yang punya banyak mimpi. Dan setiap saya mengutarakan sebuah mimpi ke ibu saya, beliau selalu menasihati berbagai macam kata-kata untuk mengusir keraguan atau keinginan saya untuk menyerah dan mundur, seperti…
“Berprasangka baik-lah kepada Allah, jangan mikir kalau ngga tercapai duluan…”
“Kalo kamu bisa jadikan itu impian, pasti itu bisa juga jadi kenyataan…”
“…dan lain-lain.”
Kemudian setelah terbiasa dengan kata-kata ibu saya, saya menemukan quote “If you can dream it, you can do it.” Awalnya saya berpikir “Wah ini kata-kata ummi!” Hahaha. Karena sudah terbiasa dengan kata-kata itu dan improvisasi khas ibu saya, saya mulai memaknai quote tersebut dengan cara berbeda.

Dari kecil sampai sekarang, saya merasa saya sangat tergerak oleh mimpi saya sendiri, karena orang tua saya tidak pernah mengatur hidup saya secara spesifik, saya jadi selalu ‘liar’ menentukan saya akan sekolah dimana, belajar apa, beli buku apa, baca artikel apa, mau kemana, berteman dengan siapa, merantau ke kota mana, dan hal-hal lain yang terbiasa saya tentukan sendiri kemudian akan dikritisi oleh orang tua saya kalau saya salah jalur. Saya bersyukur saya dibesarkan di keluarga yang membiarkan saya bermimpi, bukan hidup dengan mimpi-mimpi orang tua saya.

Setelah saya lihat kembali ke belakang, kebanyakan dari mimpi-mimpi saya yang sangat kuat, Alhamdulillah tercapai. Dan saya selalu punya mimpi yang spesifik, kalaupun hasilnya bergeser sedikit dengan tujuan utama saya, itu adalah jalan Allah menunjukkan yang terbaik untuk saya, jadi saya tidak bersedih, everything happen for a reason, isn’t it? Dan setelah saya hitung-hitung dan perhatikan, mimpi saya tidak pernah terlalu liar, tidak pernah terlalu tinggi, tidak pernah terlalu mustahil, bisa disimpulkan bahwa… Still on my league. Nah ini yang membuat saya sadar.

Saya sadar kalau saya memutar balik quote “If you can dream it, you can do it”, menjadi “I want to do it, so I dream it.” Jadi, biasanya saya terlebih dahulu menginginkan sesuatu, menghitung dengan cermat probabilitas mimpi tersebut, mengukur kemampuan saya dan keluarga saya dalam segala hal, melakukan riset mendalam, menjemput beberapa kemungkinan, lalu kemudian saya menentukan suatu hal menjadi mimpi saya. Kalau saya tidak ingin-ingin banget terhadap sesuatu, saya tidak akan memimpikannya. Hal ini yang membuat saya memiliki impian yang selalu tertakar, sesuai dengan diri saya, dan akhirnya… ya, pada akhirnya dapat tercapai Alhamdulillah.

Sampai saat ini saya belum punya impian untuk keliling eropa, ya jelas karena orang tua saya tidak punya uang untuk liburan keliling eropa dan saya sedang tidak berada dalam sebuah kemungkinan untuk bisa keliling eropa. Tapi saya sedang punya mimpi untuk bisa magang di kantor PBB di New York, Amerika Serikat dan saya telah menghitung berbagai kemungkinan dan menetapkan beberapa pilihan yang bisa menjadi jalan saya untuk dapat magang disana, saya akan menjemput berbagai kemungkinan karena ada quote yang bilang “If opportunity doesn’t knock you, build a door.” Kita harus menjemput mimpi kita!

