Wednesday, December 11, 2013

sebuah ritme

kita mungkin tidak saling jatuh pada diri masing-masing sejak dulu, namun setelah 2 tahun berlalu
atau kita juga tidak sedang saling menjatuhkan diri pada sesuatu yang tidak seharusnya kita miliki
kita hanya berlabuh pada diri masing-masing disaat kita merasa butuh
kemudian kita berdiam lama-lama karena terkagum-kagum dan terlalu nyaman
lalu kita saling bertanya kenapa tidak kita tinggal dan diam saja pada diri masing-masing
lalu belajar dan mengenal dan mencari tahu sembari kita menjalani hidup di tempat yang sama
lalu kita saling bertemu lagi, lalu rasanya semua menjadi lebih masuk akal
dan kemudian kita merasa, sudah saatnya ini semua terjadi pada tempatnya.

selamat datang di kehidupanku, selamat menikmati perjalananmu.

Saturday, November 23, 2013

biasa

aku tidak terlalu yakin aku bisa menuliskan kalimat yang panjang untuk menjelaskanmu, karena aku pun tidak bisa merasakan dan menjelaskan apa-apa, tentang kamu, tentang ini, tentang aku. sejak terakhir kali aku menulis untuk seseorang, aku merasa aku tak akan mampu menuliskanmu sesuatu. maka biarkan sajalah ini menjadi begitu sederhana dan hambar, karena sulit sekali untuk aku utarakan, atau terlalu sulit juga untuk aku terjemahkan.

dengan segala perbedaan, kesederhanaan, segala-segala yang sangat biasa, atau kekakuan yang timbul. namun juga dengan intensitas yang begitu banyak, dengan kehadiran yang tidak mampu aku elak bahkan selalu aku tanya, aku hanya ingin berterima kasih banyak... karena telah membantuku begitu banyak dan tetap memakluminya dengan tanpa permintaan lebih.

...dan terima kasih banyak, untuk selalu ada, dengan segala yang berbeda, dan hal-hal aneh yang timbul. maka biarlah hal-hal biasa yang ada ini semoga selalu akan menjadi biasa, sampai kapanpun...

Sunday, November 10, 2013

akhirnya

entah kapan tepatnya tapi yang saya tahu antara akhir oktober menuju awal november. perlahan-lahan saya mulai bisa menerjemahkan setiap lirik dari lagu-lagu Sheila on 7 yang saya dengar setiap hari. lalu saya juga mulai terbiasa dengan rutinitas yang menyedot saya. terlebih lagi kehadiran orang-orang tertentu yang membuat saya cukup teralihkan. perlahan-lahan saya mulai menggunakan teori, logika, dan pemikiran di atas perasaan saya. karena ya benar, perasaan bisa diatur dengan pemikiran.

saya selalu gagal membuat keputusan, maka lebih baik saya menjalankan hasil keputusan dari orang lain. namun saya tidak kunjung diberi keputusan, sampai akhirnya saya secara tanpa sadar telah membuat keputusan bagi saya sendiri dan untuk beberapa pihak lainnya. keputusan yang saya ambil secara sepihak, diam-diam, disaat hari-hari saya terlalu padat untuk merenungkan apa-apa yang terjadi dan bagaimana kelanjutannya.

bukan karena saya terlalu lelah, kelewat capek dan hilang daya, ah tidak. itu semua masih bisa saya tambah terus dan saya perluas jika saya mau, saya selalu punya kekuatan lebih. namun mungkin saya sudah merasa saja. merasa yakin, mungkin? entahlah, setahu saya, saya sangat sulit merasa yakin, karena hidup saya terlalu penuh pertimbangan. namun keyakinan yang sudah ada tidak perlu terlalu dipersoalkan, karena pun dia muncul sendiri tanpa saya minta.

saya sempat berbincang sambil bercanda membicarakan tentang rencana. namun mungkin itu tidak terlalu perlu untuk dipusingkan. kedewasaan masing-masing yang sudah berada dalam genggaman sudah cukup untuk saling tenggang rasa. sekali lagi, bukan karena saya terlalu lelah atau terlalu sakit, saya hanya memiliki keyakinan yang walaupun itu sedikit tapi cukup meyakinkan.

lalu entah saya juga bingung harus memulai darimana. bisa banyak sekali interpretasi terhadap tulisan ini, tergantung siapa yang membacanya, tapi interpretasi yang paling tepat hanya berada dalam genggaman saya, karena pun saya menulis ini dengan begitu sederhana dan apa adanya, tanpa tendensi apa-apa. hanya sebuah tulisan yang jika kelak saya baca lagi, saya jadi mengerti apa yang pernah saya rasakan.

oh ya saya sampai lupa saya sedang mempermasalahkan harus memulai semuanya dari mana. ah ya ampun masa sih saya lupa kalau rencana-Nya lebih hebat dari apa yang saya punya, lalu buat apa saya terlalu lelah memikirkan apa-apa yang diberikan kepada saya, yang selalu datang ketika saya minta maupun ketika saya tak pinta. ya, biarlah saja semuanya mengalir sesuai dengan arus-Nya, namun saya tetap bisa kokoh di perahu dan saya juga tetap punya dua dayung di kanan dan kiri, yang saya ibaratkan sebagai pikiran dan hati kecil saya. hati kecil saya tidak pernah berbohong, karena itu saya selalu mengikutinya, mau seberat apapun dan sebesar apapun ombak dan arus yang saya lawan. dan pikiran saya bisa dijadikan sebagai penyelamat, dia bisa menerima, mendengar, dan kemudian mengolah segalanya menjadi lebih seimbang.

maka pada akhirnya, semua akan bertemu pula dengan akhirnya. jangan takut pada apa yang akan datang, karena begitu ini sampai, pasti dia juga telah disisipi kesiapan dan kekuatan, yang tidak mampu dinalar oleh manusia saja.

maka pada akhirnya, semua akan bertemu pula dengan akhirnya. ada beberapa hal yang perlu saya ingatkan saja disini, bahwa orang itu cuma satu, dan itu saya. lalu kembali saya ingatkan, bahwa segalanya memiliki akhir, maka disinilah yang mungkin saya bisa sebut sebagai akhir.

tidak perlu ada kata sampai jumpa lagi, karena ya disinilah sudah kita bertemu pada akhirnya. akhirnya :)

Saturday, November 02, 2013

kadang-kadang

kadang-kadang, kita tidak pernah tau kenapa semuanya berjalan dan berhadapan secara berkebalikan. tapi kadang-kadang, yang kita tahu, itu diciptakan begitu supaya perjalanan kita penuh dengan liku.

kadang-kadang kita sadar waktunya sudah datang, kita bisa bilang "Ini dia waktu yang paling tepat!", namun selalu ada saja kesempatan yang membelokkan keyakinan.

kadang-kadang kita terjatuh, semua orang datang berbondong-bondong mengangkat dan menguatkan. semua bilang kita harus segera bangkit, segera. bahkan berbagai cara mereka tempuh untuk membangun kita kembali.

kadang-kadang kita bertemu dengan sebuah galah pelompat, yang mampu membuat langkah kita beribu-ribu jauh lebih jauh. namun kadang-kadang orang-orang yang kita sayang tidak suka galah itu.

kadang-kadang kita sudah punya sikap yang kuat, kadang-kadang kita sudah yakin dengan pilihan kita. justru disaat itulah, kadang-kadang orang-orang yang biasa mendukung kita malah berkebalikannya.

kadang-kadang di mata kita, kita sudah menemukan jalan yang terbaik, optimis sekali dengan jalan itu, namun justru sekeliling malah meragukannya, entah kenapa. kita jadi berpikir-pikir ulang.

kadang-kadang kita berhenti berbicara untuk meredam konflik yang mungkin timbul. karena semakin banyak bicara akan semakin banyak lagi pikiran-pikiran yang meracuni.

ya seperti yang sudah kubilang, kadang-kadang semuanya berjalan berkebalikan, selalu berlawanan, tapi selama kita masih merasakan seperti itu, artinya kita masih memiliki hidup dalam genggaman.

