Monday, September 15, 2014

Ke depan dan Ke belakang

Banyak yang aku rasakan semua semakin kabur dan semakin menerawang tak jelas.
Namun terkadang aku merasakannya timbul kembali, menyempil diantara padatnya.
Aku tidak sedang berusaha lebih dengan usahaku.
Tidak, ia datang dengan sendirinya, setelah pergemulan lama dengan diriku.
Tapi begitu ia datang aku merasa bahagia, dan sedikit ada rasa, mungkin aku belum bisa.
Tapi aku tak akan pernah bisa kalau aku menunggu aku siap.
Karena itu aku harus sedikit lupa agar aku terbiasa dan jadilah aku bisa.
Maka datanglah ini dan itu, yang merenggut ingatanku, semuanya, pelan-pelan.

Kadang semuanya terlihat begitu jelas, sampai aku pun lupa sejelas apa.
Tapi waktu memang dapat mengubur segalanya pelan-pelan, aku tak meragu.
Lalu sampai dimanakah aku kini, aku tau aku sudah dimana.
Aku sudah berjalan jauh, aku bersyukur sekali, senang sampai disini.
Tapi aku tidak berjalan lurus, kadang aku sesekali melihat ke belakang, melihat apa masih ada.
Tapi rasanya semua sepi dan hening, jadi aku lanjutkan saja lagi perjalanan.

Saking lelahnya aku berjalan, aku sempat beberapi kali berhenti dan mencari teman.
Kurasa tujuanku masih jauh sekali untuk dicapai. 
Sesekali aku melihat ke belakang, berharap ada yang menungguku.
Namun tidak ada yang menunggu aku lalu aku diam dan mulai berjalan kembali.
Hingga perjalanan ini semakin jauh dan aku semakin tak ingin kembali.

Cukup sampai disini aku mungkin sudah terlalu lama berjalan sendiri.
Dan mungkin juga sudah terlalu jauh berjalan, sampai aku menemukan banyak yang aku temukan.
Senang aku sampai disini, titik yang sudah dari jauh hari aku tunggu, aku nanti.
Walaupun sesekali aku masih melihat ke belakang, dan hampa yang kutemukan.
Setidaknya aku tetap berjalan, tidak pernah berhenti apalagi kembali.
Setidaknya aku menggunakan diriku sendiri untuk melawan yang ingin mengalahkanku.
Setidaknya aku bisa, sendiri, disini, ditemani waktu.

Walaupun sesekali aku masih melihat ke belakang, dan hampa yang kutemukan.
Setidaknya aku tetap berjalan, tidak pernah berhenti apalagi kembali.
Karena aku tau tujuanku sudah jauh banyak berubah.
Karena mungkin juga aku tau aku akan sendiri selalu.
Karena aku juga tau semuanya telah banyak saling meninggalkan.

Maka di dalam terpaan angin dan pasir yang berterbangan ini aku berdiri.
Sekali lagi melihat ke belakang, aku tak melihat apapun.
Lalu aku berbalik dan aku langsung berjalan kembali, meninggalkan yang ingin kutinggalkan.
Sambil sesekali aku tersenyum tipis, karena setiap kulihat ke belakang,
bukan badai, bukan salju, bukan panas, bukan bencana, bukan gelap, bukan kabut, 
yang aku lihat adalah sejuk, yang damai, yang teduh, dan menenangkan.

Sesekali aku masih akan melihat ke belakang, untuk memastikan sejuk itu ada.
Karena yang aku hadapi di depan, tak terlihat rupanya seperti apa.