Salah satu kelemahan saya dalam bermimpi adalah insecurity saya terhadap diri saya sendiri. Mudah sekali ditebak bukan? Seluruh ke-skeptis-an saya terhadap mimpi sesungguhnya berangkat dari insecurity saya, makanya saya harus membuat batasan terhadap mimpi-mimpi saya. Well, who am I? Why do I have to limit myself? Terdengar konyol kadang-kadang kalau saya harus selalu hidup dalam keteraturan, semua harus terorganisir, bahkan dalam bermimpi. Tapi sejauh saya hidup, bermimpi dengan jalur yang saya bangun adalah impian yang pasti akan terwujud suatu saat nanti, karena setiap mimpi memang harus diubah menjadi rencana, bukan?
          

Sunday, January 01, 2017

"Kak Coasssssssss...!" part 2

Setelah cerita coass tahun pertama di postingan berikut ini, saya ingin cerita tentang coass tahun kedua. Di tahun kedua, stase yang saya lewati tentunya tidak sebanyak pada tahun pertama, ya karena stase saya lebih banyak minor dibandingkan mayor dan sudah saya lewati banyak di tahun pertama, sehingga tahun kedua lebih fokus ke stase mayor dan stase penting. Mari kita mulai…

Sebelumnya, saya harus menjelaskan beberapa perbedaan yang ada di kampus saya. Jadi setelah saya hitung-hitung, total stase saya selama coass 2 tahun adalah 18 stase, wow kan! Mulai dari minor: kulit dan kelamin, mata, telinga hidung dan tenggorokan, geriatri, saraf, paru, anestesi, emergency, jantung, forensik, dan psikiatri. Kemudian stase mayor: kebidanan dan kandungan, ilmu penyakit dalam, anak, dan bedah. Ada juga stase elektif selama 1 bulan dimana coass akan dipilihkan stase elektif yang pilihannya ada: radiologi di RSUP Fatmawati (2 minggu), rehab medik di RSUP Fatmwati (2 minggu), RS Ketergantungan Obat (4 minggu dan harus sudah melewati stase Psikiatri), Orthopedi di RSUP Fatmawati (4 minggu dan harus sudah melewati stase bedah). Karena saat masuk waktu stase elektif saya belum lewat Psikiatri dan Bedah, akhirnya saya dapat Radiologi dan Rehab Medik. Kemudian ada juga stase IKK (Ilmu Kedokteran Keluarga) selama 5 minggu, ditempatkan di Puskesmas. Dan ada 2 kali stase Dokter Muslim di kampus masing-masing 2 minggu.  

1. Radiologi (Elektif)
Saya beryukurrr sekali masuk elektif stase ini karena banyak pengulangan dari stase lainnya tapi sekaligus menguatkan ilmu dan ingatan saya. Yang awalnya saya udah merasa paham banget baca rontgen paru, disini dilatih abis-abisan sampai jagooo. Saya yang selalu belum bisa membedakan obstruksi usus, disini bisa lancar. Saya juga dapat tugas referat tentang arthritis dan berguna sekali untuk saya. Selama 2 minggu saya dibimbing mulai dari baca USG, CT scan, MRI, rontgen thorax, rontgen tulang, BNO IVP, dan banyak pemeriksaan lainnya yang saya belum ngerti karena belum lewat stasenya (haha!), tapi pas sampai di bedah… “Wah ini kan yang waktu itu di Radiologi!” Kegiatan selama stase ini diisi dengan bimbingan berbagai topic dengan konsulen, mengikuti kegiatan konsulen bergantian, dan presentasi referat yang dilakukan berkelompok. Konsulennya bener-bener baik-baik banget, peduli dan mengajari, ujian akhirnya OSCE, Alhamdulillah hasilnya bagus.

Bersama konsulen super baik dan peduli dengan coass-nya. Salah satu stase terbaik di Fatmawati.