Thursday, October 03, 2013

dua oktober malam menuju tiga oktober

20 tahun coy! jadi ini isi kepala saya pada tanggal dua oktober malam menjelang tiga oktober, dua ribu tiga belas. selamat membaca...

sebagai orang yang cukup drama dan sensitif dengan hal-hal yang bawa-bawa perasaan, yang perlu ditegaskan kalau saya termasuk yang gampang nangis, gampang tersentuh, gampang kebawa suasana, gampang terenyuh, nah normalnya aja udah 'gampang', apalagi kalau patologisnya, efeknya bisa bekali-kali lipat. jadi jangan kaget lah harusnya kalau kemarin saya galau begitu-begitu amat, hihihi.

saya juga anaknya 'moment banget', apa itu 'moment banget'? jadi saya itu ngga peduli ada apa, dimana, berapa duit yang keluar, exposure apa yang didapat, siapa aja, saya suka ngga peduli, yang saya peduli adalah mindset saya sendiri tentang sebuah moment, sebuah peristiwa, mau seindah, semagis, semahal, semeriah apapun sebuah moment, tapi kalau detil-detil yang tercantum dalam mindset saya tidak terconteng, tetap tidak akan jadi sesuatu buat saya. jadi apabila sebuah moment itu terlewati dengan sangat sederhana, tapi semua detil saya terconteng, itu akan sangat membahagiakan daripada saya melewati sebuah moment dengan meriah tapi saya merasa tersesat, kehilangan, dan merasa ada yang kurang, itu akan menjadi sangat-sangat tidak memuaskan. secara benang merahnya, saya lebih menitikberatkan pada orang-orang yang ada di moment itu, atau detil-detil tertentu yang ada di kepala saya. kadang saya mau orang-orang A, saya mau orang-orang B, saya mau benda C, saya mau waktu D daripada waktu E, saya lebih suka jalanan F daripada jalanan G, saya maunya yang diputer itu lagu H, saya maunya yang saya cium itu bau I, yah gitu-gitu deh...  mungkin orang-orang yang kenal dekat dengan saya yang bisa ngerti soal ini, hihihi.

yang begini-begini ini yang suka menyedot terlalu banyak energi dan pikiran saya, jadi saya suka terkekang di kepala saya sendiri. tapi sebenernya sekarang sudah jauh agak lumayan, kok! ada beberapa hal esensial yang tidak akan bisa orang lain tutup dan hapus dari saya, kalau kesannya ini menghilang dari saya, mungkin hanya sedang berusaha saya tutupi, atau benar-benar sedang saya coba hilangkan. beberapa hal ini sebenarnya kadang menurut saya mudah dan murah, tidak terlalu banyak tuntutan, namun justru di mata orang lain akan menjadi sangat menuntut. tapi yasudahlah.

nah ini dia lho beberapa detail yang saya mau ada di 20 tahun saya, supaya dua oktober dua ribu tiga belas bisa jadi 'moment banget'...

1. semua sahabat SMP saya inget dan ngucapin, karena biasanya ada aja yang kelupaan... Dea orang pertama yang ngucapin jam dua belas lewat dikitlah, doi ngucapin via BBM, disusul Agung yang ngucapin udah kayak kredit, kepotong-potong, hahaha dasar bocah, trus pagi-pagi Alfi ngucapin di twitter, sorenya Cipeng SMS, dan malemnya Oi BBM. selesai, bahagia! kenapa ini ditaruh di posisi pertama, alasannya ada di poin kedua.

2. pagi-pagi Ibu saya telfon tapi kayaknya saya masih somnolen trus saya iya iya aja dan saya lupa Ibu saya ngomong apa. abis itu Ibu saya ganti DP dan status BBM edisi ulang tahun saya, trus ngucapin via BBM. kakak saya yang kedua dan istrinya ngucapin via BBM. kakak saya yang pertama dan istrinya lupa kayaknya, kelamaan mainan sama cucian. di keluarga saya, ulang tahun bukan sesuatu yang penting, jadi kalo lupa, ngga ngucapin, itu biasa, jadi jangan ngarep dikasi kado apalagi... makanya ini ditaruh di poin kedua. selesai, bahagia!

3. temen-temen kampus inget, ngucapin, peluk-pelukin; dari yang deket banget kayak cunteks (Silmi, Wulan, Mada, Farah, Rissa, Riwi), sampai temen main atau curhat-curhatan (Nikken, Tiara, Timeh

hari ini saya jalani dengan santai tapi bahagia, lempeng-lempeng nyenengin. masuk kuliah jam sembilan, jadi bisa tidur sampai jam delapan, baru mandi jam setengah sembilan, trus ujian praktikum dapet gelombang pertama-pertama banget, lima belas orang pertama, jadi aura-auranya ngga tegang-tegang bangetlah, tapi lega sih ujian duluan, plong gitu, walaupun a. suprarenal malah dijawab a. adrenales, trus duktus wirsungii malah dijawab duktus kolektivus (apaan sih emangnya ginjal?!), ketauan banget skip anatominya... abis ujian sambil nunggu semua selesai ujian saya dan teman-teman ngobrol-ngobrol manja sambil main game mafia yang lagi tren banget, abis main game, eh udah boleh ngambil tas, abis itu ke kantin makan nasi + ayam goreng di kantin yang ayam gorengnya ngga ada rasanya, sedih... trus ujian KKD Family Conference sejam-an, abis itu ngobrol-ngobrol lagi, trus sebelum pulang mampir beli es teh tarik paka cincau, trus pulang ke kosan, tidur sore diiringi "Take Me Home"-nya US, youtube-an pake handphone yang nyedot pulsa saya sampai Rp. 0 karena ternyata bonus kuota saya entah kenapa ngga berlaku tau deh, trus bangun-bangun udah maghrib, trus saya beli mi rebus kari ayam idaman hati dan raga di warteg pengkolan, main ke kosan Tiara sampai jam 10, niatnya mau belajar tiroid eh tapi malah bacain blog orang sambil ketawa-ketawa... trus sekarang udah di kosan lagi, barusan ada yang absen, trus saya mau tidur tapi ngga ngantuk.

percakapan hari ini:
"Gue agak emosional sih semalem, begitu jam 12.00 dan gue liat tanggal udah berubah jadi dua oktober, gue kayak... ada yang lepas, ada yang terbang dari sesek dada gue, trus gue nangis... oke gue drama, lo semua tau gue drama, gue nangis sendiri, terharu aja gue udah 20 tahun..."

