Monday, September 27, 2010

Ada Saatnya

Ada saatnya ketika kita sudah lelah berbasa-basi. 
Ketika kita lelah disakiti.
Dan ketika kita lelah berdiam diri.

Ada saatnya ketika kita berhenti menginjak diri sendiri.
Berhenti membiarkan orang lain menjajah dan menguasai.
Dan maju sebagai seseorang yang berdiri dengan kaki.

Ada saatnya ketika kita jenuh dan tak bertemu tempat menumpahkan.
Kita hanya akan selalu diam dan terlihat mudah dipecahkan.
Kita terlalu polos untuk mencari jawaban.

Ada saatnya saat saya, kamu, dan dia.
Berhenti dari bundarnya roda.
Beralih ke dimensi yang tidak sama.

Ada saatnya saat saya muak.
Menangis sendiri di kamar tanpa riak.
Dan tanpa hasil sambil kecil-kecil berteriak.

Selalu ada saatnya.

Saat kamu datang dan menyakiti.
Dan saya diam terkuliti.

Dan juga selalu ada saatnya.

Saat kamu berpaling dan berbicara lantang tidak di hadapan saya.
Dan saya menahan diri dan air mata.

Dan juga selalu ada saatnya pula nanti.

Saat kamu menyakiti dengan kata-kata setiap hari tiada henti.
Dan dengan kelakuanmu yang tidak terprediksi.
Ada saatnya saya yang berbalik tak peduli.
Mencoba berpaling atau bahkan sama sekali tak kembali.

Selalu ada saatnya.

Tunggu saja saat saya berdarah-darah. Di pojokan ruang sempit tak berjendela. Terkurung busuk. Berbau.

Selalu ada saatnya.

Ya, saat saya tertusuk pisau rindu, rindu pada KEBAHAGIAAN.

Annisa Zakiroh
Balikpapan, 27 September 2010

Thursday, September 23, 2010

I do love you

Mungkin aku acuh, tidak peduli. Tapi dari dalam hati, aku sangat menyayangimu.

Thursday, September 02, 2010

Tentang Kuliah


Saya menulis ini sesaat setelah mendengarkan CD dari Zenius selama satu setengah jam non stop. Dan kepala rasanya, pusiiing banget. Kayak ada yang tusuk-tusuk. Susah dijelaskan. Tapi baru kali ini rasain pusing yang benar-benar pusing banget gara-gara belajar.


Sekarang, saya akan cerita tentang... Kuliah! :D

Saya sekarang kelas XII IPA di SMA Negeri di daerah Kalimantan, Balikpapan tepatnya. Dan sama seperti setiap siswa kelas XII yang lainnya, yang paling menyita perhatian dalam tahun terakhir menjadi anak sekolahan ini adalah, apalagi kalau bukan, soal kuliah!

Saya tumbuh besar di lingkungan kesehatan, dan perminyakan. Ayah saya seorang pegawai di salah satu perusahaan BUMN, atau sebut saja, Pertamina. Dan Ibu saya adalah seorang Bidan, pernah kerja di Puskesmas, Klinik, dan tempat-tempat berobat lainnya. Tapi, dari kecil, saya suka sekali dengan dokter. Dan selalu ingin menjadi dokter.

Tulisan di Diary kelas 1 SD saya. Ketauan nggak cita-cita dokternya? :P

Sampai kelas IX SMP, keinginan terbesar saya, cita-cita saya, tetaplah menjadi dokter. Bahkan saya pernah suatu kali diwawancara oleh salah satu radio di kota saya dan membahas tentang cita-cita saya yang ingin menjadi, dokter. Namun, dua tahun SMA di kelas X dan XI, jadi seperti anti-klimaks. Kalau dari SD sampai SMP saya giat belajar dan Alhamdulillah dapat prestasi yang cukup membanggakan, di SMA saya kayak kehabisan bahan bakar. Saya mulai ngambek, nggak mau belajar, dan gerah belajar. Saya mulai labil parah. Nggak peduli pelajaran IPA (padahal saya jurusan IPA), dan malah lebih memilih dan lebih tertarik dengan jurusan IPS. Saya mau kuliah komunikasi. Ko-mu-ni-ka-si. Saya bahkan sudah tanya-tanya dan sibuk sana-sini siap-siap tes IPC. Sampai awal kelas XII, saya tetap mau komunikasi. Tapi dunia berubah, dan saya dipertunjukkan sebuah jalan oleh Allah.