2. Rehab Medik (Elektif) 
Awalnya bingunggg banget Rehab Medik itu apa. Tapi setelah melewatinya, jadi merasa Rehab Medik itu luar biasa komprehensif dan konsulennya pintar, kreatif, dan yang pasti sabar luar biasa. Mereka adalah orang-orang mulia yang ingin mengoptimalkan fungsi seorang manusia sampai maksimal. Salut bener-bener salut. Disini saya banyak belajar melihat sebuah kasus dengan menyeluruh, belajar melakukan edukasi yang baik kepada pasien, belajar peduli lebih lagi, dan bersyukur Allah selalu memberikan kesehatan. Kegiatannya banyak diisi dengan bimbingan topik yang asing bagi saya sejujurnya, kegiatan poli dengan konsulen, presentasi kasus, ujian akhirnya ujian tulis dan Alhamdulillah lulus.

Not a proper photo. Kalau mau cari yang proper, orangnya sama kayak foto sebelumnya.

3. Forensik
Stase ini menakutkan ya, terutama untuk yang cewek cewek, kayak saya. Stase forensik saya lalui selama 4 minggu, dibagi 2 waktu. 2 pekan di RSUP Fatmawati terlebih dahulu, 2 pekan sisanya di RS Polri Raden Said Sukanto. Jaga forensik sih harusnya sendiri-sendiri di RSUP Fatmawati, tapi saya selalu jaga berdua bareng Tiara karena takut aja kalau malam-malam ada panggilan untuk PL (Pemeriksaan Luar) atau PD (Pemeriksaan Dalam) dan harus jalan di lorong rumah sakit sendirian… PL atau PD sendirian. Memang sih jaganya jadi lebih sering tapi karena saya kalau jaga ‘wangi’ banget alias sepi, jadinya paling sore atau abis maghrib gitu dapet 1 PL dan sisanya bobo cantik di ruang coass. Alhamdulillahnya juga selalu dapet mayat yang fresh, ngga ribet luka-lukanya, ngga bau, ngga busuk, atau apapun. Alhamdulillah selalu dimudahkan. Dan hebatnya selama di RSUP Fatmawati saya ngga pernah PD (otopsi) sekali-pun! Hahaha rezeki banget kan!!! Pernah sekali aja PD bayi yang dibuang dan sudah disimpan 2 minggu di freezer trus kita PD bareng-bareng 2 konsulen siang-siang dan akhirnya dijadikan pasien ujian kasus ya, how lucky I am! Nah, di RS Polri, ketemu anak-anak FK dari Yarsi dan UMJ. 2 minggu yang menyenangkan karena selama saya jaga disana kurang lebih ber6, saya ngga pernah PL atau PD sekalipun! Padahal kan itu RS Polri ya… Tempat semua mayat-mayat bencana, teroris, pembunuhan, perampokan, kasus-kasus yang disiarkan di TV biasanya diotopsi disana karena disitu tempat forensik paling canggih di Jakarta, ada laboratorium DNA juga. Akhirnya selama berkali-kali jaga, saya hanya kebagian visum hidup yang… Jumlahnya lumayan juga sih, satu malam bisa 4-6 visum hidup. Tepar bolak balik dari ruang coass ke tempat visum hidup tapi karena ramai jadi bisa gantian. Karena jaga disana selalu ‘wangi’ juga ngga pernah PL atau PD, jadi kebanyakan saya… Makan atau main UNO. Dan selalu menang tiap main kartu UNO sampai yang lain bilang, “Udahlah Anzak gausah ikutan main UNO aja, menang terus dia…” Hahaha.

Di sela-sela PL dan PD bayi, yuk lah...

4. Dokter Muslim Klinik 1 
Kegiatannya banyak diisi dengan kuliah dan diskusi berkelompok. Ada juga beberapa tugas kelompok. Yang menarik ya… Ada kuliah tentang hukum nikah di stase ini, hahaha. Tugas akhirnya adalah kita diminta membuat Poskestren atau Pos Kesehatan Pesantren dan kunjungan ke sebuah pesantren.
Selesai stase dokmus klinik pertama, foto sambil silau di depan ruang kuliah.

