Monday, July 22, 2013

Masa Depan

Kita selalu tertarik dan bertanya-tanya tentang masa depan, karena masa depan itu seru, penuh kejutan, banyak kemungkinan, dan tidak ada yang pasti dengan masa depan.

Masa depan itu dekat, karena apapun yang kita lakukan sekarang, selalu membawa masa depan tertentu untuk kita; begitu dekatnya kita dengan masa depan.

Masa depan itu jauh, karena Ia tidak disini, tidak tergapai, tidak terengkuh; tapi Ia selalu ada disana. Itulah jarak yang membatasi kita dengan masa depan.

Selalu ada yang seru dan menarik dari masa depan, karena Ia begitu jauh dan tak tertebak; namun juga selalu ada yang menakutkan dan menghantui dari masa depan; karena Ia begitu dekat dan menuntut kita untuk bertindak sekarang juga.

Aku semakin tidak sabar dengan masa depan, rasa-rasanya aku ingin segera bertemu dengannya. Tapi aku juga belum siap bertemu masa depan, aku masih terlalu dini.

"Hai masa depan, aku siap-siap dulu ya, aku mau jadi pribadi yang matang dan dewasa untuk bertemu denganmu, agar aku siap dengan seluruh tantangan yang kamu bawa nanti. Duh aku selalu suka tantangan. Hai masa depan, tunggu aku ya!"

Mendengarkan dan Berbicara

Setengah tahun lebih 2013 berjalan, boleh dibilang inilah setengah tahun penuh pembelajaran buat saya, setengah tahun yang paling seru dan tidak terduga-duga. Jika disederhanakan, pembelajaran yang saya dapatkan bisa dibagi menjadi belajar di kampus, luar kampus, dan belajar hidup. Jangan pikir kalau yang saya maksud disini hanya belajar di kampus, yang saya maksud adalah belajar, secara keseluruhan, apapun yang baru dan bisa saya pahami, itu artinya baru saja saya pelajari. Saya pernah tweet begini beberapa hari yang lalu.


Kata-katanya klise sih, semua pasti pernah dengar, tapi sekarang-sekarang inilah saya sadar kata-kata itu memang benar, dan saya sangat yakin makna kata 'belajar' itu luar biasa, dan saya rasanya tidak ingin berhenti untuk belajar.

Saya suka sekali bicara. Saya sadar sekali malahan kalau saya lebih suka didengar daripada mendengarkan. Menurut saya itu tidak salah, tapi harus diseimbangkan saja. Tapi saya juga seseorang yang auditori; saya mudah belajar apapun dengan mendengarkan, hal ini sudah sering saya buktikan kalau saya kepepet mau ujian atau diskusi kelompok tapi bahannya masih mentah, saya biasanya mendengar dan menyerap pembicaraan orang-orang.

So I like to speak, and I like to be listened.

Dan bagaimanakah proses belajar saya? Saya belajar dengan mendengarkan, dan berbicara. Saya mendengarkan pembicaraan orang-orang, meskipun orang-orang tersebut tidak sedang bicara dengan saya, saya berusaha mendengarkan tanpa bermaksud menguping, saya hanya berusaha menyerap apa yang bisa saya serap saat itu. Setelah menyerap, saya biasanya mencari tahu, kemudian saya mengerti, disitulah saya belajar. Saya juga berbicara saat orang mau mendengar saya, atau ketika tidak ada yang mendengar, saya terbiasa berbicara sendiri di dalam pikiran saya, atau berbicara sendiri dengan bayangan, karena ketika saya bicara, walaupun tidak ada yang mendengar, saya akan berusaha mencari kata-kata yang tepat dalam pikiran saya untuk mengungkapkan apa yang ingin saya katakan, dan disitulah saya belajar, disitulah saya sering menemukan kata-kata yang baik dan penting buat saya.

Saya menyeimbangkan mendengar saya dengan beberapa cara. Pertama, saya harus selalu merasa saya butuh untuk tahu, dan saya harus tahu dengan cara mencari tahu. Kedua, saya harus selalu merasa saya belum mengerti, sehingga saya selalu sedia untuk diberi dan diajari, tanpa rasa gengsi. Ketiga, saya harus selalu merasa saya bukan apa-apa atau bukan siapa-siapa, sehingga saya berhak untuk diberi apapun dari siapapun, tanpa perbedaan. Dan keempat, saya harus sadar kalau saya sedang belajar, dan saya harus siap salah dan ditegur ketika salah, karena disitulah, saya belajar lagi.