Saya sempat lupa kalau saya punya cita-cita ingin menjadi dokter. Tapi kelas XII ini, saya masuk kelas XII IPA 2, dan duduk di sebelah Chessie Imanda Saib, tanpa sengaja. Chessie, dari dulu sejak pertama kali kenal di SMA, saya tau Chessie mau ambil FK (Fakultas Kedokteran). Dan kalau ditanya mau FK dimana, dia selalu jawab FKUI! Dimana semua tau FKUI susssaaah banget masuknya. Dan saya, selalu, salut. Untuk memutuskan mengejar FKUI aja adalah sebuah keputusan yang sangat besar, apalagi untuk berjuang mendapatkannya, bukan sesuatu yang mudah, dan dia siap. Nah disini nih, dia... banyak berpengaruh juga tentang cita-cita menjadi dokter.

Akhir-akhir kelas XI, saya masih terpaku soal cita-cita Komunikasi saya. Komunikasi, HI, dan sebagai-sebagainya. Tapi, tiba-tiba Teknik Industri bolak-balik di kepala. Gara-gara baca novel Sitta Karina yang Lukisan Hujan, Diaz Hanafiah disitu digambarkan mengambil jurusan Teknik Industri, dan entah kenapa saya tertarik. Sampai suatu Minggu siang...

Saya jalan berdua sama Ibu. Makan di salah satu resto, dan ngobrol panjang lebar soal kuliah. Ibu, selalu deh, dari jaman kapan juga maunya saya ambil FK. Tapi saya nggak mau. Nggak mau. Saya punya... idealisme sendiri, untuk nggak ngambil FK. Tapi, banyak kata-kata Ibu yang bikin saya tergugah. Dan akhirnya, hari itu juga, saya memutuskan... Untuk ambil FK. Hahaha. Lebih anti klimaks nih. Yang awalnya gigih banget mau IPS/IPC, lha sekarang malah mau ambil jurusan IPA, dan yang -menurut saya- paling susah, FK!

Nah, saya telah memutuskan ambil FK. Yap, kembali ke cita-cita awal dari jaman kecil banget, hehe. Nah selanjutnya, saya harus menentukan. Mau FK dimana. Kata Zenius sih, mimpi itu harus spesifik. Harus jelas. Menimbang, memikir, dan melihat dari segala sisi, akhirnya saya memutuskan untuk mengejar FK UNPAD. Yap, FK UNPAD, di Bandung. Kenapa harus UNPAD? Kenapa Universitas Padjadjaran?

Saya sempat ke Jakarta dan Bandung liburan kenaikan kelas lalu. Dan melihat kondisi terakhir dari Jakarta yang super duper macet, saya agak... gimana gitu. Ditambah FKUI yang saya tahu passing grade-nya tinggi banget, saya nggak akan  ngenyel mengejar FKUI. Kayaknya bukan saya banget. Saya masih pengen keliaran pake motor bebek waktu kuliah nanti, dan di Jakarta, hal itu hampir nggak mungkin untuk saya, hehe.

Saya selalu pengen kuliah atau tinggal di ibukota. Selalu. Nah karena Jakarta kayaknya nggak mungkin, tentunya saya mencoba mengejar sebuah kota yang tiga jam perjalanan dari Jakarta. Apalagi kalau bukan... Bandung! Dan saya langsung kepikiran salah satu universitas terbaik di Bandung. Apalagi kalau bukan... UNPAD! Dan voila! Saya memutuskan untuk mengejar UNPAD. Ya, jadi yang saya kejar sekarang, adalah... Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.

Nah, jalur masuk UNPAD kan cuma ada dua tuh. Jalur mandiri yang disebut Seleksi Masuk Universitas Padjadjaran (SMUP), dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Setelah melihat-lihat website UNPAD, dan tahu biaya masuk FK UNPAD lewat jalur mandiri yang super mahal (Rp 175.000.000), saya jadi... geleng-geleng kepala. Dan saya... memutuskan untuk mengejar jalur SNMPTN. Yap. Annisa Zakiroh for SNMPTN FK UNPAD 2011! :D

Saya ngetik itu semua di atas kayaknya mudah sekali ya. Oke-oke, saya tahu. SNMPTN itu NGGAK GAMPANG. Harus bersaing dengan beratus ribu siswa lainnya demi memperebutkan 140 kursi di FK UNPAD (berdasarkan kuota SNMPTN tahun lalu). Dan saya juga sebenarnya malu nulis ini semua di blog. Haha pasti malu banget deh kalau saya (amit-amit) nggak dapet FK UNPAD tahun depan, dan posting ini hanya akan tersimpan sebagai sebuah kenangan. Tapi, blog ini bagian hidup saya, cerita-cerita bahagia atau sedih. Dan saya ingin... menjadikan cita-cita profesi saya sebagai bagian dari blog ini. Saya ingin... menjadi dokter. Dengan kuliah di... FK UNPAD.