5. Ilmu Kedokteran Keluarga (IKK) 
Nah di stase ini saya harus bolak balik Cilandak ke Tigaraksa, Tangerang selama 4 minggu lebih karena kegiatan sehari-hari saya di Puskesmas. Ada juga kegiatan presentasi, membuat portofolio, dan tugas kelompok lainnya yang fokusnya dilakukan di kampus tiap hari jumat. Yang jadi highlight utama sih capeknya bolak balik Cilandak-Tigaraksa daaaaan borosnya bensin tol jajan dan tugas-tugas. Tapi banyak hal baru juga yang saya pelajari, saya jadi tahu rasanya –betapa saya ngga mau- kerja di Puskesmas. Lalu juga bisa melayani pasien langsung di berbagai poli, bisa ke posyandu, ikut ke bakti sosial, ikut kader ke daerah terpencil, dan saya jadi sadar kalau tidak jauh dari Jakarta, hanya di Tangerang yang bisa ditempuh 1,5 jam dengan kendaraan darat, keadaan kesehatan warganya jauuuh sekali dari di Jakarta. Saya juga jadi gemas dan tiap hari marah-marah dengan ibu-ibu yang menurut saya tidak siap menjadi ibu karena anaknya sudah 12 bulan tapi belum bisa jalan misalnya karena ibunya tidak melatih. Saya selalu suka ilmu parenting dan begitu saya melihat banyak anak-anak yang terlambat pertumbuhan atau perkembangannya karena orang tuanya yang kurang melatih, saya jadi gemasss. Apalagi kalau liat anak-anak di bawah 2 tahun masuk ruang poli anak sambil makan micin atau es, pasti langsung saya suruh buang. Ya maafkan kalau saya cerewet, tapi saya juga akan jadi ibu… Nah hal lain yang menarik perhatian saya adalah betapa masih banyak warga yang percaya dengan mitos atau kepercayaan tertentu tentang kesehatan. Dan satu lagi, tetanus neonatorum masih ada lho guys! Ini adalah kasus yang saya temukan saat home visit, walaupun saat saya kunjungi bayi tersebut sudah sembuh setelah di rawat sebulah di RS. Tapi ya, kasusnya persis seperti di buku! Dan faktor risikonya apa? Karena bersalin di paraji… Padahal ada bidan desa tapi tetap mau lahiran di paraji. Kalau gini ceritanya gimana ngga ngomel-ngomel sama ibunya?! Hahaha

Setelah penyuluhan pesantren tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Tigaraksa, Tangeran

6. Dokter Muslim Klinik 2 
Disini saya banyak habiskan dengan kuliah, beberapa tugas kelompok dan individu, ada juga ujian kultum dan ujian mengaji. Nah cerita menarik dari stase ini, waktu itu saya dan teman-teman diminta menonton film Indonesia Alif Lam Mim, lalu diminta membuat resensinya. Nah karena saya suka menulis dan berbekal ilmu membuat resensi dari ekskul jurnalistik saya saat SMP, saya mengajukan diri untuk menulis resensinya mewakili teman sekelompok saya, kemudian saya kumpulkan. Saat akan dipresentasikan, saya melihat konsulen saya yang saat itu menjadi Kepala Program Studi memilih kelompok yang beliau tunjuk untuk maju, saat melihat hasil resensi kelompok saya beliau berkata yang intinya beliau menilai tugas kelompok saya itu merupakan hasil copy paste dari internet karena bahasanya terlalu tinggi. Akhirnya beliau memilih hasil resensi teman saya. Rasanya saat itu saya seperti diinjak-injak haha karena karya buatan saya dibilang hanya copy paste. Jujur saya kecewa. Akhirnya setelah beberapa saat penuh kegalauan, saya memberanikan mengirim whatsapp super panjang ke beliau yang menyatakan bahwa karya tersebut murni karya saya dan membandingkan resensi tersebut dengan contoh tulisan saya yang lainnya, kemudian saya juga memberi tahu penulis favorit saya sebagai gambaran orang yang berpengaruh dalam gaya saya menulis, dan tentunya, betapa saya tidak suka dikatakan copy-paste karya orang lain. Surprisingly, beliau merespon sangat baik, dan beliau menerima pernyataan saya. And more surprising is… stase dokter muslim saya dua-duanya dapet A! Serius padahal saya ngga ngapa-ngapain selama dokmus, hahaha.

