Saturday, August 28, 2010

Power of Dream



Tadi di perjalanan pulang dari sekolah, saya baca tweet dari YoungOnTop. Oke saya sebenernya nggak tau YoungOnTop ini apa. Tapi karena Quote-nya bagus-bagus, nyata, nggak muluk-muluk, dan remaja banget, saya FOLLOW! Apalagi kalau pagi-pagi, dan lihat timeline twitter penuh Quote dari YoungOnTop, rasanya seger dan semangat banget. Mind to follow? Click here ;)

Yang bikin saya jatuh cinta sama YoungOnTop adalah, Quote-nya yang nyata dan remaja banget. Nggak muluk-muluk dan nggak tinggi kalimatnya. Contoh beberapa kesukaan saya:

"Di Indonesia, ketika kamu berusaha 'sedikit' lebih keras dari yang lain, kamu sudah akan 'jauh' di atas rata-rata." - Henry Boen

"Kalau kita nggak tau mau kemana, kita nggak akan kemana-mana."

"Knowing that all my dreams will come true. Soon!"

Kalimatnya biasa, tapi ngena di saya. Saya kurang ampuh deh kalau pake Quote berbahasa inggris, kurang kena, dan Quote-nya YoungOnTop ampuh banget di saya. Dan Quote di atas bikin saya terhenyak.

Power of Dream

Hmm, ngeri juga bayangin arti dari kalimat ini sebenernya. Kekuatan mimpi. Atauuu... apa ya? Oke, saya sendiri sih mengartikannya sebagai Kekuatan Mimpi. Yang membedakan mimpi dan kekuatan mimpi adalah, kalau mimpi adalah apa yang ingin kita raih, yang kita tuju. Kalau kekuatan mimpi adalah, sesuatu yang membuat mimpi itu menjadi begitu kuat. Sesuatu yang membuat kamu atau saya menjadi sangat kuat dan tahan banting untuk tidak menyerah begitu saja ketika punya hambatan meraih mimpi. Sesuatu yang ketika perjalanan meraih mimpi kamu atau saya mulai melenceng, kekuatan itulah yang mengembalikanmu ke jalan yang benar. Kekuatan dari mimpi yang bisa membuat kita atau saya melakukan dan mendapatkan banyak hal. Saya sempet mikir, power of dream saya apa ya? Kenapa saya sampai melakukan banyak hal seperti bantu-bantu IYC, belajar gila-gilaan, baca novel ini itu, nulis macem-macem. Untuk apa sih? Di posting ini, saya pengen cerita tentang kekuatan mimpi, yang membuat saya menjadi saya, yang saat ini.

Dimulai dari akhir 2008. Lalu masuk 2009. Dan sampai di pertengahan 2009. Saya sedang gila-gilanya dengan internet. Browsing-sing-sing-sing. Social networking, blogging, dan sebagai-sebagainyaaa. Dan power of dream saya dimulai sejak saya menemukan blog dari seleb kesukaan saya, Christian Sugiono.

Saya sedang gila Facebook. Lalu saya nemu pagenya Christian Sugiono, klik 'Become Fan'. Lalu saya lihat foto-fotonya, dan dari foto-foto itu, nemu deh link blognya Christian Sugiono. Saya baca posting-postingnya. Kebanyakan tentang cerita sehari-hari. Tapi tetep berbobot. Nggak sama kayak blog-blog artis lain yang beberapa cuma nulis keseharian mereka dan jadwal padat, sambil ngeluh-ngeluh. Saya tahu mereka juga manusia dan pantas mengeluh. Tapi itu juga yang membuat saya mengagumi Christian Sugiono, dari SD sampai sekarang SMA. Karena apa? Nggak cuma ganteng, tapi juga pinter, dan -menurut saya- dia idealis. Dia punya idealisme sendiri yang bisa menjaga citranya. Tetap mingle di dunia showbiz tapi idealisme juga tetap terangkat. Suka!