*semua yang dengerin pada ketawa-ketawa*
"Trus abis jam dua belas sepi-sepi aja kan... trus gue bingung gue mau nungguin siapa, nyokap gue udah tidur, lah BBM gue ngga di-read, pacar ngga punya, eh temen gue yang deket banget BBM, ngucapin, orang pertama tuh dia... tapi akhirnya orang yang gue tunggu ngucapin, baru deh gue bisa tidur..."

Renungan 20 tahun:
ya Allah, apa yang aku punya, apa yang engkau beri, aku yang engkau ambil, apa yang engkau titipkan, apa yang aku usahakan, apa yang engkau janjikan, semuanya kepunyaanmu, maka ujilah aku terus sampai aku benar-benar memahami ilmu ikhlas-Mu... maka inilah aku dengan segala kelemahan dan kerendahan, dimana hanya dariMu lah aku memiliki kekuatan...

Sunday, September 29, 2013

aku ingin menutup mata, telinga, dan perasaanmu



boleh aku tutup kedua matamu sekarang, sayang?
aku ingin kamu merasakan apa yang bisa aku lakukan untukmu, bukan melihatnya
boleh aku tutup kedua telingamu sekarang, sayang?
aku ingin kamu berhenti mendengar ocehanku dan mulai merasakanku bukan dengan kata-kata
aku ingin mematikan indra penglihatan dan pendengaranmu, namun biarlah indra perasamu tetap disitu

aku ingin bicara sayang, banyak yang ingin aku katakan dan luapkan kepadamu
tapi waktu kita terlalu sedikit, waktu kita tidak banyak, dan terlalu terbatas
kadang aku dan kamu tersita oleh hari-hari kita sendiri
atau kadang kamu berpaling terlalu jauh, atau aku memudar terlalu cepat
kita tidak punya banyak waktu, kita tidak punya banyak cara, kita selalu saja
selalu saja aku merasa ada yang kurang, atau selalu saja aku merasa ada yang tidak tepat

aku ingin melempar kata-kata yang kugenggam terlalu lama di pikiranku
aku ingin mengalirkan air mata kalaupun itu perlu dan aku bisa di pundakmu
aku ingin melontarkan amarah-amarahku di depan wajahmu yang teduh
aku ingin mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang berputar di darahku
tapi sekali lagi sayang, kita tidak punya banyak waktu
aku, kamu, kita tidak punya banyak waktu lagi sekarang

maka biarlah waktu berjalan menutup semuanya pelan-pelan sembari mengajarkanku
biarlah waktu berlalu sambil memudarkan kegelisahan-kegelisahan malamku
dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dan kerisauan yang menggerogoti hari-hari kita
biarkan waktu yang mengajarkanku untuk diam, bukan lagi kamu sayang
biarkan waktu yang sudah terlalu sedikit untuk kita nikmati berdua, aku jalani sendiri saja

aku ingin berucap, aku ingin berkata, aku ingin meyakinkan, aku ingin melarang, aku ingin bilang jangan
namun sekali lagi, kita tidak punya banyak waktu sekarang
maka bolehkah aku tutup telingamu sekarang, sayang?
biar kamu bisa lihat dan mengamati aku dari kejauhan tanpa perlu mendengar aku bicara
biar kamu yakin dan percaya, biar kamu berhenti dan mengiyakan, biar kamu tahu dan menyimpulkan
semuanya dengan sendirinya

aku ingin menunjukkan, aku ingin melakukan, aku ingin memperlihatkan, aku ingin mempertontonkan
namun sekali lagi, kita tidak punya banyak waktu sekarang
maka bolehkah aku tutup matamu sekarang, sayang?
biar cukup hatimu saja yang merasakannya tanpa perlu kedua matamu menyaksikannya
biar cukup perasaanmu saja yang membawamu pada tujuan-tujuan yang ingin aku capai
atau kalaupun hatimu tak mampu merasakannya, mungkin memang kenginanku tidak akan pernah sampai

lalu sekarang, boleh aku tutup perasaanmu, sayang?
biar saja waktu yang semakin sedikit menjadi semakin sedikit
biar saja waktu yang semakin sedikit berjalan semakin cepat meninggalkan
biar saja waktu yang semakin sedikit menghapus pertanyaan-pertanyaan
biar saja waktu yang semakin sedikit berubah menjadi jawaban

maka jika kamu mengizinkanku untuk melakukannya sayang,
maka habislah sudah aku secara seluruhnya
karena jika mata, telinga, dan hatimu sudah aku tutup semua
bukan lagi omongan, tindakan, dan perasaan yang bekerja sayang
biarlah sebuah rahasia kecil diantara kita yang belum pernah kita ungkapkan mempertemukan kita kembali

Friday, September 27, 2013

datang, temui, dengar, dan diamkan

"Kalau ada orang di dunia ini yang paling bikin aku iri ya dia, aku iri banget sama dia, dari dulu, bahkan mungkin sampai sekarang. Aku ngga tau apa yang dia lakukan ke kamu sampai bisa bikin kamu sebegitunya dulu."

"Dia ngga ngapa-ngapain, dia kacau, asal-asalan, kalo ngomong juga ngasal, tapi setiap dia ngomong serius, cukup satu kalimat aja, aku bisa langsung diem dan mikir."

"Mungkin setelah gue pikir-pikir, gue tuh takluk sama cowok yang bisa bikin gue diem, karena gue cerewet banget, dan gue ngga bisa diem, gue ngga bisa nahan untuk ngga ngeluarin apa yang ada di pikiran dan perasaan gue. Lo tau kan, kalau ada orang ngomong aja rasanya pengen langsung gue potong kalau ngga sesuai sama pikiran gue."

"Iya bener, gue tau. Tapi ternyata lo kebalikannya dari gue; kalo lo butuh orang yang bisa mendiamkan elo, gue butuh orang yang kalau sama dia gue bisa cerita apapun yang ada di pikiran gue, karena gue ngga bisa terbuka sama orang, jadi kalau gue bisa terbuka, itu artinya gue udah nyaman sama orang itu."

Lalu aku mencari dari hilir mudik orang yang lalu lalang, berapa percakapan yang aku habiskan dalam diam, dan berapa pembicaraan yang diakhiri bukan dengan kalimat dari mulutku. Lalu aku mulai menghitung berapa banyak orang yang pernah melakukannya di depanku, dan aku mulai tersadar kalau satu bisa mendiamkan aku saat itu juga, sementara satu lainnya butuh beribu-ribu percakapan sebelum di dalam sebuah percakapan berikutnya aku medapati diriku terdiam dan mendengarkan. Aku ingin menumpahkan isi kepala dan dada yang mulai datar tak bergejolak, aku ingin menjabarkannya dengan naik turun irama cerita, dan aku ingin didiamkan dengan satu kalimat penyelesaian yang selanjutnya menuntutku untuk berpikir.

Siapapun itu; datang, temui, dengar, dan diamkan aku, segera.