7. Anak 
Saya takut bagian ini akan jadi panjaaang banget, jadi saya mau sederhanakan saja. Intinya, stase ini susah banget untuk dilalui dan lulus dari stase ini adalah anugerah untuk saya. Seminggu pertama masih bingung mau balajar apa dulu karena ada 5 pilar yang harus dikuasai di minggu pertama: pemeriksaan fisis, imunisasi, tumbuh kembang, gizi, dan apa ya satu lagi lupa, haha. Minggu berikutnya udah panik ngejar berbagai deadline dan tugas-tugas. Minggu kelima lewat dan panik udah deket ujian. Minggu 7 dan 8 ngejar berbagai tugas sambil belajar ini itu. Minggu 8, 9, 10 lebih banyak saya habiskan di RS karena saya sering sekali nginep di ruang coass karena biasanya kegiatan dimulai pagi jam 5/6 kemudian selesai jam 5 sore, lanjut belajar kelompok selesai jam 8/9, dan sudah terlalu malas balik ke kosan akhirnya saya nginep di RS. Pokoknya hidup saya bener-bener di RS sampai-sampai perawat suka tanya, “Ini kosannya udah pada pindah kesini atau gimana?” Yaaa pokoknya berdarah-darah lah. Stase ini juga akhirnya saya nangis! Waktu itu saya mau ujian OSCE stase anak, tapi malamnya disaat orang lain belajar saya jaga IGD (dan pastinya ngga ada yang mau tukeran dong!), dan entah kok malah IGDnya agak rame… akhirnya saya baru bisa balik ke ruang coass jam 2 pagi dan balik ke IGD lagi jam set5, saya cuma sempat tidur 2 jam lalu setelah cek IGD aman, saya mandi dan siap-siap, jam 7 pagi konsulen saya sudah visit dan beliau minta langsung lanjut ke poli. Saya di poli sampai jam setengah 2 siang padahal saya ujian OSCE jam 2. Begitu sampai ruang coass jam 2 kurang untuk sholat dzuhur, saya nangis sebentar karena merasa capeeek banget dan mikir “Why on earth this has to be happened to me?” Bahkan sambil wudhu sambil nangis, hahahahahaha. Akhirnya semua bisa dilalui hingga ujian pasien saya yang bagaikan keajaiban dapat 2 penguji combo yang kalau kata orang ‘Penguji Anak Sholeh’ karena dua-duanya dikenal baik. Dan saya-lah orang yang dapet penguji anak sholeh itu! O indahnya… Hasil yudisium: Alhamdulillah lulus. Rasanya? Bahagia.

Cengar cengir selesai OSCE, padahal super deg-degan sama hasilnya.

