Wednesday, April 10, 2013

Thursday, April 04, 2013

Untuk Bapakku

(ditulis tepat sebulan lalu pada Senin, 04 Maret 2013 di pesawat Citilink perjalanan ke Balikpapan.)

Penerbangan Jakarta-Balikpapan ditempuh dalam waktu 2 jam. Terlalu lama menunggu untuk bertemu dengan Bapak.

Semuanya sudah aku ikhlaskan ke Allah. Tidak ada satupun kehendak-Nya yang aku ingkari ataupun aku tolak, semuanya aku terima dengan penuh keikhlasan dan keimanan kalau kepergian Bapak adalah hal terbaik yang Allah bisa hadiahkan untu keluargaku saat ini.

Setahun lebih, itulah waktu yang dijalani Bapak berjuang melawan kanker nasofaring yang menggerogoti kekuatannya, kelincahannya, dan keaktifannya. Waktu yang ditempuh Bapak untuk jadi sekurus sekarang, dari beratnya yang 65 kg, sampai hanya sisa 40 kg.

Jangan tanya tentang kenangan, karena setiap mengenang kenangan dengan Bapak, air mata tak bisa berhenti untuk mengalir, terlalu banyak kenangan manis dan semua yang begitu mudah untuk aku ingat-ingat lagi. Seluruh momen antara Bapak dan anak yang tak semua anak bisa memilikinya. Momen tertentu yang hanya aku dan Bapak yang menikmatinya.

Begitu besar perjuangan Bapak membesarkan tiga anaknya yang kami semua belum bisa membahagiakannya. Bapak berkerja selama 34 tahun di Pertamina. Setiap Bapak cerita tentang pekerjaannya, sering Ia menunjukkan nilai-nilai bahwa hidup tidaklah mudah, perjuangannya di kilang, menjaga stabilitas minyak satu Indonesia bersama rekan-rekannya, senang sekali tiap dengar Bapak cerita pengalaman bekerjanya, Ia pun senang didengarkan.

Setiap Ia cerita tentang ibu bapaknya, adik-adiknya, sering Bapak menitikkan air mata, makna rasa sedih dan kehilangannya. Bapak adalah seseorang yang sangat menyayangi keluarga besarnya. Anak pertama yang berjuang menjaga adik-adiknya saat ayahnya meninggal di usia produktifnya. Itulah Bapak. Bapak mengajarkan aku untuk jadi orang yang menyayangi keluarga. Selau menghormati orang tua, dan berbudi luhur terhadap sesama. Tumbuh besar bersama Bapak membuatku belajar menyayangi keluarga dan menomorsatukan keluarga diatas apapun, karena itulah yang Bapak selalu ajarkan. Tidak boleh ada salah paham, kebencian dan permusuhan di dalam keluarga, karena keluarga adalah satu, apapun yang terjadi harus saling mendukung dan menguatkan. Itulah yang Bapak ajarkan, dan itulah yang aku dan kelurgaku pelajari selama diberi ujian sakitnya Bapak.

Ia bukanlah seseorang yang populer, pintar, terpandang, ataupun kaya raya. Ia adalah orang biasa, yang berbudi baik, selalu menolong sesama, dan selalu memikirkan saudara-saudaranya. Tidak banyak yang Ia punya dan Ia bisa berikan untuk orang lain, tapi Ia selalu memikirkan keluarganya, selalu mengasihi, memberi pertolongan, dengan rezeki yang dimilikinya. Bahkan ketika sakit Ia masih sempat mengingatkan ibuku untuk membelikan keluargaku yang kesusahan untuk membelikan makanan bagi mereka. Ia tidak pernah egois memikirkan dirinya sendiri, Ia selalu mengalah dan mengedepankan kepentingan orang-orang yang lebih mebutuhkan.

Dari 3 bersaudara, aku anak terakhir dan perempuan satu-satunya yang dekat dengan Bapak. Paling dekat dibanding yang lain. Bapak selalu mau nurut sama aku. Bapak selalu mau dengerin apa kataku. Bapak selalu manja-manjain aku. Sampai ketika Ia pensiun, Ia pernah bilang kalau Ia tak akan lagi bisa membelikan apa-apa karena Ia tak lagi bekerja. Buatku itu bukanlah masalah karena aku pun tak bermimpi untuk hidup bermewah-mewahan. Bapak adalah orang yang perhitungan dan memiliki prioritas, Ia mengajarkan aku untuk hidup hemat dan jangan berlebih-lebihan, karena rezeki yang kita punya masih bisa kita simpan untuk di masa depan nanti.

Perjuaganku dengan Bapak mencapai puncaknya ketika aku hendak kuliah di Jakarta. Bapak selalu ingin aku jadi anak yang pintar, sekolahnya bagus, tapi tak rela melepaskanku kuliah dokter di Jakarta. Aku saat itu menangis-nangis menentang Bapak, dan akhirnya jadi jugalah aku kuliah di Jakarta. Alhamdulillah sampai saat ini, Bapak merestui sekolahku di Jakarta, walaupun saat itu Ia tidak setuju. Alamdulillah terakhir kali aku pamit kembali ke Jakarta tanggal 27 Januari lalu, Bapak masih sempat mendoakanku dan memelukku erat-erat, mungkin Ia tau itu terakhir kalinya kami bisa berpelukan. Sekarang, Bapak tak lagi bisa tau dan melihat perjuanganku menjadi dokter. Bapak tak sempat melihatku pakai jas putih dan diberi gelar dr. di depan namaku. Semua itu tak sempat dinikmatinya. Yang akan terus dirasakannya adalah amal jariyah karena telah mendidik anak yang insya Allah menjadi anak yang sholehah dan bisa berbuat baik bagi sesamanya. Yang bisa dinikmatinya adalah pahala yang terus mengalir mengisi pundi-pundi amal ibadahnya. Itulah yang akan jadi bekalnya.