Karena setiap hari baca posting-postingnya bahkan sampai berulang-ulang. Saya makin kagum dan makin suka. Sampai suatu saat saya bermimpi. Suatu saat saya harus ketemu Christian Sugiono, dan ngobrol. Tidak sebagai fans yang gegilaan teriak-teriak terus cuma foto bareng abis itu dia lupa siapa saya. Saya pengennya sebagai seseorang yang dikenal karena menguasai bidang tertentu lalu saya dan Christian Sugiono -berapapun usianya saat itu- bisa ngobrol dan bertukar pikiran. Selesai obrolan itu, dia akan tetap ingat saya, dan mengenang saya, sebagai teman. Ya itulah power of dream saya. Cupu ya. Yang lain pasti punya power of dream yang lebih keren dan menantang. Kayak... Membahagiakan orang tua. Jadi pengacara beken. Jadi dokter bedah plastik yang membedah artis-artis hollywood. Power of dream saya cupu banget. Ya, tapi itulah power of dream saya.


Suatu saat, ada posting di blog Christian Sugiono tentang pemenang tiket gratis untuk nonton film barunya saat itu, Rasa. Ada link-link pemenang tiket gratis itu. Saya mulai coba buka linknya masing-masing. Terus, nemu satu blog, fashion blogger. Mulai baca. Lalu di blog itu ada link blognya Diana Rikasari, hmm another and bigger fashion blogger. Di blog Diana Rikasari ada link blog Queen Bee. Hemm another fashion blogger, dan promo film Queen Bee. Nah di blog Queen Bee ini, saya menemukan link. Link kemana? Ke page Indonesian Youth Conference.

Hhh perjalanan yang cukup panjang untuk sampai di Indonesian Youth Conference. Tapi ini semua udah ada yang atur, dan saya sampai saat ini, bersyukur saya punya rasa penasaran yang tinggi dan cukup rajin untuk buka link-link tersebut.

Bukan berarti dengan Indonesian Youth Conference saya bisa ketemu Christian Sugiono. Tapi disaat saya bertemu IYC-lah, saya merasa mimpi-mimpi itu semakin muncul. Mimpi saya punya rel kendaraan sendiri-sendiri. Suka balapan. Jadi satu sama lain suka berperang untuk didahulukan. Baiknya, mimpi saya untuk ketemu Christian Sugiono lebih banyak mengalah dari mimpi menembus FK UNPAD, atau mimpi punya novel. Tapi power of dream akan selalu menjadi power of dream. Walaupun konyol, dialah kekuatannya.

Saya mau jadi orang yang dikenal. Dengan keahlian tertentu yang saya kuasai. Dan dengan IYC, saya disadarkan. Di IYC, secara digital, saya bertemu remaja-remaja luar biasa. Yang punya passion tinggi, dan mereka sudah menemukan power of dream sejak usia belia, lalu mulai meniti untuk mewujudkan power of dream dari muda. Hah saya kalah banget. Kenyataan kalau mereka tinggal di Jakarta dan saya di daerah adalah salah satu hal yang bisa saya jadikan alasan kalau saya kalah dibanding mereka. Tapi alasan itu juga bukan segalanya. Karena... saya telalu menomorsatukan sekolah -walaupun memang seharusnya- sampai saya... lupa, kalau banyak mimpi lain yang masih bisa saya capai.

Di IYC, ada anak-anak muda luar biasa yang temennya seleb ini, seleb itu. Ada yang temennya Alyssa Soebandono, dimana Alyssa Soebandono pernah main sinetron satu frame bareng Christian Sugiono. Tapi hellooo saya bukan siapa-siapa. Nggak kenal deket sama anak muda yang itu. Dan nggak mungkin juga kenalan sama Alyssa Soebandono. Tapi seenggaknya... dunia ini sempit ya ;)

Saya mulai bantu-bantu IYC. Kalau ditanya, saya ini siapanya IYC. He saya bukan siapa-siapa. Cubervolunteer, iya. Volunteer, bukan; karena saya enggak ngurusin forum dan festival. Dan sekali lagi, saya menyalahkan keadaan saya yang di daerah, dan IYC ada di Jakarta.

Mimpi saya masih hidup. Power of dream saya masih hidup. Banyak remaja-remaja yang saya kenal/tahu, punya prestasi luar biasa. Ada yang biasa ketemu Pak Marty Natalegawa. Ada yang dikenal oleh Sitta Karina karena kemampuan menulisnya. Banyak lagi. Dan mereka semua saling kenal dengan orang terkenal itu bukan karena dadakan atau ada hubungan saudara, tapi karena mereka meraih sesuatu, lalu mereka menjadi sesuatu, dan kenal dengan orang-orang luar biasa. Ya, itulah yang IYC ajarkan ke saya.