8. Bedah 
Ini panjanggg banget sih kalo diceritain. Intinya: capek. Inti kedua: buang duit banget. Inti ketiga: tak terlupakan. Inti keempat: senang. Mungkin untuk yang tahu akun instagram saya, saya banyak sekali menyemangati diri sendiri selama stase ini karena… saya merasa saya perlu! Haha bedah rasanya kayak ngga napak di lantai karena bukan cuma capeknya, tapi tanggung jawabnya, tugasnya, dan hukumannya kalau ada yang terlewat. Rasanya selama bedah benar-benar tidak tenang. Tapi tenang saja… Hanya 10 minggu. Harus berikan yang terbaik karena jangan sampai jadi 20 minggu alias ngga lulus bedah. Di bedah saya bisa bilang SAYA GENDUT BANGET karena benar-benar makan apapun asalkan jangan sakit. Di stase ini saya juga dikunjungi ibu saya sekali karena ada long weekend, saya juga ulang tahun di stase ini, dan saya harus kehilangan pekerjaan sampingan saya karena sibuknya jaga bedah. Tapi saya bisa bilang selama bedah saya banyakkk sekali dapat keuntungan atau rezeki yang tidak saya duga dan selaluuu bersyukur, rezeki bukan cuma tentang uang ya, diberi nilai mini cex pada pertemuan pertama oleh konsulen yang sulit sekali ditemui buat saya itu rezeki yang luar biasa, lho. Karena teman-teman saya bahkan harus mengejar berminggu-minggu setelah bedah untuk ketemu beliau. Ya, musibah atau cobaan ya juga banyak tapi gausah diitung lah. Oh ya, selama bedah saya juga berhasil ngga dapet kartu kuning sama sekali, Alhamdulillah. Salah satu penyebab ketidaklulusan luar biasa dari bedah adalah ujian tulis yang syukurnyaaa saya lulus ujian tulis, kok bisa? Ngga tau juga. Nah ujian pasien dibagi 2, minor dan mayor. Ujian minor saya diuji oleh 2 konsulen malaikat, pasien ujian saya juga baikkk banget. Ujian mayor saya nih yang agak-agak, penguji saya dua-duanya lumayan berat lah, bahkan di ujian pemeriksaan fisik saya ditinggal oleh penguji saya, entah kenapa. Dan di ujian diskusi saya sempat diskusi 2 jam dan itu saaangat panjang. But still, rezeki harus selalu disyukuri, dan musibah/cobaan ngga usah diitung. Akhirnya saya dinyatakan lulus bedah, unbelievable! But I’m so grateful. Oh ya saya ngga pernah nangis selama stase ‘gila’ ini.
Ini belum semua teman satu stase bedah karena sekelompok kita ber-30, tapu cukup mewakili.


9. Psikiatri
Stase terakhir saya, cihuy! Saya habiskan 1 pekan di RSUP Fatmawati dengan kegiatan kuliah dan role play.  3 pekan berikutnya di RS Marzoeki Mahdi, Bogor. Di stase ini saya banyak belajar tentang apa sih yang orang bilang dengan ‘orang gila’, berusaha memahami mereka, dan wow menarik dan seru sekali lho ternyata. Saya jadi lebih bersyukur dan bersyukur, dan melihat pasien saya dengan cara yang berbeda, ini penting sekali. Sekali lagi, SAYA DISINI GENDUT BANGET. Karena stase ini memang terkenal stase untuk kuliner dan berbahagia, saya membengkak, pipi saya menggembung dan tentunya… Timbangan ngga usah ditanya. Kegiatan saya adalah mengikuti poli pembimbing saya, diskusi dengan pembimbing, ada tugas presentasi kasus dengan pembimbing, dan akhirnya… Ujian. Ujian terakhir saya selama coass. Dan setelah 17 stase saya lewati dan 17 ujian juga saya lewati, untuk pertama kalinya saya menangis setelah ujian saudara saudara! Ngga usah diceritain kenapa, intinya saya sedihhh karena dibilang ini itu sama konsulennya, dan harus melanjutkan ujian esok harinya. Tapi akhirnya… Saya lulus Alhamdulillah.


Alhamdulillah, Subhanallah, Masya Allah, Allahuakbar, praise the Lord. Saya akhirnya selesai coass juga. Rasanya berhasil melewatinya saja sudah luar biasa sekali. Terlepas dari hasilnya yang masih banyak kekurangan disana sini, itu saya serahkan ke pemberi rezeki saja. Intinya, selamat tinggal masa klinik dan selamat datang masa yang lebih ‘gila’ lagi, yaitu… Menjadi dokter sesungguhnya!