Thursday, September 26, 2013

menjadi dewasa

kurang lebih sepekan lagi saya akan memiliki usia berkepala dua. rasanya tidak ingin, masih ingin jadi anak belasan tahun, masih ingin bangga menyebut "Gue masih 19 tahun, dong!". mungkin buat beberapa orang, menjadi 20 tahun adalah sebuah proses biasa, bagi sebagian lainnya begitu membahagiakan karena akhirnya bisa berkepala dua, dan bagi sebagian lainnya lagi -termasuk saya- ini tentu sesuatu yang cukup berat karena usia berkepala dua bukan lagi waktunya bermain-main.

yang jadi pikiran berat di kepala saya sejak saya masih berusia 17 tahun adalah... "Gila gue 20 tahun belum ngapa-ngapain, biasa banget, ngga punya prestasi, bukan siapa-siapa, 20 tahun hidup gue ngapain aja coba..." dan ternyata 3 tahun berlalu, yang masih ada di pikiran saya juga hal yang sama, sepekan lagi saya In Shaa Allah berusia 20 tahun, dan saya belum jadi apa-apa.

saya adalah seorang mahasiswa kedokteran tingkat 3 di sebuah Universitas Negeri di Jakarta coret, tepatnya Ciputat. sebentar lagi saya akan mulai mengerjakan riset saya sebagai syarat lulus sebagai sarjana kedokteran. tahun depan, In Shaa Allah saya akan memasuki dunia klinik dan menjadi koas di Rumah Sakit Fatmawati. 2,5 tahun koas, setelah itu saya bisa ikut UKDI dan selanjutnya sumpah dokter. jadi secara total saya butuh empat tahun lagi untuk menjadi seorang dokter, itupun kalau lancar, ya Allah lancarkanlah, Amin.

di usia hampir 20 tahun inilah saya baru mulai sadar kalau saya cuma dewasa di luarnya aja, ibarat risoles, kulitnya sih udah keemasan, tapi ternyata isinya masih ada yang mentah... seseorang berkata tepat di depan wajah saya "Kamu tuh luarnya aja yang dewasa, dalamnya... kekanak-kanakan." Saya cuma bisa diam, berusaha menahan elakkan saya terhadapa kata-kata itu, dan lebih memilih untuk menerimanya.

boleh dibilang tahun 2013 mungkin tahun yang cukup gila-gilaan untuk saya. naik turunnya cukup drastis. kenapa 2013? entahlah, rencana Allah selalu lebih indah. saya percaya, selalu percaya, kalau yang menyenangkan itu hanya bersifat sementara, dan yang menyedihkan juga pasti akan bersifat sementara, semua pasti akan menemukan akhir, kemudian berganti fasenya. jadi nikmati sajalah setiap fasenya, jalani sajalah dengan bahagia. 

namun apabila telah berakhir, bukan berarti semuanya akan semakin mudah, pernah saya bicara kepada seorang teman "Semangat, lo harus percaya kalo lo bisa ngelewatinnya, kalau ini udah selese pasti lo bakal lega dan seneng, tapi inget, bukan berarti abis ini semuanya jad lebih mudah, ngga mungkin, bohong kalau ada yang bilang semua akan lebih mudah, semakin tua tantangan kita akan semakin berat, dan lo harus siap, setelah ini pasti lo akan lebih siap ngadepin tantangan berikutnya."

kalau dipikir-pikir, di usia 19 tahun ini, banyak juga yang telah saya lewati. dan kalau saya kembalikan omongan itu ke diri saya, saya jadi bertanya, seberat apa lagi tantangan saya di depan sana? kalau yang kemarin saja sudah membuat nilai-nilai saya jatuh, saya sakit-sakitan, saya hilang fokus, saya tidak tenang, harus sebesar apa lagi tantangannya?

tapi saya juga ingat kok, kalau semuanya seimbang, dibalik kesedihan pasti ada kesenangan. dibalik berbulan-bulan kemarin saya benar-benar kehilangan, sekarang saya sudah kembali menemukan. entah apalagi yang terjadi setelah ini, saya tidak tahu tapi saya selalu siap.

sekarang saya berhenti mengarang, merancang, berasumsi, dan memikirkan terlalu dalam. karena saya lelah. saya ingin bebas, saya ingin lepas, saya ingin tenang dan menjalaninya dengan sukacita penuh bahagia gejolak anak muda. salah satu kata-kata teman saya yang saya ingat "Karena kita belum pernah hidup di masa depan, Zak. jadi kita ngga tau mana yang terbaik buat kita."

seseorang berkata pada saya waktu itu "semakin dewasa, kita akan semakin tahu mana yang perlu kita bicarakan atau kita simpan, mana yang perlu kita bahas atau kita buang, mana yang perlu dijadikan masalah mana yang didiemin aja, kita sudah dewasa sekarang, kita sudah tau mana yang benar dan salah. suatu saat kamu akan seneng kok, kalau kamu bisa membedakan mana yang perlu dibesar-besarkan dengan sesuatu yang tidak perlu kamu tanggapi, kamu pasti ngerti."

menjadi dewasa itu... saya belum tau tepatnya seperti apa. tapi saya harus mulai mecoba.

terima kasih kepada...
1. Ibuku yang tidak pernah berhenti menjadi sahabat terbaikku, yang selalu menerima dan melapangkan dadanya dengan seluruhnya aku sebagai seorang anak agar aku selalu belajar tentang hidup.
2. Kamu, seseorang yang tidak pernah aku mengerti entah apa yang ada di pikiran dan hati kamu, tapi kamu selalu berhasil membuat aku jadi lebih baik.

selamat datang usia 20 tahun, aku siap dengan tantangan berikutnya.

Tuesday, August 20, 2013

getting hurt and feeling regret



saya lebih pilih merasa sakit karena mengambil sebuah resiko, daripada merasa menyesal karena tidak pernah mencoba. karena sakit bisa sembuh, namun penyesalan tidak akan pernah bisa saya apa-apakan.

Monday, August 12, 2013

PATIENCE?

 

"Nothing GREAT ever came THAT easy", we need HARD-WORK and PATIENCE.
If I already found HARD-WORK(s) everywhere, then where I could find PATIENCE?

- Inspired by @raisa6690's post on her instagram accout


Monday, July 22, 2013

Masa Depan

Kita selalu tertarik dan bertanya-tanya tentang masa depan, karena masa depan itu seru, penuh kejutan, banyak kemungkinan, dan tidak ada yang pasti dengan masa depan.

Masa depan itu dekat, karena apapun yang kita lakukan sekarang, selalu membawa masa depan tertentu untuk kita; begitu dekatnya kita dengan masa depan.

Masa depan itu jauh, karena Ia tidak disini, tidak tergapai, tidak terengkuh; tapi Ia selalu ada disana. Itulah jarak yang membatasi kita dengan masa depan.

Selalu ada yang seru dan menarik dari masa depan, karena Ia begitu jauh dan tak tertebak; namun juga selalu ada yang menakutkan dan menghantui dari masa depan; karena Ia begitu dekat dan menuntut kita untuk bertindak sekarang juga.