Dan bagaimana saya menyeimbangkan bicara saya, saya melakukannya dengan beberapa cara juga. Pertama, saya sadar saya cenderung memberi perintah/commander, maka saya harus bisa memberikan perintah/command yang baik agar mudah dimengerti. Kedua, saya harus sadar dan benar-benar paham posisi dan kadar pengetahuan saya akan sesuatu, maka saya akan bicara sesuai dengan kadar saya. Ketiga, saya harus sadar kalau tidak semua orang ingin mendengar pembicaraan saya, jadi saya harus bisa mengemas pembicaraan yang baik dan cukup. Keempat, saya harus sadar kalau apa yang saya ketahui bukan segalanya, jadi apa yang saya bicarakan juga pasti bisa salah, dan jangan pernah marah jika dibenarkan, karena disitulah sekali lagi, saya belajar.

Dan bagaimana saya bisa melatih mendengar dan berbicara, kemudian belajar darinya? Cuma satu cara: ngobrol, atau berbincang-bincang. Satu cara yang penting dan itulah pintu bagi semuanya. Ngobrol dengan siapa? Dengan siapa saja, karena setiap orang akan memberi pelajaran yang berbeda dan penuh kejutan. Ngobrolin apa? Boleh bicara apa saja, karena setiap pembicaraan lama akan memancing pembicaraan baru, setiap topik lama akan melebar ke topik baru, begitupun seterusnya. Lalu kapan harus ngobrol? Kapan saja bisa, karena semuanya penuh kejutan, dan kejutan tidak mengenal waktu, jadi jangan terpaku kepada waktu.

Berikut adalah beberapa obrolan yang saya ingat dan cukup membuat saya belajar.
W (Staf seminar IYC 2013): "Zak gimana TOR buat pembicara Pitstop?" 
A (tipe commander): "Lah kan udah aku kasitau di milis... Makanya di check dong" 
R (Ketua IYC 2013): "Biasa... Harus lebih banyak ngobrol, Zak..." 
Deg! Segitu perlunya ya ngobrol? Saya jadi sadar.
A (perempuan): "Gimana rasanya abis putus?"
L (laki-laki): "Yah gue sih sekarang udah biasa aja, dulu ya juga galau" 
A: "Trus perasaan lo sendiri sekarang sebenernya gimana?"
L: "Yah kalo gue sih, putus dari gue terserah lo (mantan pacarnya) mau jadian dan pacaran sama siapa aja, yang penting lo ijab qabulnya sama gue, sekarang gue banyak-banyakin sholat aja."
Manis sekali, pikir saya :-)
A: "Trus kapan nih dijadiin?"
I:  "Gue ga mau buru-buru lah, gue pengen lebih saling mengenal aja, lagian gue pengen dia tau bandelnya gue, ya bandelnya gue ya gue males sholat, suka bolos, ya gue pengen dia tau aja"
A: "Tapi bandelnya lo tuh masih terukur gitu lho menurut gue, keliatan dari muka lo sik"
I: "Tapi kalo lo tau kekurangan dari seseorang lo pasti ada kecendrungan untuk mengubah orang itu kan"
A: "Ga sih kalo gue, karena ya sekarang gue lebih bisa nerima orang apa adanya, gue lebih milih untuk jadi lebih baik bareng-bareng sih"
I: "Ah masa sih... Pastilah lo ada keinginan itu"
Abis itu saya kaget sama omongan saya sendiri.
C: "Hahaha bodoh banget dia... Bego banget. That's my friend, itulah temen deket gue tuh"
A: "Santai aja sih, lagian gue juga udah bisa terima kok semua jelek-jeleknya, mau dia ngapain kek, buat gue dia cuma lagi belajar brengsek aja, biar tau lah mana yang bener mana yang salah ga gitu-gitu aja"
C: "Good... Good... Bagus kalo gitu"
D: "Ati-ati jadi brengsek beneran sih..."
Lagi-lagi saya juga kaget, selapang itukah saya?
A: "Gue udah ada gitu yang baru, tapi belum dideketin sih, tapi gue tau aja ada apa-apa"
L: "Yah kalo belum dideketin sih itu namanya lo yang ge-er"
Njir iya juga yak!

