Sunday, September 29, 2013

aku ingin menutup mata, telinga, dan perasaanmu



boleh aku tutup kedua matamu sekarang, sayang?
aku ingin kamu merasakan apa yang bisa aku lakukan untukmu, bukan melihatnya
boleh aku tutup kedua telingamu sekarang, sayang?
aku ingin kamu berhenti mendengar ocehanku dan mulai merasakanku bukan dengan kata-kata
aku ingin mematikan indra penglihatan dan pendengaranmu, namun biarlah indra perasamu tetap disitu

aku ingin bicara sayang, banyak yang ingin aku katakan dan luapkan kepadamu
tapi waktu kita terlalu sedikit, waktu kita tidak banyak, dan terlalu terbatas
kadang aku dan kamu tersita oleh hari-hari kita sendiri
atau kadang kamu berpaling terlalu jauh, atau aku memudar terlalu cepat
kita tidak punya banyak waktu, kita tidak punya banyak cara, kita selalu saja
selalu saja aku merasa ada yang kurang, atau selalu saja aku merasa ada yang tidak tepat

aku ingin melempar kata-kata yang kugenggam terlalu lama di pikiranku
aku ingin mengalirkan air mata kalaupun itu perlu dan aku bisa di pundakmu
aku ingin melontarkan amarah-amarahku di depan wajahmu yang teduh
aku ingin mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang berputar di darahku
tapi sekali lagi sayang, kita tidak punya banyak waktu
aku, kamu, kita tidak punya banyak waktu lagi sekarang

maka biarlah waktu berjalan menutup semuanya pelan-pelan sembari mengajarkanku
biarlah waktu berlalu sambil memudarkan kegelisahan-kegelisahan malamku
dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dan kerisauan yang menggerogoti hari-hari kita
biarkan waktu yang mengajarkanku untuk diam, bukan lagi kamu sayang
biarkan waktu yang sudah terlalu sedikit untuk kita nikmati berdua, aku jalani sendiri saja

aku ingin berucap, aku ingin berkata, aku ingin meyakinkan, aku ingin melarang, aku ingin bilang jangan
namun sekali lagi, kita tidak punya banyak waktu sekarang
maka bolehkah aku tutup telingamu sekarang, sayang?
biar kamu bisa lihat dan mengamati aku dari kejauhan tanpa perlu mendengar aku bicara
biar kamu yakin dan percaya, biar kamu berhenti dan mengiyakan, biar kamu tahu dan menyimpulkan
semuanya dengan sendirinya

aku ingin menunjukkan, aku ingin melakukan, aku ingin memperlihatkan, aku ingin mempertontonkan
namun sekali lagi, kita tidak punya banyak waktu sekarang
maka bolehkah aku tutup matamu sekarang, sayang?
biar cukup hatimu saja yang merasakannya tanpa perlu kedua matamu menyaksikannya
biar cukup perasaanmu saja yang membawamu pada tujuan-tujuan yang ingin aku capai
atau kalaupun hatimu tak mampu merasakannya, mungkin memang kenginanku tidak akan pernah sampai

lalu sekarang, boleh aku tutup perasaanmu, sayang?
biar saja waktu yang semakin sedikit menjadi semakin sedikit
biar saja waktu yang semakin sedikit berjalan semakin cepat meninggalkan
biar saja waktu yang semakin sedikit menghapus pertanyaan-pertanyaan
biar saja waktu yang semakin sedikit berubah menjadi jawaban

maka jika kamu mengizinkanku untuk melakukannya sayang,
maka habislah sudah aku secara seluruhnya
karena jika mata, telinga, dan hatimu sudah aku tutup semua
bukan lagi omongan, tindakan, dan perasaan yang bekerja sayang
biarlah sebuah rahasia kecil diantara kita yang belum pernah kita ungkapkan mempertemukan kita kembali

Friday, September 27, 2013

datang, temui, dengar, dan diamkan

"Kalau ada orang di dunia ini yang paling bikin aku iri ya dia, aku iri banget sama dia, dari dulu, bahkan mungkin sampai sekarang. Aku ngga tau apa yang dia lakukan ke kamu sampai bisa bikin kamu sebegitunya dulu."