Aku semakin tidak sabar dengan masa depan, rasa-rasanya aku ingin segera bertemu dengannya. Tapi aku juga belum siap bertemu masa depan, aku masih terlalu dini.

"Hai masa depan, aku siap-siap dulu ya, aku mau jadi pribadi yang matang dan dewasa untuk bertemu denganmu, agar aku siap dengan seluruh tantangan yang kamu bawa nanti. Duh aku selalu suka tantangan. Hai masa depan, tunggu aku ya!"

Mendengarkan dan Berbicara

Setengah tahun lebih 2013 berjalan, boleh dibilang inilah setengah tahun penuh pembelajaran buat saya, setengah tahun yang paling seru dan tidak terduga-duga. Jika disederhanakan, pembelajaran yang saya dapatkan bisa dibagi menjadi belajar di kampus, luar kampus, dan belajar hidup. Jangan pikir kalau yang saya maksud disini hanya belajar di kampus, yang saya maksud adalah belajar, secara keseluruhan, apapun yang baru dan bisa saya pahami, itu artinya baru saja saya pelajari. Saya pernah tweet begini beberapa hari yang lalu.


Kata-katanya klise sih, semua pasti pernah dengar, tapi sekarang-sekarang inilah saya sadar kata-kata itu memang benar, dan saya sangat yakin makna kata 'belajar' itu luar biasa, dan saya rasanya tidak ingin berhenti untuk belajar.

Saya suka sekali bicara. Saya sadar sekali malahan kalau saya lebih suka didengar daripada mendengarkan. Menurut saya itu tidak salah, tapi harus diseimbangkan saja. Tapi saya juga seseorang yang auditori; saya mudah belajar apapun dengan mendengarkan, hal ini sudah sering saya buktikan kalau saya kepepet mau ujian atau diskusi kelompok tapi bahannya masih mentah, saya biasanya mendengar dan menyerap pembicaraan orang-orang.

So I like to speak, and I like to be listened.

Dan bagaimanakah proses belajar saya? Saya belajar dengan mendengarkan, dan berbicara. Saya mendengarkan pembicaraan orang-orang, meskipun orang-orang tersebut tidak sedang bicara dengan saya, saya berusaha mendengarkan tanpa bermaksud menguping, saya hanya berusaha menyerap apa yang bisa saya serap saat itu. Setelah menyerap, saya biasanya mencari tahu, kemudian saya mengerti, disitulah saya belajar. Saya juga berbicara saat orang mau mendengar saya, atau ketika tidak ada yang mendengar, saya terbiasa berbicara sendiri di dalam pikiran saya, atau berbicara sendiri dengan bayangan, karena ketika saya bicara, walaupun tidak ada yang mendengar, saya akan berusaha mencari kata-kata yang tepat dalam pikiran saya untuk mengungkapkan apa yang ingin saya katakan, dan disitulah saya belajar, disitulah saya sering menemukan kata-kata yang baik dan penting buat saya.

Saya menyeimbangkan mendengar saya dengan beberapa cara. Pertama, saya harus selalu merasa saya butuh untuk tahu, dan saya harus tahu dengan cara mencari tahu. Kedua, saya harus selalu merasa saya belum mengerti, sehingga saya selalu sedia untuk diberi dan diajari, tanpa rasa gengsi. Ketiga, saya harus selalu merasa saya bukan apa-apa atau bukan siapa-siapa, sehingga saya berhak untuk diberi apapun dari siapapun, tanpa perbedaan. Dan keempat, saya harus sadar kalau saya sedang belajar, dan saya harus siap salah dan ditegur ketika salah, karena disitulah, saya belajar lagi.

Dan bagaimana saya menyeimbangkan bicara saya, saya melakukannya dengan beberapa cara juga. Pertama, saya sadar saya cenderung memberi perintah/commander, maka saya harus bisa memberikan perintah/command yang baik agar mudah dimengerti. Kedua, saya harus sadar dan benar-benar paham posisi dan kadar pengetahuan saya akan sesuatu, maka saya akan bicara sesuai dengan kadar saya. Ketiga, saya harus sadar kalau tidak semua orang ingin mendengar pembicaraan saya, jadi saya harus bisa mengemas pembicaraan yang baik dan cukup. Keempat, saya harus sadar kalau apa yang saya ketahui bukan segalanya, jadi apa yang saya bicarakan juga pasti bisa salah, dan jangan pernah marah jika dibenarkan, karena disitulah sekali lagi, saya belajar.

Dan bagaimana saya bisa melatih mendengar dan berbicara, kemudian belajar darinya? Cuma satu cara: ngobrol, atau berbincang-bincang. Satu cara yang penting dan itulah pintu bagi semuanya. Ngobrol dengan siapa? Dengan siapa saja, karena setiap orang akan memberi pelajaran yang berbeda dan penuh kejutan. Ngobrolin apa? Boleh bicara apa saja, karena setiap pembicaraan lama akan memancing pembicaraan baru, setiap topik lama akan melebar ke topik baru, begitupun seterusnya. Lalu kapan harus ngobrol? Kapan saja bisa, karena semuanya penuh kejutan, dan kejutan tidak mengenal waktu, jadi jangan terpaku kepada waktu.

Berikut adalah beberapa obrolan yang saya ingat dan cukup membuat saya belajar.
W (Staf seminar IYC 2013): "Zak gimana TOR buat pembicara Pitstop?" 
A (tipe commander): "Lah kan udah aku kasitau di milis... Makanya di check dong" 
R (Ketua IYC 2013): "Biasa... Harus lebih banyak ngobrol, Zak..." 
Deg! Segitu perlunya ya ngobrol? Saya jadi sadar.
A (perempuan): "Gimana rasanya abis putus?"
L (laki-laki): "Yah gue sih sekarang udah biasa aja, dulu ya juga galau" 
A: "Trus perasaan lo sendiri sekarang sebenernya gimana?"
L: "Yah kalo gue sih, putus dari gue terserah lo (mantan pacarnya) mau jadian dan pacaran sama siapa aja, yang penting lo ijab qabulnya sama gue, sekarang gue banyak-banyakin sholat aja."
Manis sekali, pikir saya :-)
A: "Trus kapan nih dijadiin?"
I:  "Gue ga mau buru-buru lah, gue pengen lebih saling mengenal aja, lagian gue pengen dia tau bandelnya gue, ya bandelnya gue ya gue males sholat, suka bolos, ya gue pengen dia tau aja"
A: "Tapi bandelnya lo tuh masih terukur gitu lho menurut gue, keliatan dari muka lo sik"
I: "Tapi kalo lo tau kekurangan dari seseorang lo pasti ada kecendrungan untuk mengubah orang itu kan"
A: "Ga sih kalo gue, karena ya sekarang gue lebih bisa nerima orang apa adanya, gue lebih milih untuk jadi lebih baik bareng-bareng sih"
I: "Ah masa sih... Pastilah lo ada keinginan itu"
Abis itu saya kaget sama omongan saya sendiri.
C: "Hahaha bodoh banget dia... Bego banget. That's my friend, itulah temen deket gue tuh"
A: "Santai aja sih, lagian gue juga udah bisa terima kok semua jelek-jeleknya, mau dia ngapain kek, buat gue dia cuma lagi belajar brengsek aja, biar tau lah mana yang bener mana yang salah ga gitu-gitu aja"
C: "Good... Good... Bagus kalo gitu"
D: "Ati-ati jadi brengsek beneran sih..."
Lagi-lagi saya juga kaget, selapang itukah saya?
A: "Gue udah ada gitu yang baru, tapi belum dideketin sih, tapi gue tau aja ada apa-apa"
L: "Yah kalo belum dideketin sih itu namanya lo yang ge-er"
Njir iya juga yak!