Friday, July 18, 2014

2 hari

jangan coba tanya seperti apa rinduku hari ini padaku
lihat saja senyum yang bersembunyi terus karena belum berjumpa denganmu
atau jangan coba menebak sejauh mana aku bisa sendiri
temukan saja kekuatanku dibalik kelopak yang mengembang tanggung

aku pikir aku berhenti untuk mulai merasakannya lagi
dan aku pikir aku akan menahan diri kali ini
tapi mungkin aku gagal di matamu, diam-diam
karena kegagalan ini tidak kau saksikan sendiri

aku sudah belajar untuk mengelolanya, seperti yang kamu tekankan
aku juga sudah tahu sejauh mana aku harus memberikan
dan sejauh mana aku memberi kesempatan baru
tapi sepertinya aku mulai kalah, lagi dan lagi

jangan coba tanya seperti apa rinduku hari ini padaku
karena mengingat wajahmu saja membuatku tersiksa
mengendus wangimu saja membuatku linglung
dan semakin lama aku semakin ingin melepasnya

aku pikir aku akan berhenti menulis tulisan seperti ini
dan tidak akan memberikannya untuk siapa-siapa
tapi kamu yang selalu aku temukan di tiap pagi dan malamku
aku ingin pagi dan malam yang lain, yang ada kamu.

Saturday, March 01, 2014

Welcoming March, month of my life's changing

Hari ini adalah hari pertama bulan Maret, dan saya menerbitkan tulisan yang sudah saya tulis ini sejak akhir Februari lalu. Bulan Maret bukan bulan penting di keluarga saya, bukan bulan ulang tahun saya ataupun orang-orang tersayang saya, tapi justru bulan ini jadi begitu khusus untuk diri saya.

Satu tahun sudah dari Maret 2013. Kadang-kadang saya merasa semua terlewati terlalu cepat, atau malah kadang-kadang sayang merasa saya tidak sedang jalan kemana-mana.

Di bulan ini setahun lalu saya habiskan dengan berliter-liter air mata, karena banyak sekali hal yang harus saya nikmati dalam waktu yang bersamaan. Di bulan ini setahun lalu saya diajari banyak hal, kalau memang hidup ini tidaklah semudah yang saya bayangkan. Dan di bulan ini setahun lalu saya diberi kejutan manis, yang bikin hidup saya jauh lebih berwarna.

Dengan semua yang terjadi, saya memang harusnya menjadi lebih dewasa, ya begitu sudah seharusnya. Dan itu juga yang saya rasakan. Terlebih lagi ada orang yang selalu mengingatkan saya "gue disini cuma supaya lo tambah dewasa, tambah kuat, tambah baik, kalau lo udah ngga suka dengan keberadaan gue di sebelah lo, lo boleh bilang kok."

Kita memang akan baru merasakan begitu besar sebuah nilai sampai ketika kita telah kehilangan nilai tersebut, namun kehilangan tidak akan memberikan apa-apa sampai kehilangan berubah menjadi keikhlasan. Dan itulah yang masih selalu saya coba lakukan sampai sekarang.

Bersyukur dengan apa yang saya miliki saat ini, dan memperjuangkan hal-hal yang layak saya perjuangkan, pernah suatu saat saya diingatkan "gue cuma ngga mau aja lo ngabisin waktu lo banyak-banyak ngurusin hal yang ngga terlalu penting, masih banyak yang bisa lo kerjain kok, you are more than what you think, and I'm here to support you."

Dengan ini semua saya memang telah menjadi lebih dewasa, dan terus belajar dewasa. Dan dengan ini semua saya harus banyak-banyak bersyukur, karena banyak sekali hal-hal yang luput saya pandang yang sebenarnya itu semua begitu berharga bagi saya.

Satu tahun sudah sejak kehilangan ayah dan laki-laki itu. Satu tahun sudah saya berusaha berdiri di atas kaki saya dan menatap tegak, membentengi diri saya sekuat tenaga dan mengusir segala kelemahan. Satu tahun sudah saya belajar terlalu banyak, sangat banyak, dan masih kurang banyak. Satu tahun yang penuh dengan naik turun namun itulah yang saya nikmati. Satu tahun yang tidak pernah akan saya lupakan setiap prosesnya, namun selalu akan saya syukuri, nikmati, dan cermati lagi lebih dalam.

Satu tahun ini saya banyak sekali bertemu dengan banyak orang, yang mengajarkan saya banyak perjalanan. Saya juga banyak sekali mencicipi karakter, dan menikmati keluwesannya. Setahun ini saya merasa saya sedang berjuang memperjuangkan diri saya. Setahun ini saya menjadi lebih keras dan terlalu kuat mungkin menutup diri sampai-sampai saya cukup sering menolak kebaikan orang lain. Setahun ini saya boleh jadi menjadi orang lain, tapi saya selalu yakin saya sedang menjadi yang lebih baik.

