Saturday, November 23, 2013

biasa

aku tidak terlalu yakin aku bisa menuliskan kalimat yang panjang untuk menjelaskanmu, karena aku pun tidak bisa merasakan dan menjelaskan apa-apa, tentang kamu, tentang ini, tentang aku. sejak terakhir kali aku menulis untuk seseorang, aku merasa aku tak akan mampu menuliskanmu sesuatu. maka biarkan sajalah ini menjadi begitu sederhana dan hambar, karena sulit sekali untuk aku utarakan, atau terlalu sulit juga untuk aku terjemahkan.

dengan segala perbedaan, kesederhanaan, segala-segala yang sangat biasa, atau kekakuan yang timbul. namun juga dengan intensitas yang begitu banyak, dengan kehadiran yang tidak mampu aku elak bahkan selalu aku tanya, aku hanya ingin berterima kasih banyak... karena telah membantuku begitu banyak dan tetap memakluminya dengan tanpa permintaan lebih.

...dan terima kasih banyak, untuk selalu ada, dengan segala yang berbeda, dan hal-hal aneh yang timbul. maka biarlah hal-hal biasa yang ada ini semoga selalu akan menjadi biasa, sampai kapanpun...

Sunday, November 10, 2013

akhirnya

entah kapan tepatnya tapi yang saya tahu antara akhir oktober menuju awal november. perlahan-lahan saya mulai bisa menerjemahkan setiap lirik dari lagu-lagu Sheila on 7 yang saya dengar setiap hari. lalu saya juga mulai terbiasa dengan rutinitas yang menyedot saya. terlebih lagi kehadiran orang-orang tertentu yang membuat saya cukup teralihkan. perlahan-lahan saya mulai menggunakan teori, logika, dan pemikiran di atas perasaan saya. karena ya benar, perasaan bisa diatur dengan pemikiran.

saya selalu gagal membuat keputusan, maka lebih baik saya menjalankan hasil keputusan dari orang lain. namun saya tidak kunjung diberi keputusan, sampai akhirnya saya secara tanpa sadar telah membuat keputusan bagi saya sendiri dan untuk beberapa pihak lainnya. keputusan yang saya ambil secara sepihak, diam-diam, disaat hari-hari saya terlalu padat untuk merenungkan apa-apa yang terjadi dan bagaimana kelanjutannya.

bukan karena saya terlalu lelah, kelewat capek dan hilang daya, ah tidak. itu semua masih bisa saya tambah terus dan saya perluas jika saya mau, saya selalu punya kekuatan lebih. namun mungkin saya sudah merasa saja. merasa yakin, mungkin? entahlah, setahu saya, saya sangat sulit merasa yakin, karena hidup saya terlalu penuh pertimbangan. namun keyakinan yang sudah ada tidak perlu terlalu dipersoalkan, karena pun dia muncul sendiri tanpa saya minta.

saya sempat berbincang sambil bercanda membicarakan tentang rencana. namun mungkin itu tidak terlalu perlu untuk dipusingkan. kedewasaan masing-masing yang sudah berada dalam genggaman sudah cukup untuk saling tenggang rasa. sekali lagi, bukan karena saya terlalu lelah atau terlalu sakit, saya hanya memiliki keyakinan yang walaupun itu sedikit tapi cukup meyakinkan.

lalu entah saya juga bingung harus memulai darimana. bisa banyak sekali interpretasi terhadap tulisan ini, tergantung siapa yang membacanya, tapi interpretasi yang paling tepat hanya berada dalam genggaman saya, karena pun saya menulis ini dengan begitu sederhana dan apa adanya, tanpa tendensi apa-apa. hanya sebuah tulisan yang jika kelak saya baca lagi, saya jadi mengerti apa yang pernah saya rasakan.

oh ya saya sampai lupa saya sedang mempermasalahkan harus memulai semuanya dari mana. ah ya ampun masa sih saya lupa kalau rencana-Nya lebih hebat dari apa yang saya punya, lalu buat apa saya terlalu lelah memikirkan apa-apa yang diberikan kepada saya, yang selalu datang ketika saya minta maupun ketika saya tak pinta. ya, biarlah saja semuanya mengalir sesuai dengan arus-Nya, namun saya tetap bisa kokoh di perahu dan saya juga tetap punya dua dayung di kanan dan kiri, yang saya ibaratkan sebagai pikiran dan hati kecil saya. hati kecil saya tidak pernah berbohong, karena itu saya selalu mengikutinya, mau seberat apapun dan sebesar apapun ombak dan arus yang saya lawan. dan pikiran saya bisa dijadikan sebagai penyelamat, dia bisa menerima, mendengar, dan kemudian mengolah segalanya menjadi lebih seimbang.

maka pada akhirnya, semua akan bertemu pula dengan akhirnya. jangan takut pada apa yang akan datang, karena begitu ini sampai, pasti dia juga telah disisipi kesiapan dan kekuatan, yang tidak mampu dinalar oleh manusia saja.

maka pada akhirnya, semua akan bertemu pula dengan akhirnya. ada beberapa hal yang perlu saya ingatkan saja disini, bahwa orang itu cuma satu, dan itu saya. lalu kembali saya ingatkan, bahwa segalanya memiliki akhir, maka disinilah yang mungkin saya bisa sebut sebagai akhir.

tidak perlu ada kata sampai jumpa lagi, karena ya disinilah sudah kita bertemu pada akhirnya. akhirnya :)

Saturday, November 02, 2013

kadang-kadang

kadang-kadang, kita tidak pernah tau kenapa semuanya berjalan dan berhadapan secara berkebalikan. tapi kadang-kadang, yang kita tahu, itu diciptakan begitu supaya perjalanan kita penuh dengan liku.

kadang-kadang kita sadar waktunya sudah datang, kita bisa bilang "Ini dia waktu yang paling tepat!", namun selalu ada saja kesempatan yang membelokkan keyakinan.

kadang-kadang kita terjatuh, semua orang datang berbondong-bondong mengangkat dan menguatkan. semua bilang kita harus segera bangkit, segera. bahkan berbagai cara mereka tempuh untuk membangun kita kembali.

kadang-kadang kita bertemu dengan sebuah galah pelompat, yang mampu membuat langkah kita beribu-ribu jauh lebih jauh. namun kadang-kadang orang-orang yang kita sayang tidak suka galah itu.

kadang-kadang kita sudah punya sikap yang kuat, kadang-kadang kita sudah yakin dengan pilihan kita. justru disaat itulah, kadang-kadang orang-orang yang biasa mendukung kita malah berkebalikannya.

kadang-kadang di mata kita, kita sudah menemukan jalan yang terbaik, optimis sekali dengan jalan itu, namun justru sekeliling malah meragukannya, entah kenapa. kita jadi berpikir-pikir ulang.

kadang-kadang kita berhenti berbicara untuk meredam konflik yang mungkin timbul. karena semakin banyak bicara akan semakin banyak lagi pikiran-pikiran yang meracuni.

ya seperti yang sudah kubilang, kadang-kadang semuanya berjalan berkebalikan, selalu berlawanan, tapi selama kita masih merasakan seperti itu, artinya kita masih memiliki hidup dalam genggaman.