Pilihan

Satu bulan terakhir boleh dibilang saya sedang berada pada titik yang saya sungguh dapat saya katakan... “I’m proud of myself.” Hmmm ini bukan tentang prestasi di sekolah sih, karena kalau itu menurut saya adalah sebuah kewajiban saya kalau saya harus mencapai beberapa titik tertentu, hal itu wajar, sangat wajar menurut saya. Ini lebih kepada... Pilihan. Pilihan-pilihan hidup saya.
Sebelum tahun 2016 dimulai, ada banyak sekali hal yang ingin saya lepaskan dari diri saya. Hal-hal yang sudah begitu lama saya simpan dan jaga hanya karena begitu sulitnya saya untuk keluar dari zona nyaman saya. Dan akhirnya... Saya berhasil meyakinkan diri saya untuk mengambil beberapa keputusan dan memilih beberapa dari pilihan yang ada.

Pertama, saya berhasil jujur kepada diri saya sendiri, untuk memilih melepaskan seseorang yang 2 tahun terakhir bersama saya. Karena saya rasa, saya dan dia lebih baik untuk berjalan di jalan masing-masing, saling menemukan diri masing-masing, dan berdampingan dengan orang lain, tidak saling memaksakan untuk tetap bersama diatas banyaknya keraguan. Awalnya sulit sekali membayangkan harus sendiri, dimana saya sebelumnya selalu bersama orang lain, lalu saya mulai membiasakan diri saya sendirian, dan akhirnya keyakinan saya muncul saat saya shalat Ashar di sebuah sore, tiba-tiba saya diberi keyakinan sangat besar dan akhirnya saya memilih untuk mengakhiri hubungan saya. Apa yang saya rasakan? Sedih. Lega. Banyak orang-orang yang kaget, terutama orang-orang yang dekat dengan saya. Tapi saya sama sekali tidak menyesal, karena pilihan ini sangat yakin saya ambil. Terima kasih Ya Allah atas jawaban doa-doaku.

Kedua, beberapa waktu terakhir saya sedang berada dalam zona nyaman lainnya. Saya begitu terlena dengan zona nyaman itu, sampai akhirnya saya merasa sepertinya zona nyaman ini sudah begitu melarutkan dan saya harus mengambil langkah apakah saya akan terus pada zona nyaman tersebut atau saya memilih meninggalkannya. Beruntung saya sempat pulang ke kampung halaman selama 2 minggu. Saya banyak berpikir, banyak berdoa, banyak memikirkan hal-hal yang ada dalam hidup saya. Dan akhirnya saya di suatu sholat Isya saya tiba-tiba saya seperti dibisikkan “No, definitely not...” Terima kasih Ya Allah, sekali lagi doaku sudah dijawab.

Ketiga, sekembalinya saya ke Jakarta setelah 2 minggu di Balikpapan, cukup banyak hal yang berubah, dimana perubahan itu adalah hasil keputusan dan pilihan yang telah saya ambil sebelumnya. Awalnya saya merasa canggung dengan perubahan itu. Akhirnya, saya ‘menarik’ diri saya dari beberapa zona nyaman saya. Cukup lama saya benar-benar sendiri. Apa yang saya lakukan? Saya ‘menyibukkan’ diri saya dengan hal-hal baru. Saya nonton serial Thailand berepisode-episode, padahal saya orang yang paling malas nonton serial karena malas mengikutinya. Saya nyuci baju sendiri, padahal biasanya sellau laundry. Saya setrika baju sendiri, padahal biasanya malas. Saya lari sore sendiri padahal biasanya rame-rame aja saya ogah. Saya membereskan kamar jadi lebih sering. Saya menghabiskan hari sabtu dan minggu hanya di kamar, tidak keluar sama sekali, padahal biasanya tidak pernah seperti itu. Saya benar-benar menarik diri sampai-sampai teman saya mencari-cari saya.

Keempat, keputusan saya untuk meninggalkan salah satu zona nyaman saya adalah salah satu keputusan terbaik tahun ini nampaknya. Kenapa? Karena kemudian saya menyadari bahwa zona nyaman itulah yang sedang meninggalkan saya. Benruntungnya, saya telah lebih dulu meninggalkannya. Jadi, saya tidak perlu terlalu bersedih.

Kelima, kakek saya baru saja meninggal dunia, di Balikpapan. Beliau pergi di usia hampir 100 tahun, padahal sekitar 2 minggu lalu saya masih sempat memijiti beliau, mengajak ngobrol, namun akhirnya beliau kini benar-benar tiada. Disisi lain, ada kelahiran baru. Saya punya ponakan baru, anak kedua dari kakak kedua saya, ini adalah ponakan kelima saya. Begitu dekat jarak kelahiran dan kematian, hanya jika kita menyadarinya.

Pilihan. Keputusan. Pilihan dan keputusan untuk diri sendiri membawa saya ada di titik saat ini. Dimana sendiri pun saya akan tetap terus berjuang sendiri. Karena kata ibu saya, ketika kita lahir kita dalam keadaan sendiri, kita mati pun akan dalam keadaan sendiri. Lalu, mau sampai kapan kita selalu bergantung kepada orang lain?

Comments

Popular posts from this blog

Self Improvement

Long Distance Relationship

Some Adjustments Part. I