"Dia ngga ngapa-ngapain, dia kacau, asal-asalan, kalo ngomong juga ngasal, tapi setiap dia ngomong serius, cukup satu kalimat aja, aku bisa langsung diem dan mikir."

"Mungkin setelah gue pikir-pikir, gue tuh takluk sama cowok yang bisa bikin gue diem, karena gue cerewet banget, dan gue ngga bisa diem, gue ngga bisa nahan untuk ngga ngeluarin apa yang ada di pikiran dan perasaan gue. Lo tau kan, kalau ada orang ngomong aja rasanya pengen langsung gue potong kalau ngga sesuai sama pikiran gue."

"Iya bener, gue tau. Tapi ternyata lo kebalikannya dari gue; kalo lo butuh orang yang bisa mendiamkan elo, gue butuh orang yang kalau sama dia gue bisa cerita apapun yang ada di pikiran gue, karena gue ngga bisa terbuka sama orang, jadi kalau gue bisa terbuka, itu artinya gue udah nyaman sama orang itu."

Lalu aku mencari dari hilir mudik orang yang lalu lalang, berapa percakapan yang aku habiskan dalam diam, dan berapa pembicaraan yang diakhiri bukan dengan kalimat dari mulutku. Lalu aku mulai menghitung berapa banyak orang yang pernah melakukannya di depanku, dan aku mulai tersadar kalau satu bisa mendiamkan aku saat itu juga, sementara satu lainnya butuh beribu-ribu percakapan sebelum di dalam sebuah percakapan berikutnya aku medapati diriku terdiam dan mendengarkan. Aku ingin menumpahkan isi kepala dan dada yang mulai datar tak bergejolak, aku ingin menjabarkannya dengan naik turun irama cerita, dan aku ingin didiamkan dengan satu kalimat penyelesaian yang selanjutnya menuntutku untuk berpikir.

Siapapun itu; datang, temui, dengar, dan diamkan aku, segera.

Thursday, September 26, 2013

menjadi dewasa

kurang lebih sepekan lagi saya akan memiliki usia berkepala dua. rasanya tidak ingin, masih ingin jadi anak belasan tahun, masih ingin bangga menyebut "Gue masih 19 tahun, dong!". mungkin buat beberapa orang, menjadi 20 tahun adalah sebuah proses biasa, bagi sebagian lainnya begitu membahagiakan karena akhirnya bisa berkepala dua, dan bagi sebagian lainnya lagi -termasuk saya- ini tentu sesuatu yang cukup berat karena usia berkepala dua bukan lagi waktunya bermain-main.

yang jadi pikiran berat di kepala saya sejak saya masih berusia 17 tahun adalah... "Gila gue 20 tahun belum ngapa-ngapain, biasa banget, ngga punya prestasi, bukan siapa-siapa, 20 tahun hidup gue ngapain aja coba..." dan ternyata 3 tahun berlalu, yang masih ada di pikiran saya juga hal yang sama, sepekan lagi saya In Shaa Allah berusia 20 tahun, dan saya belum jadi apa-apa.

saya adalah seorang mahasiswa kedokteran tingkat 3 di sebuah Universitas Negeri di Jakarta coret, tepatnya Ciputat. sebentar lagi saya akan mulai mengerjakan riset saya sebagai syarat lulus sebagai sarjana kedokteran. tahun depan, In Shaa Allah saya akan memasuki dunia klinik dan menjadi koas di Rumah Sakit Fatmawati. 2,5 tahun koas, setelah itu saya bisa ikut UKDI dan selanjutnya sumpah dokter. jadi secara total saya butuh empat tahun lagi untuk menjadi seorang dokter, itupun kalau lancar, ya Allah lancarkanlah, Amin.

