Sunday, January 06, 2013

1 Direction for 1 Future

Tanggal 22 Desember 2012 lalu, saya sempat mengikuti sebuah acara yang diselenggarakan oleh BEM Pendidikan Dokter FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan CIMSA Lokal UIN, nama acaranya adalah 1D1F: One Direction for One Future

Jadi inti acara ini adalah ingin membantu mahasiswa kedokteran untuk menemukan jawaban dari 'kegalauan' dan kebimbangan mengenai masa depan setelah menjadi dokter. Karena banyaknya pilihan profesi setelah lulus sebagai sarjana kedokteran, tentunya mengikuti acara seperti ini menjadi penting, supaya bisa mendapat gambaran mengenai profesi apa yang akan ditempuh selanjutnya dan sesungguhnya minat apakah yang terdapat dalam diri namun belum ditemukan.




Rangkaian acara ini terdiri dari Seminar dan Tes Minat Bakat. Bukan sembarang Tes Minat Bakat, karena dari hasil tesnya, dapat mengetahui 5 pilihan teratas pendidikan dokter spesialis yang cocok sesuai dengan minat dan bakat. Dan saya sangat tertarik. Saya sendiri, jika memiliki kesempatan untuk mengambil pendidikan dokter spesialis, memiliki keinginan untuk memilih belajar mengenai THT (Telinga, Hidung dan Tenggorokan), atau onkologi. Karena saat ini ayah saya sedang mengidap kanker nasofaring, yang mana sangat berhubungan dengan dua bidang tersebut dan beliau sempat berpesan kepada saya untuk menggeluti kedua bidang tersebut yang menangani penyakit beliau. Tapi saya sendiri masih bingung mana yang paling tepat untuk saya.

Setelah mengikuti tesnya, hasilnya adalah...
Rekomendasi: 
(1) NEUROLOGY, (2) CARDIOLOGY, (3) UROLOGY, (4) THORACIC SURGERY, (5) INTERNAL MEDICINE.

Saya kaget. Karena saya sendiri tidak terlalu tertarik dengan bidang-bidang di atas. Kenapa? Karena boleh dibilang terlalu 'macho' untuk saya. Saya kalau-kalau mengambil pendidikan spesialis, ingin spesialis yang jam kerjanya agak ringan, karena saya perempuan, ingin lebih banyak di rumah mengurus keluarga, dan bidang-bidang di atas tidak termasuk pertimbangan saya. Dan reaksi saya cukup berlebihan ketika mengetahui hasil di atas. Teman-teman saya juga banyak yang bilang, "Buset, macho-macho amat, Zak..." Ada yang bilang "Gila, hasil lo kok keren-keren banget..."

Dan setelah mengikuti tes di atas, saya semakin bingung setelah jadi dokter mau lanjut jadi apa. Tapi kalau boleh memilih satu di antara kelima diatas, saya tetap tidak dapat memilih. 

Saturday, January 05, 2013

Cinta?

Setelah 5,5 tahun berpacaran, dan 2,5 tahun diantaranya dijalani secara jarak jauh, saya mungkin bisa benar-benar mengerti dan mendefinisikan apa itu namanya perasaan sayang, cinta, dan sebenarnya apa yang membuat proses berpacaran itu menjadi begitu berarti, pada akhir-akhir ini.

Banyak teman-teman yang suka bertanya apa alasan saya bisa bepacaran begitu lama, bahkan jarak jauh juga pacarannya. Saya suka bingung mau jawab apa. Kenapa bingung? Karena saya memang tidak punya alasan yang tepat untuk menjawabnya. Setiap hubungan punya cara masing-masing untuk terus berjalan tanpa hambatan. 

Banyak yang bilang, kunci sebuah hubungan adalah komunikasi, atau saling mengerti, atau apa saja. Tapi kalau buat saya, kunci dari sebuah hubungan adalah: mau menerima kekurangan pasangannya dengan ikhlas, dan tanpa banyak babibu.

Sempat waktu itu membaca tweet seseorang di twitter, kalau rasanya pacaran lama itu, ibarat berantem terus, tapi bedanya berantem itu selalu diakhiri dengan baikan, sehingga semuanya bisa diselesaikan dengan baik-baik. Dan saya lama-lama mulai bisa mengerti, kenapa hubungan ini masih terus berlanjut hingga sekarang.

Satu hal: tidak ada hal bisa memicu pertengkaran, salah paham, gangguan, atau pertikaian diantara saya dan Agung. Kenapa? Karena  kami sudah sama-sama mencapai tahap saling memahami kekurangan masing-masing dan mau menerimanya tanpa mempermasalahkannya. Dan disitulah saya merasa benar-benar tersentak, kalau semua ini, semuanya, bermula di titik tersebut. Dan saya sangat lega telah menemukannya. 

Terlalu banyak kekurangan saya, kekurangan Agung, kalau mau dihitung-hitung. Terlalu banyak perbedaan, terlalu banyak persoalan, masalah, dan selisih paham kalau mau kita anggap. Tapi semuanya, sekali lagi, semuanya, tidak pernah kami persoalkan, kami biarkan mengalir, dan selalu berusaha menjadi yang terbaik bagi pasangannya. Saat saya sibuk, Agung bisa maklum dengan mem-BBM hanya beberapa kali sehari, tanpa paksaan apapun, tanpa tendensi menginginkan saya untuk meladeni dia 24 jam. Bahkan malah selalu memberi semangat, masukan, ucapan-ucapan kebahagiaan, dan perkataan kemakluman yang melegakan hati. Dan saya selalu merasakan ada rasa beruntung yang begitu besar memilikinya.

Dan jika saya dalam posisi terendah dalam perjalanan panjang menjadi dokter, perjalanan hidup menghadapi cobaan, saya selalu mencari kebahagiaan pada Agung, mencari semangat darinya, dan dia selalu ada, disana. Tersenyum, penuh kebahagiaan dan kesediaan.

Saat itu, saat saya sedang sedih, saya selalu berusaha melihat masa depan, membayangkan masa depan saya, tujuan-tujuan hidup saya, untuk menyemangati saya agar tetap terus berjuang disini. Dan saat itu jugalah, saya melihatnya di masa depan saya, selalu dia.

Saya sudah menemukan apa yang membuat saya terus bertahan, karena kami sudah tidak punya lagi alasan untuk berpisah. Saya sudah menemukan alasan untuk saya terus berjuang, karena saya telah menemukan masa depan saya. Saya sudah menemukannya, tanpa perlu mencari. Dan dia hadir, tumbuh dan berkembang bersama saya, dan kami siap untuk waktu-waktu berikutnya...