Satu tahun pertama tanpa kedua laki-laki hebat di hidup saya, setahun pertama semuanya jadi lebih menantang dan tak terduga. Alhamdulillah sudah satu tahun ternyata. Terima kasih untuk kekuatan, kebaikan, dan keikhlasan, semoga saya selalu bisa menjadi seorang yang yang lebih baik untuk seterusnya.

Dan untuk kamu yang memilih untuk pergi, semoga kamu juga merasakan apa yang saya rasakan. Satu tahun sudah lewat, semoga kita sama-sama menjadi orang yang lebih dewasa, dan semoga pilihan-pilihan hidup kita selalu mengantarkan kita pada kemungkinan-kemungkinan yang terbaik, Amin. Semoga bahagia! :)

Monday, January 27, 2014

Jauh kemana?

Aku belum pernah bilang dan cerita ya sejauh apa yang sekarang ini. Ya aku cuma ingin sedikit cerita saja kalau mungkin ini bukan sesuatu yang sangat besar dan menjanjikan apalagi mengikat. Tidak, tidak seperti itu. Ini adalah bagian dari proses dan bagian dari perjalanan hidup masing-masing kita saja, yang kita buat sesederhana dan semenyenangkan mungkin.

Kadang-kadang aku suka terdiam melihatnya tekun belajar sambil berpikir, bagaimana bisa orang yang dulunya setiap hari bertemu dengan kontak yang minim, orang yang hanya saling dekat ketika menyangkut urusan pekerjaan atau organisasi, kini sekarang mungkin jadi orang yang paling dicari.

Namanya yang dulu mungkin hanya sebuah kontak di telepon genggamku, kini selalu jadi kontak yang paling terakhir aku hubungi. Kadang-kadang aku juga bingung, orang yang dulu jika bicara denganku selalu dengan nada tinggi bercanda, sekarang bisa memanggilku dengan sebutan yang baik dan bertingkah lucu.

Kadang-kadang aku suka bingung dengan jalan hidupku sendiri, begitu penuh kejutan. Tapi aku pun senang-senang saja menjalaninya, dan yang terpenting, ikhlas melewatinya satu per satu.

Yang masih membuatku cukup takjub adalah, bagaimana bisa aku memiliki seseorang dengan kedewasaan yang baik sekali di sebelahku. Orang yang sangat mengedepankan logikanya daripada perasaannya dan belum pernah aku melihatnya berlaku berlebihan yang bukan dirinya. Ia rela dan tidak peduli dipandang seperti apapun oleh orang lain, selama Ia tidak berubah menjadi orang lain. Caranya mengajarkanku pun sangat menggemaskan. Sangat sabar, baik, dan tidak pernah menggurui namun lebih cenderung mengajak aku untuk berpikir bersama. Mungkin inilah ketika seorang anak bungsu perempuan satu-satunya di keluarga, bertemu dengan seorang anak sulung yang juga memiliki adik perempuan.

Kita selalu bilang kalau kita tidak sedang kemana-mana, kita hanya sedang berjalan beriringan pelan-pelan sambil melihat satu sama lain dan saling menjaga satu sama lain. Senang karena tidak ada yang kita kejar ataupun kita tidak perlu terburu-buru. Kalaupun di perjalanannya kita bertemu dengan sesuatu yang kurang menyenangkan, kita pun telah sepakat untuk mungkin kembali berjalan sendiri-sendiri saja dengan cara yang baik, dan tanpa saling menyakiti. Karena dia tau betul, sedalam apa luka yang aku punya, dan dia tau betul, kalau dirinya janganlah sampai menjadi penyebab luka berikutnya.

Ia juga selalu bilang kalau selama ini dia berusaha membersih-bersihkan hatiku. Pelan-pelan sekali katanya. Dan Ia suka berpesan "kalau udah diberesin jangan suka diberantakin lagi ya, ntar saya harus mulai dari awal lagi beres-beresnya..." Dan kadang-kadang aku suka bercanda "udah selesai belum beres-beresnya?" Dan dia jawab "hati kamu udah beres belum?" Aku lebih banyak diam, kalau ditanya begitu.