Kalau saya mau bertemu Christian Sugiono, saya harus bisa meraih sesuatu, menjadi sesuatu, lalu dikenalkan dan mengenal Christian Sugiono. Sekali lagi, bukan sebagai fans gegilaan dan teriak-teriak lalu minta foto bareng terus abis itu dia lupa. Enggak, saya mau dia ingat saya, sebagai teman.

Audrey dan Gamaliel kayaknya nggak pernah nyangka deh mereka bisa muncul di Harmoni SCTV. Nyanyi di panggung yang sama dengan Rossa, Tantri Kotak, Dira Sugandhi, Anji Drive, Giring Nidji. Tapi mungkin mereka punya power of dream, menjadi penyanyi, mungkin. Atau power of dream yang lain. Tapi begitu jugalah Tuhan menunjukkan jalan ceritanya. Dan Audrey & Gamaliel ada, terkenal, dengan bakat menyanyi mereka, yang mereka upload, di youtube.


Saat ini, saya adalah pelajar kelas XII IPA di sebuah sekolah negeri di daerah Kalimantan. Mimpi kuliah di FK UNPAD. Mimpi punya novel. Mimpi jadi pembicara untuk sebuah bidang yang saya kuasai. Mimpi masuk TV, radio, majalah, atau koran dengan kemampuan saya di bidang yang saya kuasai. Mimpi kerja di media. Mimpi bahagian orang tua. Mimpi membuat keluarga saya bangga. And last but not least, mimpi ketemu Christian Sugiono.

Cara kita meraih mimpi pasti beda-beda. Power of dream juga beda. Dan mimpi kita juga beda-beda. Power of Dream saya memang konyol. Tapi hey siapa juga yang sangka karena power of dream itu saya jadi semangat banget nyoba berbagai hal dan menjalaninya satu per satu. Siapa juga yang nyangka saya bisa kenal -secara digital- dengan Alanda Kariza, Muhammad Iman Usman, Guinandra Luthfan Jatikusumo. Siapa yang sangka? Power of dream saya memang konyol. Tapi Tuhan tahu, dan punya rencana.

Jadi, sampai disini. Apa power of dream-mu? Kalau sudah tahu mimpimu, apa yang membuat mimpimu jadi begitu kuat?

Share, ya! ;)

Friday, August 27, 2010

Abu-abu

Setelah posting-posting terakhir di blog ini yang agak sendu, dan kenyataan bahwa kita sedang berada di akhir bulan Agustus 2010. Jadi, ayo kita mulai September 2010 dengan hal-hal ceria dan bersemangat, kan Lebaran juga udah deket ;)

Dimulai dengan berita bahagia. Akhirnya setelah penantian sekian lama untuk punya si abu-abu ini...

 
Sepasang sepatu Wondershoe yang saya idam-idamkan dari pertengahan tahun lalu sudah sampai di rumah! :D Lega deh sepatu ini  saya beli pakai duit sendiri + voucher yang saya usaha sendiri juga. Rasanya puas waktu mamerin ke orang tua kalau saya sudah bisa beli sesuatu dengan uang saya sendiri, walau itu bukan benda yang mahal banget ;))

Ketebak nggak sih kalau si abu-abu ini untuk Lebaran?


Friday, August 13, 2010

De-e-a

  Saya dan Dea. Tahun 2006/2007.

Pasti tahu siapa. Mungkin hanya perlu nama. Namanya, Deazy Permata Sari.

Tentang persahabatan. Diawali dari cerita zaman Sekolah Menengah Pertama. Ya, memang kenangan paling mudah dibangun ketika Sekolah Menengah Pertama. Setidaknya, untukku.

Mulai baris ini, kita sapa dengan nama pendek yang hangat, Dea. Kelas tujuh dan delapan. Saya dan Dea cuma teman sekelas. Kita datang dari Sekolah Dasar yang berbeda. Teman-teman yang berbeda. Latar belakang berbeda. Keluarga yang berbeda. Dan gaya berteman yang berbeda. Dea punya kelompok bermain -yang biasa disebut geng- sendiri, dan saya juga punya sendiri. Kita cuma teman sekelas. Teman satu ekskul Jurnalistik. Teman satu kelompok Bahasa Inggris, kelompok Hill Topper. Teman OSIS yang beda divisi, Dea Wakil Ketua OSIS saya Anggota Divisi Ilmu Pengetahuan. Kita cuma teman satu SMP. Sampai Pemlilihan Ketua OSIS SMPIT Istiqamah 2006/2007.