Pada setiap akhir pembicaraan, saya selalu bisa merasakan getir, sesuatu yang baru, yang baru saja saya sadari atau baru saja saya ketahui, yang kadang-kadang itu bisa menjawab pertanyaan yang berputar di pikiran saya, atau mematahkan asumsi saya. Bisa juga menuntut saya untuk lebih mencari tahu lagi, mengajak saya untuk introspeksi, atau membuat saya bersyukur pernah terlibat dalam pembicaraan tersebut. Kadang-kadang saya malah tersadar tentang perubahan cara pandang saya saat sedang ngobrol, kata-kata yang keluar saking spontannya saya jadi takjub kalau pemikiran saya sudah berubah sejauh itu.

Dan pada akhirnya; setelah saya belajar untuk menyeimbangkan pendengaran dan pembicaraan saya, jadilah saya, si pendengar dimanapun saya berada. Karena saya selalu merasa haus, dan saya selalu butuh yang baru. Yang saya perlukan hanya keterbukaan diri dan pikiran saya, kemudian kesediaan saya untuk mendengar disaat orang lain enggan mendengar saya. Karena sekali lagi, belajar itu bisa dimanapun, kapanpun, dan dari siapapun, dan saya selalu siap untuk belajar.

Sunday, July 21, 2013

End

"I won't ask you to stay, I want you to find your own reason; to stay or to leave.
Everything has its end, so does this feeling.
See you at the finish line."

Wednesday, July 17, 2013

5+1=6

persetan dengan masa lalu, aku hanya ingin terus bersama lima orang ini, selamanya.
persetan dengan masa depan, aku bersyukur punya lima orang ini, hari ini.

2008
Dea - Nisa | SMA Negeri 1 Balikpapan

2009
Luthfan - Oi - Agung - Dea - Nisa (the one who took this photo) | E-walk, Balikpapan

2010
Alfi - Nisa | Ciwalk, Bandung

2011
Alfi - Dea - Luthfan - Nisa (the one behind the camera) | Plaza Balikpapan, Balikpapan

2012
Oi - Agung - Alfi - Nisa | Ciwalk, Bandung

2013
Oi - Luthfan - Dea - Nisa | Senayan City, Jakarta

persetan dengan segalanya, aku cuma mau kalian berlima, utuh kita berenam.

Sunday, July 14, 2013

aku ingin berterima kasih



aku ingin berterima kasih

karena telah menitipkan berjuta rasa yang tak mampu untuk aku ungkapkan dengan kata-kata
karena selalu membuat aku bahagia dengan beribu cara yang kamu punya

aku ingin berterima kasih

karena selalu menjadi alasan dan jawaban atas semua pertanyaan dan keraguanku
dan memang hanya kamu yang aku inginkan untuk selalu ada disini, untukku

aku ingin berterima kasih

karena pernah mengizinkanku untuk memiliki, mengasihi, menjaga, dan menyayangimu
karena pernah mengizinkanku memberi cinta dan semua yang kamu inginkan

aku ingin berterima kasih

karena pernah mengizinkan aku untuk mewujudkan semua impian dan harapanmu menjadi kenyataan
karena pernah mengizinkan aku untuk berusaha melakukannya, dengan kemampuanku

aku ingin berterima kasih

karena pernah menjadi pilihanku, walau aku tidak tahu apa kamu yang terakhir dalam hidupku

karena pernah menjadi yang pertama, yang pernah ada di saat pagi ku membuka mata

aku tidak pernah tahu

siapa yang terakhir, dan siapa yang jadi selamanya
tapi aku selalu tau, kamu yang pertama

Thursday, July 11, 2013

9 bulan bersama Indonesian Youth Conference 2013

berikut adalah rangkain tweet yang saya post di twitter saya @annisazakiroh hari Minggu 7 Juli 2013 lalu, tepat satu hari setelah penyelenggaraan Festival Indonesian Youth Conference 2013, yang berarti bahwa posisi saya sebagai panitia pelaksana IYC 2013 telah selesai.













































Sekali lagi, terima kasih untuk segalanya IYC 2013! 9 bulan yang menakjubkan dalam hidup saya.