Pada setiap akhir pembicaraan, saya selalu bisa merasakan getir, sesuatu yang baru, yang baru saja saya sadari atau baru saja saya ketahui, yang kadang-kadang itu bisa menjawab pertanyaan yang berputar di pikiran saya, atau mematahkan asumsi saya. Bisa juga menuntut saya untuk lebih mencari tahu lagi, mengajak saya untuk introspeksi, atau membuat saya bersyukur pernah terlibat dalam pembicaraan tersebut. Kadang-kadang saya malah tersadar tentang perubahan cara pandang saya saat sedang ngobrol, kata-kata yang keluar saking spontannya saya jadi takjub kalau pemikiran saya sudah berubah sejauh itu.

Dan pada akhirnya; setelah saya belajar untuk menyeimbangkan pendengaran dan pembicaraan saya, jadilah saya, si pendengar dimanapun saya berada. Karena saya selalu merasa haus, dan saya selalu butuh yang baru. Yang saya perlukan hanya keterbukaan diri dan pikiran saya, kemudian kesediaan saya untuk mendengar disaat orang lain enggan mendengar saya. Karena sekali lagi, belajar itu bisa dimanapun, kapanpun, dan dari siapapun, dan saya selalu siap untuk belajar.

Sunday, July 21, 2013

End

"I won't ask you to stay, I want you to find your own reason; to stay or to leave.
Everything has its end, so does this feeling.
See you at the finish line."

Wednesday, July 17, 2013

5+1=6

persetan dengan masa lalu, aku hanya ingin terus bersama lima orang ini, selamanya.
persetan dengan masa depan, aku bersyukur punya lima orang ini, hari ini.

2008
Dea - Nisa | SMA Negeri 1 Balikpapan

2009
Luthfan - Oi - Agung - Dea - Nisa (the one who took this photo) | E-walk, Balikpapan

2010
Alfi - Nisa | Ciwalk, Bandung

2011
Alfi - Dea - Luthfan - Nisa (the one behind the camera) | Plaza Balikpapan, Balikpapan

2012
Oi - Agung - Alfi - Nisa | Ciwalk, Bandung

2013
Oi - Luthfan - Dea - Nisa | Senayan City, Jakarta

persetan dengan segalanya, aku cuma mau kalian berlima, utuh kita berenam.

Sunday, July 14, 2013

aku ingin berterima kasih



aku ingin berterima kasih

karena telah menitipkan berjuta rasa yang tak mampu untuk aku ungkapkan dengan kata-kata
karena selalu membuat aku bahagia dengan beribu cara yang kamu punya

aku ingin berterima kasih

karena selalu menjadi alasan dan jawaban atas semua pertanyaan dan keraguanku
dan memang hanya kamu yang aku inginkan untuk selalu ada disini, untukku

aku ingin berterima kasih

karena pernah mengizinkanku untuk memiliki, mengasihi, menjaga, dan menyayangimu
karena pernah mengizinkanku memberi cinta dan semua yang kamu inginkan

aku ingin berterima kasih

karena pernah mengizinkan aku untuk mewujudkan semua impian dan harapanmu menjadi kenyataan
karena pernah mengizinkan aku untuk berusaha melakukannya, dengan kemampuanku

aku ingin berterima kasih

karena pernah menjadi pilihanku, walau aku tidak tahu apa kamu yang terakhir dalam hidupku

karena pernah menjadi yang pertama, yang pernah ada di saat pagi ku membuka mata

aku tidak pernah tahu

siapa yang terakhir, dan siapa yang jadi selamanya
tapi aku selalu tau, kamu yang pertama

Thursday, July 11, 2013

9 bulan bersama Indonesian Youth Conference 2013

berikut adalah rangkain tweet yang saya post di twitter saya @annisazakiroh hari Minggu 7 Juli 2013 lalu, tepat satu hari setelah penyelenggaraan Festival Indonesian Youth Conference 2013, yang berarti bahwa posisi saya sebagai panitia pelaksana IYC 2013 telah selesai.













































Sekali lagi, terima kasih untuk segalanya IYC 2013! 9 bulan yang menakjubkan dalam hidup saya.



Thursday, June 13, 2013

tanggal ini, enam tahun yang lalu

saya bukan tidak melangkah maju, saya malah sedang berjalan meninggalkan,
saya hanya ingin berterima kasih, karena pernah tinggal, diam, dan bersemi disini
saya bukan hilang ingatan dan terlalu cepat mencoba melupakan,
saya hanya sedang mengenang dan ingin berterima kasih karena telah menjadi bagian hidup saya
saya bukan menyerah dan berhenti dari seluruh perputaran nasib,
saya hanya sedang belajar bagaimana menghadapi dan ingin berterima kasih pernah mengajarkannya

saya akan terus belajar dan mengejar apa-apa yang saya inginkan,
dan saya berterima kasih pernah merintis jalan menuju masa depan bersama-sama
saya akan terus menulis target-target dan pencapaian-pencapaian yang saya mau,
dan saya berterima kasih pernah membenarkan atau memberi saya petunjuk
saya akan terus berjuang dan mewujudkan impian-impian saya,
dan saya berterima kasih pernah memupuknya lalu membiarkan saya berdiri di kaki sendiri
 
terima kasih untuk bertahun-tahun lamanya bersama, mendoakan, mengerti, menjaga, mendukung, membantu, mendengarkan, mengalah, menyenangkan, dan juga melegakan

terima kasih pernah menjadi bagian perjalanan panjang hidup saya sejak tanggal ini, enam tahun yang lalu

selamat menempuh perjalanan panjang, sendiri-sendiri, tidak bersama-sama lagi


Thursday, May 23, 2013

Jawaban

Kalau ditanya kenapa bingung harus menjawab apa. Terlalu banyak kemungkinan dan kemungkinan yang berputar-putar dalam pikiran. Kalau harus mencari alasan dan pembelaan rasanya semua hanya jadi terlihat begitu semua. 

Mungkin sesungguhnya bukanlah alasan yang perlu dicari, tapi inilah jawaban. Jawaban dari apa? Doa mungkin. Doa siapa? Entah siapa. 

Terlalu banyak kemungkinan yang bisa timbul, terlalu banyak kekurangan untuk dibicarakan, atau terlalu banyak permasalahan untuk dipecahkan. Pilih yang mana? Aku belum bisa menentukan.

Tapi sekali lagi, jelas mungkin inilah jawaban. Yang mungkin telah ditunggu sekian lama, atau telah diharap-harap. Inilah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang selama ini dipendam. Atau ini jugalah jawaban dari kebimbangan. Jawaban ini datang, sekarang.