di usia hampir 20 tahun inilah saya baru mulai sadar kalau saya cuma dewasa di luarnya aja, ibarat risoles, kulitnya sih udah keemasan, tapi ternyata isinya masih ada yang mentah... seseorang berkata tepat di depan wajah saya "Kamu tuh luarnya aja yang dewasa, dalamnya... kekanak-kanakan." Saya cuma bisa diam, berusaha menahan elakkan saya terhadapa kata-kata itu, dan lebih memilih untuk menerimanya.

boleh dibilang tahun 2013 mungkin tahun yang cukup gila-gilaan untuk saya. naik turunnya cukup drastis. kenapa 2013? entahlah, rencana Allah selalu lebih indah. saya percaya, selalu percaya, kalau yang menyenangkan itu hanya bersifat sementara, dan yang menyedihkan juga pasti akan bersifat sementara, semua pasti akan menemukan akhir, kemudian berganti fasenya. jadi nikmati sajalah setiap fasenya, jalani sajalah dengan bahagia. 

namun apabila telah berakhir, bukan berarti semuanya akan semakin mudah, pernah saya bicara kepada seorang teman "Semangat, lo harus percaya kalo lo bisa ngelewatinnya, kalau ini udah selese pasti lo bakal lega dan seneng, tapi inget, bukan berarti abis ini semuanya jad lebih mudah, ngga mungkin, bohong kalau ada yang bilang semua akan lebih mudah, semakin tua tantangan kita akan semakin berat, dan lo harus siap, setelah ini pasti lo akan lebih siap ngadepin tantangan berikutnya."

kalau dipikir-pikir, di usia 19 tahun ini, banyak juga yang telah saya lewati. dan kalau saya kembalikan omongan itu ke diri saya, saya jadi bertanya, seberat apa lagi tantangan saya di depan sana? kalau yang kemarin saja sudah membuat nilai-nilai saya jatuh, saya sakit-sakitan, saya hilang fokus, saya tidak tenang, harus sebesar apa lagi tantangannya?

tapi saya juga ingat kok, kalau semuanya seimbang, dibalik kesedihan pasti ada kesenangan. dibalik berbulan-bulan kemarin saya benar-benar kehilangan, sekarang saya sudah kembali menemukan. entah apalagi yang terjadi setelah ini, saya tidak tahu tapi saya selalu siap.

sekarang saya berhenti mengarang, merancang, berasumsi, dan memikirkan terlalu dalam. karena saya lelah. saya ingin bebas, saya ingin lepas, saya ingin tenang dan menjalaninya dengan sukacita penuh bahagia gejolak anak muda. salah satu kata-kata teman saya yang saya ingat "Karena kita belum pernah hidup di masa depan, Zak. jadi kita ngga tau mana yang terbaik buat kita."

seseorang berkata pada saya waktu itu "semakin dewasa, kita akan semakin tahu mana yang perlu kita bicarakan atau kita simpan, mana yang perlu kita bahas atau kita buang, mana yang perlu dijadikan masalah mana yang didiemin aja, kita sudah dewasa sekarang, kita sudah tau mana yang benar dan salah. suatu saat kamu akan seneng kok, kalau kamu bisa membedakan mana yang perlu dibesar-besarkan dengan sesuatu yang tidak perlu kamu tanggapi, kamu pasti ngerti."

menjadi dewasa itu... saya belum tau tepatnya seperti apa. tapi saya harus mulai mecoba.

terima kasih kepada...
1. Ibuku yang tidak pernah berhenti menjadi sahabat terbaikku, yang selalu menerima dan melapangkan dadanya dengan seluruhnya aku sebagai seorang anak agar aku selalu belajar tentang hidup.
2. Kamu, seseorang yang tidak pernah aku mengerti entah apa yang ada di pikiran dan hati kamu, tapi kamu selalu berhasil membuat aku jadi lebih baik.

selamat datang usia 20 tahun, aku siap dengan tantangan berikutnya.