Saya dan Dea. Tahun 2006/2007.
Pasti tahu siapa. Mungkin hanya perlu nama. Namanya, Deazy Permata Sari.
Tentang persahabatan. Diawali dari cerita zaman Sekolah Menengah Pertama. Ya, memang kenangan paling mudah dibangun ketika Sekolah Menengah Pertama. Setidaknya, untukku.
Mulai baris ini, kita sapa dengan nama pendek yang hangat, Dea. Kelas tujuh dan delapan. Saya dan Dea cuma teman sekelas. Kita datang dari Sekolah Dasar yang berbeda. Teman-teman yang berbeda. Latar belakang berbeda. Keluarga yang berbeda. Dan gaya berteman yang berbeda. Dea punya kelompok bermain -yang biasa disebut geng- sendiri, dan saya juga punya sendiri. Kita cuma teman sekelas. Teman satu ekskul Jurnalistik. Teman satu kelompok Bahasa Inggris, kelompok Hill Topper. Teman OSIS yang beda divisi, Dea Wakil Ketua OSIS saya Anggota Divisi Ilmu Pengetahuan. Kita cuma teman satu SMP. Sampai Pemlilihan Ketua OSIS SMPIT Istiqamah 2006/2007.
Dea dan saya dan beberapa yang lain diajukan untuk menjadi Ketua OSIS. Dari pemilihan, dan setiap proses menuju pelantikan, kita bareng. Dan sampai pada akhirnya Dea jadi ketua OSIS dan saya sekertaris OSIS, kita bareng. Disini dunia saya berubah. Dan mungkin juga, Dea.
Saya jadi sering ke rumah Dea. Ngerjain proyek-proyek OSIS, sampai main-main aja. Ngerjain tugas sekolah, sampai nemenin Dea chatting dengan pacarnya. Dari cuma dateng, sampai nginep di rumah Dea. Dea Dea Dea. Saat itu. Kelas delapan akhir sampai sembilan awal, saya dan Dea seperti... DeAnnisa. Buat saya Dea itu sahabat. Ah lebih. Dia itu teman dekat yang merangkap kakak. Latar belakang keluarga kami beda. Dea lahir di keluarga berada yang dari kecil bahagia, sedangkan saya penuh dengan perjuangan dan lika-liku. Setiap ke rumahnya saya selalu menemui hal baru. Dan saya selalu diajari banyak hal. Saya yang buta teknologi, jadi melek. Saya yang cupu, jadi sedikit diatas cupu. Saya kenal Dea. Dan saya... merasa senang pernah kenal dan dekat Dea.
Sampai kami lulus SMP. Terbayang semua perjuangan untuk lulus SMP. Kita les bareng. Kemana-kemana hampir semua bareng. Makan bareng. Jalan-jalan bareng. Pernah jadi MC bareng, walaupun jelas saya tenggelam dari kebolehan Dea. Dea, Dea, Dea. Teman SMP yang paling saya ingat. Dea, Dea, Dea. Dan mamanya, Tante Kiky yang baik dan hangat sekali. Mamanya yang super. Super baik, super hangat. Suka nganter kemana-mana. Ngajak makan. Dan sebagainya. Asik sekali.
Dan ketika kami, masuk SMA. Saya berhasil masuk kelas akselerasi. Tentunya, Dea juga. Kita sekelas, lagi. Sebangku, lagi. Dan kita bareng, lagi. Tapi disini. Disinilah saat-saat saya mulai punya jarak dengan Dea. Dea sibuk dengan urusan seleksi OSIS. Saya tidak sibuk, tapi saya seleksi MPK. Dan semua ini semakin jelas. Jarak semakin jelas ketika Semester I kelas Akselerasi, saya minta diturunkan ke kelas RSBI. Saya dan Dea? Haha apa kabaaar. Kita jauh. Jauh. Sama-sama di sekolah yang sama. Tapi rasanya jauh. Kelas cuma seberang lapangan tapi kita jauh.
