Monday, January 27, 2014

Jauh kemana?

Aku belum pernah bilang dan cerita ya sejauh apa yang sekarang ini. Ya aku cuma ingin sedikit cerita saja kalau mungkin ini bukan sesuatu yang sangat besar dan menjanjikan apalagi mengikat. Tidak, tidak seperti itu. Ini adalah bagian dari proses dan bagian dari perjalanan hidup masing-masing kita saja, yang kita buat sesederhana dan semenyenangkan mungkin.

Kadang-kadang aku suka terdiam melihatnya tekun belajar sambil berpikir, bagaimana bisa orang yang dulunya setiap hari bertemu dengan kontak yang minim, orang yang hanya saling dekat ketika menyangkut urusan pekerjaan atau organisasi, kini sekarang mungkin jadi orang yang paling dicari.

Namanya yang dulu mungkin hanya sebuah kontak di telepon genggamku, kini selalu jadi kontak yang paling terakhir aku hubungi. Kadang-kadang aku juga bingung, orang yang dulu jika bicara denganku selalu dengan nada tinggi bercanda, sekarang bisa memanggilku dengan sebutan yang baik dan bertingkah lucu.

Kadang-kadang aku suka bingung dengan jalan hidupku sendiri, begitu penuh kejutan. Tapi aku pun senang-senang saja menjalaninya, dan yang terpenting, ikhlas melewatinya satu per satu.

Yang masih membuatku cukup takjub adalah, bagaimana bisa aku memiliki seseorang dengan kedewasaan yang baik sekali di sebelahku. Orang yang sangat mengedepankan logikanya daripada perasaannya dan belum pernah aku melihatnya berlaku berlebihan yang bukan dirinya. Ia rela dan tidak peduli dipandang seperti apapun oleh orang lain, selama Ia tidak berubah menjadi orang lain. Caranya mengajarkanku pun sangat menggemaskan. Sangat sabar, baik, dan tidak pernah menggurui namun lebih cenderung mengajak aku untuk berpikir bersama. Mungkin inilah ketika seorang anak bungsu perempuan satu-satunya di keluarga, bertemu dengan seorang anak sulung yang juga memiliki adik perempuan.

Kita selalu bilang kalau kita tidak sedang kemana-mana, kita hanya sedang berjalan beriringan pelan-pelan sambil melihat satu sama lain dan saling menjaga satu sama lain. Senang karena tidak ada yang kita kejar ataupun kita tidak perlu terburu-buru. Kalaupun di perjalanannya kita bertemu dengan sesuatu yang kurang menyenangkan, kita pun telah sepakat untuk mungkin kembali berjalan sendiri-sendiri saja dengan cara yang baik, dan tanpa saling menyakiti. Karena dia tau betul, sedalam apa luka yang aku punya, dan dia tau betul, kalau dirinya janganlah sampai menjadi penyebab luka berikutnya.

Ia juga selalu bilang kalau selama ini dia berusaha membersih-bersihkan hatiku. Pelan-pelan sekali katanya. Dan Ia suka berpesan "kalau udah diberesin jangan suka diberantakin lagi ya, ntar saya harus mulai dari awal lagi beres-beresnya..." Dan kadang-kadang aku suka bercanda "udah selesai belum beres-beresnya?" Dan dia jawab "hati kamu udah beres belum?" Aku lebih banyak diam, kalau ditanya begitu.

Bukan untuk saling membebani, tapi lebih baik saling menyenangkan hati. Saling menikmati keberadaan masing-masing di sebelah masing-masing. Karena jujur cukup menyenangkan dan melegakan hati. Akupun merasa kita sedang tidak terlalu siap untuk kemana-mana, tapi di suatu sore dia sempat bilang "tapi aku maunya lama sama kamu, Nzak..."

Dan aku, sampai sekarang, cuma bisa diam kalau ingat saat itu.

Wednesday, January 01, 2014

'13' menjadi '14'

Selamat tinggal 2013.

Bagi saya, seorang anak, seorang teman, dan seorang mahasiswa, dan entah berbagai peran apapun yang saya perankan dalam lingkungan sosial saya, 2013 merupakan tahun yang sangat besar, titik balik saya. Titik saya terjatuh, dan merangkak kembali hingga saat ini.

Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Demikian juga untuk menjadikan saya lebih memiliki prinsip, lebih mandiri, kuat, berpendirian teguh, lalu lama-lama bisa menjadi perempuan yang baik in shaa Allah, Amin.

Satu pelajaran besar tahun ini adalah: IKHLAS. Saya banyak belajar bahwa mempelajari ilmu ikhlas tidak sesuatu yang mudah, saya pun masih terus bekerja dalam memahaminya. Namun beberapa peristiwa membuat saya sadar dan yakin bahwa keseluruhan hidup yang saya miliki adalah milik-Nya, jadi saya kini lebih memilih untuk menyerahkan keseluruhan hidup saya pada-Nya dan mengikhlaskan apapun yang terjadi. Yakin dan berimanlah bahwa segala sesuatu pasti ada tujuannya, ada alasannya, dan hikmahnya. Dan sekali lagi, yakin bahwa Allah tau yang terbaik buat hamba-Nya.

Perubahan-perubahan yang saya alami tahun ini banyak dan sedikit saya rasa merupakan yang terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya. Dengan kehilangan ayah kandung saya dan laki-laki yang terdekat dengan saya saat itu dalam waktu bersamaan cukup melatih saya untuk tidak menggantungkan diri saya pada dua sosok penting itu lagi, dan mulai belajar untuk bisa menopang diri saya sebagai perempuan di atas kaki dan pemikiran saya sendiri.