Dea dan saya dan beberapa yang lain diajukan untuk menjadi Ketua OSIS. Dari pemilihan, dan setiap proses menuju pelantikan, kita bareng. Dan sampai pada akhirnya Dea jadi ketua OSIS dan saya sekertaris OSIS, kita bareng. Disini dunia saya berubah. Dan mungkin juga, Dea. 

Saya jadi sering ke rumah Dea. Ngerjain proyek-proyek OSIS, sampai main-main aja. Ngerjain tugas sekolah, sampai nemenin Dea chatting dengan pacarnya. Dari cuma dateng, sampai nginep di rumah Dea. Dea Dea Dea. Saat itu. Kelas delapan akhir sampai sembilan awal, saya dan Dea seperti... DeAnnisa. Buat saya Dea itu sahabat. Ah lebih. Dia itu teman dekat yang merangkap kakak. Latar belakang keluarga kami beda. Dea lahir di keluarga berada yang dari kecil bahagia, sedangkan saya penuh dengan perjuangan dan lika-liku. Setiap ke rumahnya saya selalu menemui hal baru. Dan saya selalu diajari banyak hal. Saya yang buta teknologi, jadi melek. Saya yang cupu, jadi sedikit diatas cupu. Saya kenal Dea. Dan saya... merasa senang pernah kenal dan dekat Dea.

Sampai kami lulus SMP. Terbayang semua perjuangan untuk lulus SMP. Kita les bareng. Kemana-kemana hampir semua bareng. Makan bareng. Jalan-jalan bareng. Pernah jadi MC bareng, walaupun jelas saya tenggelam dari kebolehan Dea. Dea, Dea, Dea. Teman SMP yang paling saya ingat. Dea, Dea, Dea. Dan mamanya, Tante Kiky yang baik dan hangat sekali. Mamanya yang super. Super baik, super hangat. Suka nganter kemana-mana. Ngajak makan. Dan sebagainya. Asik sekali. 

Dan ketika kami, masuk SMA. Saya berhasil masuk kelas akselerasi. Tentunya, Dea juga. Kita sekelas, lagi. Sebangku, lagi. Dan kita bareng, lagi. Tapi disini. Disinilah saat-saat saya mulai punya jarak dengan Dea. Dea sibuk dengan urusan seleksi OSIS. Saya tidak sibuk, tapi saya seleksi MPK. Dan semua ini semakin jelas. Jarak semakin jelas ketika Semester I kelas Akselerasi, saya minta diturunkan ke kelas RSBI. Saya dan Dea? Haha apa kabaaar. Kita jauh. Jauh. Sama-sama di sekolah yang sama. Tapi  rasanya jauh. Kelas cuma seberang lapangan tapi kita jauh. 


Kalau dulu setiap ketemu kita sudah punya satu ton cerita untuk dibagi. Saat-saat SMA, kalau kita ketemu, kita cuma bilang, "Hai!" Bahkan ketika Dea juga turun ke kelas RSBI. Dimana saya X-2 dan Dea X-1 yang kelasnya sebelahan, kalau ketemu saya canggung. Dea saat itu sudah menjadi Sekertaris II OSIS. Saya malu ketemu Dea. Dea eksis banget. Saya? Nol banget. Saya... nggak ada apa-apanya. Ya, saat-saat itu, ketika kelas kami sebelahan tapi kita jauh. Saat-saat ketika saya... mulai kehilangan sosok seorang teman atau sahabat. Saya... sendirian. Saya... di kelas baru dan saya seperti diasingkan di dunia yang saya tinggali.