Setiap paginya aku terbangun masih dengan pertanyaan, atau dengan kesedihan. Tapi sesungguhnya aku belajar, dan aku berusaha. Bukan berarti aku menyerah, aku akan tetap berjuang, sampai benar-benar sampai di tujuan. Karena aku tau dimana tujuanku berada, dan aku pun tau bagaimana caraku untuk meraihnya.

Allah mungkin terlalu sayang, sangat sayang, atau mungkin selama ini aku belum pernah naik kelas tiap diberi ujian. Allah juga mungkin merasa aku terlalu jauh, dari genggaman-Nya, lalu aku diambil lagi, diajak bersama-sama, dan diajak belajar untuk jadi yang lebih dan lebih dari yang sekarang. Aku diberi dua ujian; ujian pertama, aku tau ujian itu akan datang, jadi aku belajar, aku bersiap-siap, aku berusaha, aku menguras perasaanku, aku mencoba sekuat usahaku, dan ketika ujian itu datang, aku melewatinya, Alhamdulillah dengan lancar, mungkin aku lulus ujian. Ujian kedua, datang tidak aku pernah duga, aku belum siap, ini terlalu cepat, atau ini terlalu sulit untuk aku terima, terlalu berat, tapi itulah ujian, dan terlebih lagi, itulah hidup.

Begitu lama aku mencari alasan, atau mencari jawaban. Lama aku terlarut dalam kesedihan-kesedihan, atau kebimbangan-kebimbangan. Air mataku rasanya sudah kering. Perasaanku sudah terlalu berantakan. Kadang-kadang aku kurang bisa membedakan mana itu sedih dan mana itu senang. Dan kadang-kadang aku juga bisa merasakan perihnya di dadaku.

Tapi kemudian aku berdiri, berjalan dan mencari. Dan kemudian juga aku menemukannya. Bahwa mungkin Allah terlalu sayang, sehingga apapun yang aku jaga, yang aku sayangi, yang terlalu aku cintai, yang bisa mengalihkanku dari-Nya, Allah ambil. Karena Allah mungkin sudah gerah, sudah terlalu bosan melihatku terus-terusan jauh. Akhirnya sekarang, aku pun harus siap dan bisa sendiri, dengan diriku sendiri, dan Dia tentunya.

Ikhlas dan merelakannya bukanlah mudah untuk dijalankan, tapi begitu aku sadar akan betapa besar rencana Allah yang Ia punya untukku, aku pun terperangah dan aku menjadi bersyukur. Betapa berat untuk aku jalani, namun aku pun yakin kalau di depan nanti Allah sudah punya rencana baik, untukku paling tidak.

Dengan semua ini pun aku tetap belajar, kalau jangan sampai aku berubah jauh dari aku yang aku kenal. Aku pun harus tetap belajar, untuk tetap menjadi aku, dan menjadi jauh lebih baik. Aku harus selalu menjaga hatiku, dari amarah, iri, benci, perkataan-perkataan buruk, prasangka buruk, doa-doa buruk, atau dugaan-dugaan buruk. Aku belajar untuk menjaganya tetap baik, dan Alhamdulillah, Insya Allah aku bisa.


Terima kasih Ya Allah sudah membimbingku sejauh ini, aku benar-benar takjub aku bisa melewati semuanya dengan keadaan sadar dan bertanggung jawab atas kewajibanku. Aku benar-benar berterima kasih karena Engkau menjagaku penuh dengan kasih sayang, dengan penuh kebaikan yang tetap mengalir dari depan, belakang, kanan, dan kiriku, aku berserah, dan aku ikhlas.

"Lo udah dibimbing sejauh ini sama Allah, Dia nggak akan melepaskan lo sendirian, Zak." :')

Wednesday, April 10, 2013

Thursday, April 04, 2013

Untuk Bapakku

(ditulis tepat sebulan lalu pada Senin, 04 Maret 2013 di pesawat Citilink perjalanan ke Balikpapan.)

Penerbangan Jakarta-Balikpapan ditempuh dalam waktu 2 jam. Terlalu lama menunggu untuk bertemu dengan Bapak.

Semuanya sudah aku ikhlaskan ke Allah. Tidak ada satupun kehendak-Nya yang aku ingkari ataupun aku tolak, semuanya aku terima dengan penuh keikhlasan dan keimanan kalau kepergian Bapak adalah hal terbaik yang Allah bisa hadiahkan untu keluargaku saat ini.

Setahun lebih, itulah waktu yang dijalani Bapak berjuang melawan kanker nasofaring yang menggerogoti kekuatannya, kelincahannya, dan keaktifannya. Waktu yang ditempuh Bapak untuk jadi sekurus sekarang, dari beratnya yang 65 kg, sampai hanya sisa 40 kg.

Jangan tanya tentang kenangan, karena setiap mengenang kenangan dengan Bapak, air mata tak bisa berhenti untuk mengalir, terlalu banyak kenangan manis dan semua yang begitu mudah untuk aku ingat-ingat lagi. Seluruh momen antara Bapak dan anak yang tak semua anak bisa memilikinya. Momen tertentu yang hanya aku dan Bapak yang menikmatinya.

Begitu besar perjuangan Bapak membesarkan tiga anaknya yang kami semua belum bisa membahagiakannya. Bapak berkerja selama 34 tahun di Pertamina. Setiap Bapak cerita tentang pekerjaannya, sering Ia menunjukkan nilai-nilai bahwa hidup tidaklah mudah, perjuangannya di kilang, menjaga stabilitas minyak satu Indonesia bersama rekan-rekannya, senang sekali tiap dengar Bapak cerita pengalaman bekerjanya, Ia pun senang didengarkan.

Setiap Ia cerita tentang ibu bapaknya, adik-adiknya, sering Bapak menitikkan air mata, makna rasa sedih dan kehilangannya. Bapak adalah seseorang yang sangat menyayangi keluarga besarnya. Anak pertama yang berjuang menjaga adik-adiknya saat ayahnya meninggal di usia produktifnya. Itulah Bapak. Bapak mengajarkan aku untuk jadi orang yang menyayangi keluarga. Selau menghormati orang tua, dan berbudi luhur terhadap sesama. Tumbuh besar bersama Bapak membuatku belajar menyayangi keluarga dan menomorsatukan keluarga diatas apapun, karena itulah yang Bapak selalu ajarkan. Tidak boleh ada salah paham, kebencian dan permusuhan di dalam keluarga, karena keluarga adalah satu, apapun yang terjadi harus saling mendukung dan menguatkan. Itulah yang Bapak ajarkan, dan itulah yang aku dan kelurgaku pelajari selama diberi ujian sakitnya Bapak.

Ia bukanlah seseorang yang populer, pintar, terpandang, ataupun kaya raya. Ia adalah orang biasa, yang berbudi baik, selalu menolong sesama, dan selalu memikirkan saudara-saudaranya. Tidak banyak yang Ia punya dan Ia bisa berikan untuk orang lain, tapi Ia selalu memikirkan keluarganya, selalu mengasihi, memberi pertolongan, dengan rezeki yang dimilikinya. Bahkan ketika sakit Ia masih sempat mengingatkan ibuku untuk membelikan keluargaku yang kesusahan untuk membelikan makanan bagi mereka. Ia tidak pernah egois memikirkan dirinya sendiri, Ia selalu mengalah dan mengedepankan kepentingan orang-orang yang lebih mebutuhkan.