Bukan untuk saling membebani, tapi lebih baik saling menyenangkan hati. Saling menikmati keberadaan masing-masing di sebelah masing-masing. Karena jujur cukup menyenangkan dan melegakan hati. Akupun merasa kita sedang tidak terlalu siap untuk kemana-mana, tapi di suatu sore dia sempat bilang "tapi aku maunya lama sama kamu, Nzak..."

Dan aku, sampai sekarang, cuma bisa diam kalau ingat saat itu.

Wednesday, January 01, 2014

'13' menjadi '14'

Selamat tinggal 2013.

Bagi saya, seorang anak, seorang teman, dan seorang mahasiswa, dan entah berbagai peran apapun yang saya perankan dalam lingkungan sosial saya, 2013 merupakan tahun yang sangat besar, titik balik saya. Titik saya terjatuh, dan merangkak kembali hingga saat ini.

Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Demikian juga untuk menjadikan saya lebih memiliki prinsip, lebih mandiri, kuat, berpendirian teguh, lalu lama-lama bisa menjadi perempuan yang baik in shaa Allah, Amin.

Satu pelajaran besar tahun ini adalah: IKHLAS. Saya banyak belajar bahwa mempelajari ilmu ikhlas tidak sesuatu yang mudah, saya pun masih terus bekerja dalam memahaminya. Namun beberapa peristiwa membuat saya sadar dan yakin bahwa keseluruhan hidup yang saya miliki adalah milik-Nya, jadi saya kini lebih memilih untuk menyerahkan keseluruhan hidup saya pada-Nya dan mengikhlaskan apapun yang terjadi. Yakin dan berimanlah bahwa segala sesuatu pasti ada tujuannya, ada alasannya, dan hikmahnya. Dan sekali lagi, yakin bahwa Allah tau yang terbaik buat hamba-Nya.

Perubahan-perubahan yang saya alami tahun ini banyak dan sedikit saya rasa merupakan yang terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya. Dengan kehilangan ayah kandung saya dan laki-laki yang terdekat dengan saya saat itu dalam waktu bersamaan cukup melatih saya untuk tidak menggantungkan diri saya pada dua sosok penting itu lagi, dan mulai belajar untuk bisa menopang diri saya sebagai perempuan di atas kaki dan pemikiran saya sendiri.

Kegagalan saya selama semester IV yang ditandai dengan 2 modul yang mendapat nilai C, kemudian kegagalan saya untuk menduduki posisi Vice Local for Internal Affairs di lokal CIMSA UIN membuat saya cukup mengerti bahwa prioritas saya agak bergeser nampaknya, maka sudah saatnya dikembalikan kembali pada tempatnya. Dan lalu saya juga tersadar, untuk memberi kontribusi lebih tidaklah harus duduk pada sebuah posisi, bahwa sebuah kontribusi adalah terasa jika dia benar-benar diberikan penuh rasa, penuh ikhlas, dan ketulusan; semoga semua yang saya dan teman-teman kerjakan di CIMSA (sebagai satu-satunya organisasi yang saya ikuti di kampus) bisa memberi manfaat bagi kesehatan Indonesia, terutama masyarakat luas.

Menjadi panitia Indonesian Youth Conference juga salah satu pencapaian besar saya tahun ini. Mengerjakan sebuah acara yang besar dengan kemampuan yang saya miliki cukup menyadarkan saya bahwa segalanya itu mungkin dan bisa, segalanya itu memang harus dimulai dari bawah dan jangan pernah takut untuk mencoba. Satu tahun yang mengesankan bersama teman-teman dan segalanya yang dibawa IYC untuk saya, saya banyak sekali belajar.