Suatu malam saya dikabari teman. Ayahnya Dea meninggal. Saya tahu benar ayah Dea sedang sakit. Dea juga sering mendoakan. Saya tahu benar Dea sayang ayahnya. Sayaaang sekali. Dan ketika ditinggalkan begitu cepatnya dan di usia begitu belianya. Saya kaget. Saya langsung telepon teman-teman yang lain. Sambil telepon teman, saya nangis kenceng. Saya banjir air mata. Ya, saat Dea kehilangan ayahnya saya bukan teman yang dekat untuk dia. Saya... bagian dari cerita lalu. Tapi... saya begitu sedih hal itu terjadi begitu cepat dan begitu mudahnya. Saya akhirnya bisa menghubungi Dea. Dea nangis. Tapi dia memang gadis yang super. Super tabah dan super kuat. Kalimat yang masih saya ingat, "Sudah, Bat... Aku nggak papa kok. Doanya aja ya untuk Bapakku..." Dea biasa manggil saya 'Bat', singkatan dari sobat. Saya nangis kenceng di rumah. Nggak nyangka dia sekuat itu.

Waktu berjalan. Lama.

Akhir Juni sampai awal Juli lalu saya ke Jakarta dan Bandung. Awalnya saya berniat ke Bandung hari Senin, 5 Juli 2010. Tapi karena kecapekan hari sebelumnya mengikuti Festival Indonesian Youth Conference, saya dan Ibu memutuskan ke Bandung hari Selasa, 6 Juli 2010. Awalnya saya berniat datang pagi lalu pulang sore dari Bandung ke Jakarta. Tapi, tiba-tiba rencana batal. Saya pulang pagi hari Rabu, 7 Juli 2010. Dan disiniliah. Rencana Allah yang diatur sedemikian rupa. Saya dan Ibu direncanakan Allah untuk tidak menerima sebuah berita hanya berdua. Tapi bersama teman-teman dekat yang lain.

Saya selama di Bandung menginap di rumah salah satu sahabat terbaik saya, Alfi. Saya, Dea, Alfi, sudah seperti keluarga. Dari pagi kami bertemu, saya dan Alfi, Ibu saya dan Mamanya Alfi selalu membicarakan satu hal: Ibunya Dea yang sedang sakit. Ya, Ibunya Dea sakit, kanker usus. Awalnya Dea berencana juga liburan ke Bandung, tapi karena mamanya yang sedang sakit, rencana batal. 

Saya sempat bilang ke Ibu, "Sampai Balikpapan kita jenguk mamanya Dea ya, Mi." 

Selesai Maghrib, saya, Ibu, Alfi, mamanya Alfi, dan adeknya Alfi makan malam. Coba tebak kita ngomongin siapa? Mamanya Dea. Kita cerita tentang perjuangan mamanya, dan berdoa semoga cepat sembuh. Semua harapan kebaikan. 

Lalu saya dan Alfi naik ke lantai atas. Tiba-tiba kami dipanggil. Adeknya Alfi bertanya, "Uni, Mbak Furo SMS, Mamanya Mbak Dea meninggal kah?" Saya dan Alfi langsung turun ke bawah. "Nggak mungkin ah, nggak usah main-main deh, Cik!"

Kita ngecek handphone. Di HP Alfi nggak ada apa-apa. Tapi di HP saya ada 3 inbox, salah satunya dari Ajeng. Saya nggak usah buka SMSnya. Nggak perlu buka SMSnya. Nggak per-lu. Ada tulisan, 'Innalillahi wa innalillahi roji'uun'. Saya langsung menelungkupkan kedua tangan ke muka saya. Dan ngomong ke semua yang lagi nunggu jawaban, "Beneran..." Semua langsung, "Innalillahi wa innailahi roji'uuun." Mamanya Alfi langsung panik. Telepon teman-teman sambil mondar-mandir bingung mau berbuat apa. Ibu saya langsung diem, nggak ngomong apa-apa. Saya sama Alfi, netes.  


Setiap orang yang kenal Dea tau seberapa berarti Tante Kiky untuk Dea. Dea kemana-mana sama mamanya. Lebih dekat sama mamanya daripada sama ayahnya. Semua tau arti mama untuk seorang Dea kayak apa. Tanpa mama, seperti bukan Dea lagi. Kita coba telepon Dea tapi nggak bisa. SMS juga bingung mau ngomong apa. Dan akhirnya telepon kita nyambung. Suaranya Dea sesenggukan banget. Tapi teteup, tegar banget dia. Kita? Rasanya kecil banget. 

Sampai di Balikpapan, saya ke rumah Dea bareng Ibu. Dia? Kayak nggak terjadi sesuatu. Biasa aja. Ya Allah anak ini kuat banget. Dea anak tunggal. Dan saat itu, saat saya ke rumahnya, dan sampai saat saya mengetik posting ini, dia sudah kehilangan Ayah dan Ibunya. Saya sempat lihat dia mulai belajar mengatur semua yang ditinggalkan ibunya. Pelan tapi pasti. Dia tumbuh jadi gadis yang kuat dan punya kekuatan. Dia dewasa. Tumbuh dewasa. 