Mulai hari ini, aku tak bisa lagi melihat Bapak di kasur tipisnya, terbaring lemas kurus. Mulai hari ini, aku tak bisa lagi membelikannya makanan kesukaannya, membuatkannya jus, teh hangat, mengantarkan susu, mencuci lapnya yang berdarah-darah, mengantarnya ke kamar mandi, membersihkan bekas ompolnya, menggunting kukunya, mengoleskan losion di kulit keringnya. Semuanya berhenti hari ini.

Apa yang masih kupunya? Kenangan.

Cuma kenangan yang aku punya. Cuma kenangan yang bisa mengingatkanku padanya. Pada keluhuran hatinya. Dan seluruh nilai-nilai yang selalu ditanamkannya untukku. Cuma itu yang aku punya dan cuma itu yang masih bisa aku bawa-bawa sampai nanti, sampai ketika aku menyusul Bapak juga.

Lalu apa yang masih bisa aku berikan untuknya? Doa dan amal.

Ketika nyawa telah tercabut tak ada lagi urusan dunia yang tersisa, semuanya menjadi penuh tentang akhirat. Sampai hari inilah, aku bisa berjuang mempersembahakan dunia untuk Bapak, karena setelah hari ini, yang bisa aku persembahkan hanyalah akhirat yang tenang untuknya. Jalan yang dimudahkan, amal yang terus mengalir, lapang kuburnya, terlepas dari siksaan Allah. Dengan menjadi anak yang sholehah, itulah yang bisa aku beri untuknya, sampai sinilah perjuanganku mempersembahkan dunia untuknya, mulai sekarang aku hanya bisa mempersembahkan akhirat untuk bapakku.

Air mata yang keluar tak akan bisa menandingi air mata Bapak yang menahan sakit setahun lebih belakangan ini, tak akan ada harganya air mataku dibanding perjuangan Bapak selama ini. Tak akan bisa dibanding-bandingkan. Kepergiannya adalah sesuatu yang telah aku ikhlaskan, aku relakan, dan aku serahkan semua kepada Allah. Kepergiannya begitu pilu terasa, tapi begitu bahagia juga aku melihatnya terlepas dari belenggu rasa sakit, begitu kuat Ia selama ini, begitu kokoh tubuhnya melawan, dan akhirnya sekarang Ia tak perlu sakit berjuang lagi, semuanya sudah lepas, sudah hilang...

Bapak, apapun yang masih engkau tinggalkan di dunia, baik itu ibu, kakak, keluargamu, hartamu, persoalanmu, dan seluruh nilai-nilai yang pernah engkau tebarkan di dunia, biarlah kini menjadi urusan kami yang masih ada di dunia. Hadapilah jalan barumu, yang penuh terang benderang, namun juga penuh lika liku. Semoga Allah melapangkan jalanmu, melapangkan kuburmu, menerima amal ibadahmu, mengampuni seluruh dosa-dosamu. Hadapilah dimensi barumu, dengan penuh sukacita dan kekuatan, bawalah seluruh amal ibadah yang kau perbuat di dunia, hadapilah Allah dengan imanmu.

Memilikimu sebagai ayah adalah takdir yang membahagiakan, menyenangkan, menenangkan. Takdir terbaik yang Allah beri untukku. Memberimu sakit itu adalah takdir terbaik juga dari Allah, agar kami sekeluarga kuat dalam ujian, dan juga agar engkau paham bahwa waktumu di dunia sudah tak lama lagi. Aku terima semua takdirku, dan aku jalani semua takdirku.

Selamat jalan Bapakku. Bukanlah perkara mudah menerima ini semua, tapi aku belajar, seiring berjalannya waktu, aku belajar banyak dari ujian ini, dan tentunya darimu.

Selamat jalan Bapakku. Aku relakan ketiadaanmu dari peristiwa penting hidupku. Ketiadaanmu di hari sumpah kepanitraan, di hari wisuda, di hari pernikahan, di hari kelahiran anakku, aku relakan semua itu berlangsung tanpa kehadiranmu.

Selamat jalan Bapakku. Terima kasih atas segalanya. Dan selamat menikmati kehidupan barumu tanpa ada lagi rasa sakit.

Aku menyayangimu, sangat menyayangimu, sampai jumpa di akhirat nanti.

Salam, Annisa Zakiroh

Hari ini Kamis, 4 April 2013 tepat sebulan Bapak meninggal dunia. Mohon dibacakan Al-Fatihah untuk Bapak (H. Suhariyono) bagi siapapun yang membaca tulisan ini. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima amal ibadahnya, melipatgandakan pahalanya, melapangkan kuburnya, memberi cahaya, dan semoga Bapak selalu dalam kedamaian di sisi yang terbaik yang Allah siapkan untuk Bapak. Amin ya rabbal'alamin.

Monday, April 01, 2013

mencintai, iba hati, kedukaan

"Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: 'dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan'. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita."

- Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran