Thursday, May 23, 2013

Jawaban

Kalau ditanya kenapa bingung harus menjawab apa. Terlalu banyak kemungkinan dan kemungkinan yang berputar-putar dalam pikiran. Kalau harus mencari alasan dan pembelaan rasanya semua hanya jadi terlihat begitu semua. 

Mungkin sesungguhnya bukanlah alasan yang perlu dicari, tapi inilah jawaban. Jawaban dari apa? Doa mungkin. Doa siapa? Entah siapa. 

Terlalu banyak kemungkinan yang bisa timbul, terlalu banyak kekurangan untuk dibicarakan, atau terlalu banyak permasalahan untuk dipecahkan. Pilih yang mana? Aku belum bisa menentukan.

Tapi sekali lagi, jelas mungkin inilah jawaban. Yang mungkin telah ditunggu sekian lama, atau telah diharap-harap. Inilah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang selama ini dipendam. Atau ini jugalah jawaban dari kebimbangan. Jawaban ini datang, sekarang.

Setiap paginya aku terbangun masih dengan pertanyaan, atau dengan kesedihan. Tapi sesungguhnya aku belajar, dan aku berusaha. Bukan berarti aku menyerah, aku akan tetap berjuang, sampai benar-benar sampai di tujuan. Karena aku tau dimana tujuanku berada, dan aku pun tau bagaimana caraku untuk meraihnya.

Allah mungkin terlalu sayang, sangat sayang, atau mungkin selama ini aku belum pernah naik kelas tiap diberi ujian. Allah juga mungkin merasa aku terlalu jauh, dari genggaman-Nya, lalu aku diambil lagi, diajak bersama-sama, dan diajak belajar untuk jadi yang lebih dan lebih dari yang sekarang. Aku diberi dua ujian; ujian pertama, aku tau ujian itu akan datang, jadi aku belajar, aku bersiap-siap, aku berusaha, aku menguras perasaanku, aku mencoba sekuat usahaku, dan ketika ujian itu datang, aku melewatinya, Alhamdulillah dengan lancar, mungkin aku lulus ujian. Ujian kedua, datang tidak aku pernah duga, aku belum siap, ini terlalu cepat, atau ini terlalu sulit untuk aku terima, terlalu berat, tapi itulah ujian, dan terlebih lagi, itulah hidup.

Begitu lama aku mencari alasan, atau mencari jawaban. Lama aku terlarut dalam kesedihan-kesedihan, atau kebimbangan-kebimbangan. Air mataku rasanya sudah kering. Perasaanku sudah terlalu berantakan. Kadang-kadang aku kurang bisa membedakan mana itu sedih dan mana itu senang. Dan kadang-kadang aku juga bisa merasakan perihnya di dadaku.

Tapi kemudian aku berdiri, berjalan dan mencari. Dan kemudian juga aku menemukannya. Bahwa mungkin Allah terlalu sayang, sehingga apapun yang aku jaga, yang aku sayangi, yang terlalu aku cintai, yang bisa mengalihkanku dari-Nya, Allah ambil. Karena Allah mungkin sudah gerah, sudah terlalu bosan melihatku terus-terusan jauh. Akhirnya sekarang, aku pun harus siap dan bisa sendiri, dengan diriku sendiri, dan Dia tentunya.

Ikhlas dan merelakannya bukanlah mudah untuk dijalankan, tapi begitu aku sadar akan betapa besar rencana Allah yang Ia punya untukku, aku pun terperangah dan aku menjadi bersyukur. Betapa berat untuk aku jalani, namun aku pun yakin kalau di depan nanti Allah sudah punya rencana baik, untukku paling tidak.

Dengan semua ini pun aku tetap belajar, kalau jangan sampai aku berubah jauh dari aku yang aku kenal. Aku pun harus tetap belajar, untuk tetap menjadi aku, dan menjadi jauh lebih baik. Aku harus selalu menjaga hatiku, dari amarah, iri, benci, perkataan-perkataan buruk, prasangka buruk, doa-doa buruk, atau dugaan-dugaan buruk. Aku belajar untuk menjaganya tetap baik, dan Alhamdulillah, Insya Allah aku bisa.


Terima kasih Ya Allah sudah membimbingku sejauh ini, aku benar-benar takjub aku bisa melewati semuanya dengan keadaan sadar dan bertanggung jawab atas kewajibanku. Aku benar-benar berterima kasih karena Engkau menjagaku penuh dengan kasih sayang, dengan penuh kebaikan yang tetap mengalir dari depan, belakang, kanan, dan kiriku, aku berserah, dan aku ikhlas.

"Lo udah dibimbing sejauh ini sama Allah, Dia nggak akan melepaskan lo sendirian, Zak." :')