Besok, hari Sabtu 14 Juli 2010, Dea ngadain acara 40 harian ibunya. Sudah 40 hari Tante Zarkiyah meninggalkan setiap orang yang dikenalnya. Sudah 40 hari Dea kehilangan mamanya. Dan sudah 40 hari doa-doa mengalir untuk Tante Kiky. Sudah 40 hari, setiap kebaikan yang diperbuat menjadi berkah dan kebaikan. Dan setiap hal yang kurang berkenan dimaafkan. Insya Allah 40 hari yang membuat Dea jauh lebih kuat. 40 hari yang membuat semua kebaikan Tante Kiky menjadi kebaikan untuk orang lain. 

Mohon doa ya teman. Untuk Dea, untuk Tante Kiky. Semoga Dea bisa terus lancar dan sukses menjalani hari-hari tanpa mama dan ayah ke depannya. Semoga dosa-dosa Tante dan Om diampuni, dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Bantu doa ya teman, karena cuma doa yang bisa kita perbuat.

Saya temannya Dea. Dekat. Dulu, mungkin sekarang tidak seperti dulu. Tapi saya menyayanginya sebesar setiap kekuatan yang dia ajarkan pada saya. Sebesar ketabahannya. Dan sebesar ketegarannya. Dia adalah contoh untuk saya. Aku doakan yang terbaik. Sukses selalu, dan segera menemukan hidup yang lebih hidup :)

 Tetep senyum kayak di foto ini, ya! :D

Aku dan -kita menyayangimu, selalu.
Nisa, diiringi titipan dari Alfi, Agung, Oi, dan Cipeng




Wednesday, August 11, 2010

Minima Urban Atwork 4.0

Hari Minggu (08/07/10) lalu, saya bersama keponakan saya dan Hani ke Balikpapan Trade Center untuk lihat Minima Urban Atwork 4.0. Minima Urban Atwork kayak pameran seni. Malam minggunya ada penampilan dari band, ada kompetisi macem-macem, dan acara-acara anak muda lainnya. Yes, ini acara seni-nya anak muda Balikpapan :D

Bela-belain kesana siang panas-panas demi apa? Demi lihat karyanya Dhina :D

Karya Dhina, dua paling atas kertas putih :)

That's my nephew, reading XY Kids.



Penataannya bagus. Lampu-lampu diatasnya apalagi. Jempol (y)




Sayangnya saya dateng di hari terakhir dan sepi banget siang-siang saya dateng. Tapi gapapa deh bisa foto-foto :p

Selamat ya Dhina karyanya bisa masuk pameran se-Balikpapan. Sukses ya di dunia seni menyeninya. FSRD ITB you go! :D

Thank you for reading, xoxo

Friday, August 06, 2010

3 x 4 cm

Terima kasih untuk setiap tweet yang masuk di kolom mention. Setiap comment yang muncul di bawah posting Long Distance Relationship, setiap comment di Facebook, setiap kata-kata yang diucapkan langsung, dan setiap hal baik atau hal buruk tentang posting Long Distance Relationship.

 dua pas foto di dompet saya

Semoga setiap harapan dan kebaikan menjadi nyata, dan setiap benci dan keburukan tak terlaksana. Jalan masih panjang. Semoga semua lancar dan baik-baik saja.

Terima kasih banyak, banyak, banyak :)



Thursday, August 05, 2010

Long Distance Relationship

 And it's just nothing but normal if I plan to keep you forever. 
They say it's 'love' I say it's 'life'.

Setiap orang punya kisah cinta. Sendiri, dengan orang lain, atau dengan orang-orang lain. Kisah cinta yang menjadi cinta atau hanya perasaan. Kisah cinta yang nyata atau khayalan. Atau kisah cinta yang dimiliki berdua atau yang dinikmati sendiri saja. Bergelut dengan perasaan.