Kalau dulu setiap ketemu kita sudah punya satu ton cerita untuk dibagi. Saat-saat SMA, kalau kita ketemu, kita cuma bilang, "Hai!" Bahkan ketika Dea juga turun ke kelas RSBI. Dimana saya X-2 dan Dea X-1 yang kelasnya sebelahan, kalau ketemu saya canggung. Dea saat itu sudah menjadi Sekertaris II OSIS. Saya malu ketemu Dea. Dea eksis banget. Saya? Nol banget. Saya... nggak ada apa-apanya. Ya, saat-saat itu, ketika kelas kami sebelahan tapi kita jauh. Saat-saat ketika saya... mulai kehilangan sosok seorang teman atau sahabat. Saya... sendirian. Saya... di kelas baru dan saya seperti diasingkan di dunia yang saya tinggali.
Suatu malam saya dikabari teman. Ayahnya Dea meninggal. Saya tahu benar ayah Dea sedang sakit. Dea juga sering mendoakan. Saya tahu benar Dea sayang ayahnya. Sayaaang sekali. Dan ketika ditinggalkan begitu cepatnya dan di usia begitu belianya. Saya kaget. Saya langsung telepon teman-teman yang lain. Sambil telepon teman, saya nangis kenceng. Saya banjir air mata. Ya, saat Dea kehilangan ayahnya saya bukan teman yang dekat untuk dia. Saya... bagian dari cerita lalu. Tapi... saya begitu sedih hal itu terjadi begitu cepat dan begitu mudahnya. Saya akhirnya bisa menghubungi Dea. Dea nangis. Tapi dia memang gadis yang super. Super tabah dan super kuat. Kalimat yang masih saya ingat, "Sudah, Bat... Aku nggak papa kok. Doanya aja ya untuk Bapakku..." Dea biasa manggil saya 'Bat', singkatan dari sobat. Saya nangis kenceng di rumah. Nggak nyangka dia sekuat itu.
Waktu berjalan. Lama.
Akhir Juni sampai awal Juli lalu saya ke Jakarta dan Bandung. Awalnya saya berniat ke Bandung hari Senin, 5 Juli 2010. Tapi karena kecapekan hari sebelumnya mengikuti Festival Indonesian Youth Conference, saya dan Ibu memutuskan ke Bandung hari Selasa, 6 Juli 2010. Awalnya saya berniat datang pagi lalu pulang sore dari Bandung ke Jakarta. Tapi, tiba-tiba rencana batal. Saya pulang pagi hari Rabu, 7 Juli 2010. Dan disiniliah. Rencana Allah yang diatur sedemikian rupa. Saya dan Ibu direncanakan Allah untuk tidak menerima sebuah berita hanya berdua. Tapi bersama teman-teman dekat yang lain.
Saya selama di Bandung menginap di rumah salah satu sahabat terbaik saya, Alfi. Saya, Dea, Alfi, sudah seperti keluarga. Dari pagi kami bertemu, saya dan Alfi, Ibu saya dan Mamanya Alfi selalu membicarakan satu hal: Ibunya Dea yang sedang sakit. Ya, Ibunya Dea sakit, kanker usus. Awalnya Dea berencana juga liburan ke Bandung, tapi karena mamanya yang sedang sakit, rencana batal.
Saya sempat bilang ke Ibu, "Sampai Balikpapan kita jenguk mamanya Dea ya, Mi."
Selesai Maghrib, saya, Ibu, Alfi, mamanya Alfi, dan adeknya Alfi makan malam. Coba tebak kita ngomongin siapa? Mamanya Dea. Kita cerita tentang perjuangan mamanya, dan berdoa semoga cepat sembuh. Semua harapan kebaikan.
Lalu saya dan Alfi naik ke lantai atas. Tiba-tiba kami dipanggil. Adeknya Alfi bertanya, "Uni, Mbak Furo SMS, Mamanya Mbak Dea meninggal kah?" Saya dan Alfi langsung turun ke bawah. "Nggak mungkin ah, nggak usah main-main deh, Cik!"