Kegagalan saya selama semester IV yang ditandai dengan 2 modul yang mendapat nilai C, kemudian kegagalan saya untuk menduduki posisi Vice Local for Internal Affairs di lokal CIMSA UIN membuat saya cukup mengerti bahwa prioritas saya agak bergeser nampaknya, maka sudah saatnya dikembalikan kembali pada tempatnya. Dan lalu saya juga tersadar, untuk memberi kontribusi lebih tidaklah harus duduk pada sebuah posisi, bahwa sebuah kontribusi adalah terasa jika dia benar-benar diberikan penuh rasa, penuh ikhlas, dan ketulusan; semoga semua yang saya dan teman-teman kerjakan di CIMSA (sebagai satu-satunya organisasi yang saya ikuti di kampus) bisa memberi manfaat bagi kesehatan Indonesia, terutama masyarakat luas.

Menjadi panitia Indonesian Youth Conference juga salah satu pencapaian besar saya tahun ini. Mengerjakan sebuah acara yang besar dengan kemampuan yang saya miliki cukup menyadarkan saya bahwa segalanya itu mungkin dan bisa, segalanya itu memang harus dimulai dari bawah dan jangan pernah takut untuk mencoba. Satu tahun yang mengesankan bersama teman-teman dan segalanya yang dibawa IYC untuk saya, saya banyak sekali belajar.

Dari semester 1 hingga 3 lalu, saya tidak pernah bicara di telepon dengan ibu saya, walaupun saya sedang dalam perantauan. Bukan karena beliau tidak ingin, saya pun juga tidak terlalu gemar. Namun semenjak semester 4, hampir setiap hari ibu menelepon saya, bicara, menangis, tertawa, bercerita, mendengarkan saya, dan menanti keseharian saya. Ibu adalah supporter utama saya tahun ini. Bahkan beliau menyempatkan waktunya untuk 2 kali datang mengunjungi saya saat pasca putus cinta akhir Maret lalu dan saat saya sakit otomikosis pada Idul Adha lalu. Berlebaran haji bukan di Balikpapan bersama ibu adalah kebahagiaan sendiri. Ibu, sumber kekuatan dan cahaya saya, tahun ini, dan seumur hidup saya. Semenjak tersisa hanya seorang Ibu, maka segalanya menjadi terpusat pada senyum ikhlasnya. Saya sering bilang padanya "sekarang, ummi harus tau, yang paling penting itu ummi, aku cuma peduli ummi, sisanya ngga penting...".

Bapak, kehilanganmu dari hidupku bahkan sudah hampir mencapai 10 bulan. Betapa kerinduan akan selalu ada di dalam hati anak bungsu dan perempuanmu satu-satunya ini. Betapa kerasnya tanganmu yang aku kecup ketika aku berpamitan, dan doa lirih yang engkau bisikkan pada kepala dan telingaku akan selalu mengiringiku kemanapun langkahku pergi. Pertemuan terakhir kita bukanlah 4 Maret 2013 lalu, tidak, aku akan berusaha menjadi yang menyelamatkanmu di akhirat nanti, dan berusaha menjadi yang meneruskan semangat luhur dan budi baikmu, di dunia ini. Sekeras apapun jadinya aku kini dan nanti, aku tetap gadis kecil yang kau gendong kesana kemari dan kau usap rambutnya setiap malam ketika tidur. Aku sayang, sangat sayang, dan sungguh, sangat merindukan sosokmu, dalam hidupku ini. Namun habis sudah waktuku, biar kita bertemu lagi kelak.

Setelah empat bulan saya mengalami sakit telinga yang cukup parah dan sempat salah diagnosis ( seharusnya otomikosis, tetapi sempat didiagnosis otitis media efusi), saya banyak belajar dari sakit yang saya alami. Demikian juga dengan endometriosis yang masih membayangi saya setiap bulannya dengan dysmenorrhea yang menyiksa. Dua isu kesehatan terbesar tahun ini, disamping sakitnya saya selama berbulan-bulan yang lain semoga dapat membuat saya sadar betapa sehat itu mahal sekali dan benar-benar berjuang untu mempertahankannya.

Tahun ini saya juga berhasil kehilangan bobot saya hingga mencapai 10 kilogram, yang mana membuat saya terlihat agak berbeda dari sebelum-sebelumnya. Sebuah pencapaian yang tidak saya duga dan sangka, namun cukup menyenangkan. Saya juga mulai belajar merawat diri, mulai cukup ketergantungan dengan efek dari produk-produk tertentu untuk badan saya, kemudian juga mulai pelan-pelan banyak mengatur diri sebagai seorang perempuan.

2013 menjadi 2014 bukan hanya sebuah pergantian angka '13' yang selalu saya lihat dimana-mana setiap hari di tahun ini, tapi juga sebuah pergantian dan perubahan yang jauh dan menyeluruh dari seorang saya, Annisa Zakiroh. Pergantian agenda 2013 yang saya pensiunkan dini pada bulan Maret lalu menjadi sebuah agenda baru 2014 juga artinya pergantian detil-detil baru. Semoga dengan semakin berjalannya waktu, maka semakin jauh jugalah langkah yang bisa saya langkahkan dan semakin jauh juga pencapaian yang mampu saya capai.

Saya menutup tahun 2013, seorang diri, di kamar kost saya, sambil meredam sakitnya dysmenorrhea, dengan lampu yang dimatikan, dan suara rintik hujan diluar. Oh ya satu lagi, dari kejauhan saya bersama dengan seseorang yang telah saya kenal sejak awal kuliah namun baru hampir sebulan ini punya waktu dan kesempatan yang cukup intens bersama saya. Akhir tahun yang cukup manis dan mengisi, namun masih banyak sekali yang perlu saya perbaiki.

Selamat datang 2014, Bismillah ya Rabb!