Dari 3 bersaudara, aku anak terakhir dan perempuan satu-satunya yang dekat dengan Bapak. Paling dekat dibanding yang lain. Bapak selalu mau nurut sama aku. Bapak selalu mau dengerin apa kataku. Bapak selalu manja-manjain aku. Sampai ketika Ia pensiun, Ia pernah bilang kalau Ia tak akan lagi bisa membelikan apa-apa karena Ia tak lagi bekerja. Buatku itu bukanlah masalah karena aku pun tak bermimpi untuk hidup bermewah-mewahan. Bapak adalah orang yang perhitungan dan memiliki prioritas, Ia mengajarkan aku untuk hidup hemat dan jangan berlebih-lebihan, karena rezeki yang kita punya masih bisa kita simpan untuk di masa depan nanti.

Perjuaganku dengan Bapak mencapai puncaknya ketika aku hendak kuliah di Jakarta. Bapak selalu ingin aku jadi anak yang pintar, sekolahnya bagus, tapi tak rela melepaskanku kuliah dokter di Jakarta. Aku saat itu menangis-nangis menentang Bapak, dan akhirnya jadi jugalah aku kuliah di Jakarta. Alhamdulillah sampai saat ini, Bapak merestui sekolahku di Jakarta, walaupun saat itu Ia tidak setuju. Alamdulillah terakhir kali aku pamit kembali ke Jakarta tanggal 27 Januari lalu, Bapak masih sempat mendoakanku dan memelukku erat-erat, mungkin Ia tau itu terakhir kalinya kami bisa berpelukan. Sekarang, Bapak tak lagi bisa tau dan melihat perjuanganku menjadi dokter. Bapak tak sempat melihatku pakai jas putih dan diberi gelar dr. di depan namaku. Semua itu tak sempat dinikmatinya. Yang akan terus dirasakannya adalah amal jariyah karena telah mendidik anak yang insya Allah menjadi anak yang sholehah dan bisa berbuat baik bagi sesamanya. Yang bisa dinikmatinya adalah pahala yang terus mengalir mengisi pundi-pundi amal ibadahnya. Itulah yang akan jadi bekalnya.

Mulai hari ini, aku tak bisa lagi melihat Bapak di kasur tipisnya, terbaring lemas kurus. Mulai hari ini, aku tak bisa lagi membelikannya makanan kesukaannya, membuatkannya jus, teh hangat, mengantarkan susu, mencuci lapnya yang berdarah-darah, mengantarnya ke kamar mandi, membersihkan bekas ompolnya, menggunting kukunya, mengoleskan losion di kulit keringnya. Semuanya berhenti hari ini.

Apa yang masih kupunya? Kenangan.

Cuma kenangan yang aku punya. Cuma kenangan yang bisa mengingatkanku padanya. Pada keluhuran hatinya. Dan seluruh nilai-nilai yang selalu ditanamkannya untukku. Cuma itu yang aku punya dan cuma itu yang masih bisa aku bawa-bawa sampai nanti, sampai ketika aku menyusul Bapak juga.

Lalu apa yang masih bisa aku berikan untuknya? Doa dan amal.

Ketika nyawa telah tercabut tak ada lagi urusan dunia yang tersisa, semuanya menjadi penuh tentang akhirat. Sampai hari inilah, aku bisa berjuang mempersembahakan dunia untuk Bapak, karena setelah hari ini, yang bisa aku persembahkan hanyalah akhirat yang tenang untuknya. Jalan yang dimudahkan, amal yang terus mengalir, lapang kuburnya, terlepas dari siksaan Allah. Dengan menjadi anak yang sholehah, itulah yang bisa aku beri untuknya, sampai sinilah perjuanganku mempersembahkan dunia untuknya, mulai sekarang aku hanya bisa mempersembahkan akhirat untuk bapakku.

Air mata yang keluar tak akan bisa menandingi air mata Bapak yang menahan sakit setahun lebih belakangan ini, tak akan ada harganya air mataku dibanding perjuangan Bapak selama ini. Tak akan bisa dibanding-bandingkan. Kepergiannya adalah sesuatu yang telah aku ikhlaskan, aku relakan, dan aku serahkan semua kepada Allah. Kepergiannya begitu pilu terasa, tapi begitu bahagia juga aku melihatnya terlepas dari belenggu rasa sakit, begitu kuat Ia selama ini, begitu kokoh tubuhnya melawan, dan akhirnya sekarang Ia tak perlu sakit berjuang lagi, semuanya sudah lepas, sudah hilang...

Bapak, apapun yang masih engkau tinggalkan di dunia, baik itu ibu, kakak, keluargamu, hartamu, persoalanmu, dan seluruh nilai-nilai yang pernah engkau tebarkan di dunia, biarlah kini menjadi urusan kami yang masih ada di dunia. Hadapilah jalan barumu, yang penuh terang benderang, namun juga penuh lika liku. Semoga Allah melapangkan jalanmu, melapangkan kuburmu, menerima amal ibadahmu, mengampuni seluruh dosa-dosamu. Hadapilah dimensi barumu, dengan penuh sukacita dan kekuatan, bawalah seluruh amal ibadah yang kau perbuat di dunia, hadapilah Allah dengan imanmu.

Memilikimu sebagai ayah adalah takdir yang membahagiakan, menyenangkan, menenangkan. Takdir terbaik yang Allah beri untukku. Memberimu sakit itu adalah takdir terbaik juga dari Allah, agar kami sekeluarga kuat dalam ujian, dan juga agar engkau paham bahwa waktumu di dunia sudah tak lama lagi. Aku terima semua takdirku, dan aku jalani semua takdirku.

Selamat jalan Bapakku. Bukanlah perkara mudah menerima ini semua, tapi aku belajar, seiring berjalannya waktu, aku belajar banyak dari ujian ini, dan tentunya darimu.

Selamat jalan Bapakku. Aku relakan ketiadaanmu dari peristiwa penting hidupku. Ketiadaanmu di hari sumpah kepanitraan, di hari wisuda, di hari pernikahan, di hari kelahiran anakku, aku relakan semua itu berlangsung tanpa kehadiranmu.

Selamat jalan Bapakku. Terima kasih atas segalanya. Dan selamat menikmati kehidupan barumu tanpa ada lagi rasa sakit.

Aku menyayangimu, sangat menyayangimu, sampai jumpa di akhirat nanti.

Salam, Annisa Zakiroh

Hari ini Kamis, 4 April 2013 tepat sebulan Bapak meninggal dunia. Mohon dibacakan Al-Fatihah untuk Bapak (H. Suhariyono) bagi siapapun yang membaca tulisan ini. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima amal ibadahnya, melipatgandakan pahalanya, melapangkan kuburnya, memberi cahaya, dan semoga Bapak selalu dalam kedamaian di sisi yang terbaik yang Allah siapkan untuk Bapak. Amin ya rabbal'alamin.