Kita ngecek handphone. Di HP Alfi nggak ada apa-apa. Tapi di HP saya ada 3 inbox, salah satunya dari Ajeng. Saya nggak usah buka SMSnya. Nggak perlu buka SMSnya. Nggak per-lu. Ada tulisan, 'Innalillahi wa innalillahi roji'uun'. Saya langsung menelungkupkan kedua tangan ke muka saya. Dan ngomong ke semua yang lagi nunggu jawaban, "Beneran..." Semua langsung, "Innalillahi wa innailahi roji'uuun." Mamanya Alfi langsung panik. Telepon teman-teman sambil mondar-mandir bingung mau berbuat apa. Ibu saya langsung diem, nggak ngomong apa-apa. Saya sama Alfi, netes.
Setiap orang yang kenal Dea tau seberapa berarti Tante Kiky untuk Dea. Dea kemana-mana sama mamanya. Lebih dekat sama mamanya daripada sama ayahnya. Semua tau arti mama untuk seorang Dea kayak apa. Tanpa mama, seperti bukan Dea lagi. Kita coba telepon Dea tapi nggak bisa. SMS juga bingung mau ngomong apa. Dan akhirnya telepon kita nyambung. Suaranya Dea sesenggukan banget. Tapi teteup, tegar banget dia. Kita? Rasanya kecil banget.
Sampai di Balikpapan, saya ke rumah Dea bareng Ibu. Dia? Kayak nggak terjadi sesuatu. Biasa aja. Ya Allah anak ini kuat banget. Dea anak tunggal. Dan saat itu, saat saya ke rumahnya, dan sampai saat saya mengetik posting ini, dia sudah kehilangan Ayah dan Ibunya. Saya sempat lihat dia mulai belajar mengatur semua yang ditinggalkan ibunya. Pelan tapi pasti. Dia tumbuh jadi gadis yang kuat dan punya kekuatan. Dia dewasa. Tumbuh dewasa.
Besok, hari Sabtu 14 Juli 2010, Dea ngadain acara 40 harian ibunya. Sudah 40 hari Tante Zarkiyah meninggalkan setiap orang yang dikenalnya. Sudah 40 hari Dea kehilangan mamanya. Dan sudah 40 hari doa-doa mengalir untuk Tante Kiky. Sudah 40 hari, setiap kebaikan yang diperbuat menjadi berkah dan kebaikan. Dan setiap hal yang kurang berkenan dimaafkan. Insya Allah 40 hari yang membuat Dea jauh lebih kuat. 40 hari yang membuat semua kebaikan Tante Kiky menjadi kebaikan untuk orang lain.
Mohon doa ya teman. Untuk Dea, untuk Tante Kiky. Semoga Dea bisa terus lancar dan sukses menjalani hari-hari tanpa mama dan ayah ke depannya. Semoga dosa-dosa Tante dan Om diampuni, dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Bantu doa ya teman, karena cuma doa yang bisa kita perbuat.
Saya temannya Dea. Dekat. Dulu, mungkin sekarang tidak seperti dulu. Tapi saya menyayanginya sebesar setiap kekuatan yang dia ajarkan pada saya. Sebesar ketabahannya. Dan sebesar ketegarannya. Dia adalah contoh untuk saya. Aku doakan yang terbaik. Sukses selalu, dan segera menemukan hidup yang lebih hidup :)
Tetep senyum kayak di foto ini, ya! :D
Aku dan -kita menyayangimu, selalu.
Nisa, diiringi titipan dari Alfi, Agung, Oi, dan Cipeng




” Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah mereka bercahaya, mereka bukan para nabi dan syuhada tapi para nabi dan syuhada iri kepada mereka. Ketika ditanya oleh para sahabat, Rasululloh SAW menjawab : Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah dan saling berkunjung karena Allah. (HR Tirmidzi)
ReplyDeleteThanks banget ya Om Shobah. Hihi niatnya ga bales komennya tapi gatel juga :P
ReplyDelete