Dari semester 1 hingga 3 lalu, saya tidak pernah bicara di telepon dengan ibu saya, walaupun saya sedang dalam perantauan. Bukan karena beliau tidak ingin, saya pun juga tidak terlalu gemar. Namun semenjak semester 4, hampir setiap hari ibu menelepon saya, bicara, menangis, tertawa, bercerita, mendengarkan saya, dan menanti keseharian saya. Ibu adalah supporter utama saya tahun ini. Bahkan beliau menyempatkan waktunya untuk 2 kali datang mengunjungi saya saat pasca putus cinta akhir Maret lalu dan saat saya sakit otomikosis pada Idul Adha lalu. Berlebaran haji bukan di Balikpapan bersama ibu adalah kebahagiaan sendiri. Ibu, sumber kekuatan dan cahaya saya, tahun ini, dan seumur hidup saya. Semenjak tersisa hanya seorang Ibu, maka segalanya menjadi terpusat pada senyum ikhlasnya. Saya sering bilang padanya "sekarang, ummi harus tau, yang paling penting itu ummi, aku cuma peduli ummi, sisanya ngga penting...".

Bapak, kehilanganmu dari hidupku bahkan sudah hampir mencapai 10 bulan. Betapa kerinduan akan selalu ada di dalam hati anak bungsu dan perempuanmu satu-satunya ini. Betapa kerasnya tanganmu yang aku kecup ketika aku berpamitan, dan doa lirih yang engkau bisikkan pada kepala dan telingaku akan selalu mengiringiku kemanapun langkahku pergi. Pertemuan terakhir kita bukanlah 4 Maret 2013 lalu, tidak, aku akan berusaha menjadi yang menyelamatkanmu di akhirat nanti, dan berusaha menjadi yang meneruskan semangat luhur dan budi baikmu, di dunia ini. Sekeras apapun jadinya aku kini dan nanti, aku tetap gadis kecil yang kau gendong kesana kemari dan kau usap rambutnya setiap malam ketika tidur. Aku sayang, sangat sayang, dan sungguh, sangat merindukan sosokmu, dalam hidupku ini. Namun habis sudah waktuku, biar kita bertemu lagi kelak.

Setelah empat bulan saya mengalami sakit telinga yang cukup parah dan sempat salah diagnosis ( seharusnya otomikosis, tetapi sempat didiagnosis otitis media efusi), saya banyak belajar dari sakit yang saya alami. Demikian juga dengan endometriosis yang masih membayangi saya setiap bulannya dengan dysmenorrhea yang menyiksa. Dua isu kesehatan terbesar tahun ini, disamping sakitnya saya selama berbulan-bulan yang lain semoga dapat membuat saya sadar betapa sehat itu mahal sekali dan benar-benar berjuang untu mempertahankannya.

Tahun ini saya juga berhasil kehilangan bobot saya hingga mencapai 10 kilogram, yang mana membuat saya terlihat agak berbeda dari sebelum-sebelumnya. Sebuah pencapaian yang tidak saya duga dan sangka, namun cukup menyenangkan. Saya juga mulai belajar merawat diri, mulai cukup ketergantungan dengan efek dari produk-produk tertentu untuk badan saya, kemudian juga mulai pelan-pelan banyak mengatur diri sebagai seorang perempuan.

2013 menjadi 2014 bukan hanya sebuah pergantian angka '13' yang selalu saya lihat dimana-mana setiap hari di tahun ini, tapi juga sebuah pergantian dan perubahan yang jauh dan menyeluruh dari seorang saya, Annisa Zakiroh. Pergantian agenda 2013 yang saya pensiunkan dini pada bulan Maret lalu menjadi sebuah agenda baru 2014 juga artinya pergantian detil-detil baru. Semoga dengan semakin berjalannya waktu, maka semakin jauh jugalah langkah yang bisa saya langkahkan dan semakin jauh juga pencapaian yang mampu saya capai.

Saya menutup tahun 2013, seorang diri, di kamar kost saya, sambil meredam sakitnya dysmenorrhea, dengan lampu yang dimatikan, dan suara rintik hujan diluar. Oh ya satu lagi, dari kejauhan saya bersama dengan seseorang yang telah saya kenal sejak awal kuliah namun baru hampir sebulan ini punya waktu dan kesempatan yang cukup intens bersama saya. Akhir tahun yang cukup manis dan mengisi, namun masih banyak sekali yang perlu saya perbaiki.

Selamat datang 2014, Bismillah ya Rabb!