Monday, June 04, 2012

Sembuhkanlah

Di blog ini saya pernah tulis saya kangen, saya rindu, saya sayang, saya ingin bertemu. Untuk siapa saya tulis biasanya? Untuk pacar, untuk sahabat, untuk teman-teman.

Keluarga saya sangat harmonis dan penuh kasih sayang, Alhamdulillah. Mungkin karena nikmat Allah yang begitu besar akan keluarga saya yang membuat saya terlena dan lebih menonjolkan peran sahabat dan teman-teman saya di kehidupan saya daripada keluarga saya sendiri. Saya menyayangi keluarga saya dan selalu berusaha mengutamakan keluarga. Saya memahami perbedaan dalam keluarga saya dan berusaha menjadikan perbedaan sebagai penguat. Saya sayang kedua orang tua saya, kedua kakak laki-laki saya, satu kakak ipar, dan dua keponakan laki-laki saya. Mereka berharga. Tapi mungkin itu semua belum cukup untuk Allah.

Idul Fitri tahun 2011 Ibu saya tidak sengaja tertumpah minyak goreng panas banyak sekali. Ibu teriak dan menangis. Ibu sempat lumpuh dari kegiatan sehari-harinya. Hampir dua bulan tidak bekerja karena hanya bisa mengesot dari kamar, kamar mandi, dapur, dan tempat-tempat lain di rumah. Sementara Ibu dan Bapak hanya berdua di rumah. Awal terkena, saya masih sempat merawat combustio Ibu, sampai akhirnya saya berangkat ke Jakarta untuk kuliah dan hanya tau kabar luka bakar Ibu dari foto yang dikirim lewat BBM. Saya sayang Ibu. Dan saya peduli, saya merawat, mengasihani Ibu yang kesakitan. Kata beliau, sakitnya lebih dari semua sakit yang pernah beliau rasakan. Dan buat Allah itu juga belum cukup.

Sampai ketika Januari 2012. Tiba-tiba Ibu dan Kakak kedua saya ada di Jakarta. Semua dirahasiakan dari saya sampai ketika saya melihat Bapak di Rumah Sakit Pertamina Pusat. Terlihat baik-baik saja. Ketawa ketiwi, sempat menitikkan air mata saat bertemu saya (saat itu kita dua bulan belum bertemu). Secara keseluruhan sehat. Tapi wajahnya ada yang beda, agak merot sedikit. Saya kira stroke, bukan. Saya tidak diberi tahu apa sakitnya, sampai saya membaca sendiri di notes Blackberry Ibu. Bapak kena kanker nasofaring, stadium IV. Di notes itu Ibu bilang Ia menangis mendengar kabar itu. Pertama kali membacanya, saya sedih, tapi belum terbayang apapun. Di mata saya, Bapak masih sehat dan kuat.

Sampai ketika dua bulan telah lewat. Seluruh rangkaian radioterapi 33kali dan kemoterapi 6kali yang harus Bapak jalani selesai juga, Alhamdulillah. Dua bulan yang berat untuk Bapak. Yang merasakan bagaimana lemasnya setelah kemoterapi. Banyak permintaan Bapak, ini itu. Apalagi Bapak sempat tidak bisa makan apapun. Saya belikan roti, puding, apapun asal beliau senang. Saat itu saya sempat mengeluh. Saya sempat malas-malasan kalau diminta ini itu. Tapi saya berusaha, dengan semua yang saya bisa, kalau harus tetap temani Bapak sampai terapi semua selesai. Sampai akhirnya Bapak kembali ke Balikpapan.

Bapak sudah dua bulan di Balikpapan. Harusnya Ia kontrol lagi ke Jakarta, tapi belum mau. Akhirnya kontrol di Rumah Sakit Balikpapan dan harus kemo lagi, metastasis sudah sampai saraf. Pendengaran dan penglihatan Bapak berkurang fungsinya. Saya menangis, sering sekali. Sering saat saya sendiri, sering di depan teman-teman. Berat rasanya tahu Bapak sedang berjuang melawan kanker tetapi saya tidak di sisinya menemani. Rasanya apapun yang bisa saya lakukan, ingin saya lakukan untuknya. Yang saya ingat sampai saat ini adalah, Bapak pernah bilang, "Kamu jadi dokter THT aja ya Nak, supaya bisa obati orang-orang yang sakitnya kayak Bapak (ca nasofaring)." Saya mengangguk dan menahan air mata. 

Modul Biologi Molekuler saya harus belajar tentang onkogenesis. Semua tentang kanker saya belajar. Dari tingkat molekuler, seluler, sel, hinggan organnya. Setiap saya baca, saya menangis, saya berhenti membaca. Setiap saya belajar, saya menangis, saya berhenti. Saya belum kuat. Apalagi ketika saya harus belajar prognosis, tentang 5-year survival rate, pedih rasanya. Apa Bapak bisa kuat sampai 5 tahun lagi? Apa Bapak bisa lihat aku jadi dokter? Apa Bapak bisa lihat aku jadi dokter spesialis? Apa Bapak bisa lihat aku menikah? Punya anak? Apakah umur Bapak sepanjang itu? Saya menangis lagi.

Sekarang, berat badan Bapak hanya 45kg dari awalnya 65kg. Sekarang Bapak aktivitasnya terbatas. Sekarang, Bapak tidak bisa makan seperti biasa. Sekarang Bapak kuruuus sekali. Saya ingin peluk. Saya ingin nangis di bahunya, saya ingin sungkem. 

Ada dua penyakit yang aku minta Allah sembuhkan. Satu, sudah pasti aku selalu meminta kesembuhan untuk Bapakku, kalau memang Allah berkehendak mengangkat penyakitnya, maka angkatlah dan sembuhkan kembalikan seperti semula, kalau memang tidak, maka berilah yang terbaik untuk Bapakku, dan ampuni semua dosa-dosanya, terima amal ibadahnya. Penyakit kedua adalah rinduku. Rinduku untuk Bapak yang bersemi sepanjang waktu. Walaupun aku dikirimi foto-foto Bapak. Diceritakan tentang Bapak. Tau kabar Bapak. Rasanya tak ada yang lebih berarti selain melihat Bapakku ada di dekatku. Aku mau cerita, aku mau Bapak dengarkan.

Ya Allah tolong sembuhkanlah...

Aku tahu Allah memberi ujian seberat ini karena Allah yakin aku kuat. Aku juga tau kalau aku kuat dan aku bisa, aku serahkan semua ke Allah, bukan berarti aku menyerah, aku yakin Allah tau yang paling baik. Aku disini belajar dan ingin menjadi orang yang dapat meninggikan derajat orang tuaku di mata Allah, semoga Allah melihat usahaku, Amin.

Ya Allah tolong sembuhkanlah... Rasa sakit Bapak. Kalau soal rinduku, Insya Allah aku bisa atasi.

Saturday, June 02, 2012

What Cancer Cannot Do...


It Cannot Cripple Love
It Cannot Shatter Hope
It Cannot Corrode Faith
It Cannot Destroy Peace
It Cannot Kill Friendship
It Cannot Suppress Memories
It Cannot Silence Courages
It Cannot Invade The Soul
It Cannot Steal Eternal Live
It Cannot Conquer The Spirit
--Author Unknown

Yep those are true! My father is cancer survival and I'm totally in love with him :)