Saya tahu SNMPTN nggak mudah, sangat nggak mudah. Dan saya, juga dalam usaha, kok. Sama kayak anak-anak lainnya. Yap, berusaha. Passing grade FK UNPAD, (berdasarkan  kertas warna hijau punya temen-temen yang les di Ganesha Operation): 53,27. Saya akan selalu ingat dan hapal! Harus hapal! Dan usaha saya... Sudah sampai di... 

Saya memutuskan untuk nggak ambil les Ganesha Operation. Di Balikpapan cuma ada dua lembaga les besar, Primagama dan Ganesha Operation. Dulu pas mau UN SMP, saya pernah coba GO, dan nggak cocok deh di saya. Nggak masuk. Saya memutuskan nggak ambil.  Di saat hampir semua teman-teman di sekolah saya les di GO, hehe. Saya awalnya niat les di guru yang bikin saya lumayan sukses UN SMP kemarin, tapi untungnya saya belum mulai les. Sampai Chessie beli Zenius, dan saya jadi... Pengen beli juga! Saya beli paket UM/SNMPTN IPA, dan di dalamnya ada 34 CD, setiap CD -sekitar- 30 jam. Dan itu berarti, untuk menamatkan 34 CD itu sampai SNMPTN 9 bulan lagi, seenggaknya setiap seminggu saya harus menamatkan satu CD. It's not easy. Seperti yang saya tulis di awal, memang bener-bener bikin pusing dan melelahkan. Tapi inilah perjuangan saya. 


Saya tahu perjuangan ini belum ada apa-apanya. Tapi berkutat seenggaknya 3-5 jam per hari di depan laptop lihat dan dengerin Zenius bukan sesuatu yang mudah dan remeh. Capek dan nguras energi. Saya tahun saya bukan apa-apa, tapi perjuangan ini bukan sesuatu yang mudah dan remeh. Saya mengorbankan jam nonton TV, jam main game, jam tidur siang. Demi... SNMPTN. Dan saya rela! Rela banget, kok! Demi FK UNPAD! :')

Saya, dan sama seperti teman-teman lainnya, paling nggak suka diremehkan. Saya tahu saya nggak sepinter teman-teman yang lain di skeolah, yang biasa ranking satu atau berprestasi ini itu. Tapi disini saya mencoba dan berusaha. Sekuat tenaga dan kemampuan saya. Sejauh yang saya mampu. Dan saya akan meraih apa yang saya mau, Insya Allah. Saya juga agak kurang nyaman kalau pilihan saya ke Bandung dikait-kaitkan dengan keberadaan Agung di Bandung. I know he's 'something' for me. Dia adalah seseorang, dan saya juga bisa menjadikan keberadaan dia di Bandung sebagai pertimbangan untuk menjadi pilihan kuliah di UNPAD. Tapi saya nggak seremeh itu kok, cuma gara-gara pacar di Bandung, langsung milih kuliah di Bandung. Saya nggak semudah itu. Buat saya sendiri, pacar bukan masa depan saya. Dia mungkin saja menjadi bagian dari masa depan saya, tapi saya nggak akan semudah itu. Saya sempet nge-tweet: Pacar bukan masa dpn. Jadi dia tdk aku jadikan pertimbangan dlm mengambil keputusan apa2 ttg masa depan.

Teman-teman dekat saya seperti Oi, Luthfan, mau ITB di Bandung. Alfi, mau UNPAD di Bandung. Tapi Agung sendiri malah mau UI di Jakarta. Dea, yang juga deket sama saya, mau UI di Jakarta. Saya pengen deket teman-teman dekat saya. Tapi, mereka bukan pertimbangan besar saya. Kita masing-masing punya masa depan sendiri. Dan kita akan saling mendukung, bukan saling memberatkan :)

Pada akhirnya, saya minta doa, ya! Untuk semua yang pernah baca posting ini, hehe. Semoga SMANSA '11 dapet universitas yang diinginkan. Perjalanannnya diperlancar, dan dimudahkan. Pokoknya dapet  apa yang kita idam-idamkan! Amiiin ;')

Hari Rabu lalu, saya dan teman-teman sekelas lagi belajar Matematika Bab Matriks. Dan tiba-tiba Chessie coret-coret buku cetak Matematika saya, saya mau lihat, nggak dibolehin, dan ternyata ada coretan ini...


Hihi, saya terharu juga, Terima kasih banyak Chessie. Kamu akan selalu jadi inspirasi. Kamu yang membuat belajar menjadi mudah, yang menyemangati, dan memberikan dukungan besar. Kamu, yang menyirami ilmu dan motivasi setiap hari. Sukses ya untuk FKUI! Kamu berhak dapet FKUI untuk semua perjuanganmu selama ini! :D

Nah, yang udah kelas XII. Pada mau kuliah dimana dan apa aja sih yang jadi pertimbangan? Share, yuk! :D