Saya punya kisah cinta. Satu diantara yang lain, atau satu diantara yang bukan. Sebuah cerita yang dimulai tiga tahun lalu dan masih berjalan bersama dengan setiap matahari yang terbit

Kisah ini dimulai saat saya kelas sembilan sekolah menengah pertama, dan sampai sekarang kelas dua belas sekolah menengah atas, kisah ini masih berjalan. Bukan cerita indah tentang perempuan dan laki-laki yang punya cinta dan mencintai dengan mudah. Tapi kisah ini penuh kerikil, penuh batu, penuh rintangan, dan penuh kejutan.

Tentang saya, dan Agung Laksana Dharmantara.

Saya berjalan di kisah yang sama. Dari pertama kali cuma menyapa lalu saling kirim pesan. Dari pertama kali saling tatap muka, sampai sekarang saling menyayang. Ini bukan cerita mudah. Karena kami tidak dipayungi izin untuk membangun kisah ini. Berkali-kali saya menangis dan mengeluh karena harus menerima pesan-pesan mengancam. Berkali-kali saya sendirian. Berkali-kali saya tanpa pesan. Semuanya sendirian.

Sampai saat ini, ketika saya dan dia berjalan di kisah yang sama. Sampai saat ini, ketika orang tuanya masih tidak memberi izin. Masih sampai saat ini, ketika perjalanan ini sudah sampai angka tiga.

Sekarang saya dihadapkan pada kenyataan, kalau saya di Balikpapan dan Agung di Bandung. Saya dihadapkan pada cerita kalau tidak semua kisah cinta adalah dongeng. Dan sekarang saya sendirian, tanpa genggaman hangat, tanpa senyuman di depan gerbang sekolah setiap hari, tanpa mangkuk-mangkuk kuah bakso, tanpa petikan senar gitar dengan lagu romantis, tanpa dua tiket kecil warna kuning bioskop, tanpa piring-piring baja hot plate, tanpa karcis parkir, tanpa suara berat dengan magic words 'Aku sayang kamu...'.

Dan cerita ini masih berjalan. Seperti setiap pulsa yang berkurang. Setiap panggilan masuk. Setiap pesan datang. Setiap messenger bergetar, dan setiap air mata yang jatuh.

Untuk anda yang belum pernah punya kisah cinta yang dibatasi jarak berbeda pulau. Atau untuk anda yang sama sekali tidak punya kisah cinta saat ini, berbahagialah karena kisah cinta belum membuat anda menangis sendirian setiap malam sebelum tidur.

Banyak yang sudah merasakan, tapi banyak juga yang belum. Banyak yang prihatin, tapi banyak juga yang membenci dan mengatai.


Setiap malam tanpa keyakinan kalau Agung sedang ada di kota Balikpapan adalah malam panjang yang penuh kecemasan. Setiap siang tanpa senyuman dan jemputan di depan gerbang sekolah adalah siang paling dramatis. Dan setiap pagi dengan keyakinan kalau tidak akan bertemu Agung hari itu adalah hari yang paling berdarah dari hari-hari sebelumnya. Saya tidak tahu kisah dan perasaan saya sedalam apa, yang saya tahu, saya punya perasaan ini, dan perasaan ini adalah bagian hidup saya yang paling berharga dan mendalam, sampai detik saya menulis posting ini.

Saya tidak yakin ini berjalan mulus. Tapi saya yakin kami akan tetap maju. Banyak yang gagal dengan Long Distance Relationship, tapi saya yakin saya bukan salah satunya.

Setiap saya menitikkan air mata, saya percaya kalau sebaris lirik di lagu 'Leaving On a Jet Plane' akan menjadi bagian dari hidup saya: When I come back, I'll bring you wedding ring

Dan, agar menjadi bagian dari blog saya, saya ingin menulis, kalau saat ini, kemarin, besok, dan beberapa hari berikutnya, saya menyayanginya. Sebanyak hari-hari yang saya lewati bersamanya :)

Suatu saat saya dikatai lebay. Karena setiap kalimat yang saya tweet di akun twitter saya tentang saya yang merindu. Suatu saat saya dibilang norak. Karena saya bukanlah satu-satunya orang yang merasakan Long Distance Relationship dan mengapa harus merasa begitu sedih.

Terima kasih, sudah bilang saya norak dan lebay. Semoga anda cepat merasakan kisah cinta, dan merasakan Long Distance Relationship.

Thank you for reading, have a nice day :)

Tuesday, August 03, 2010

Voucher wondershoe di tangan!

Setelah sempat bertanya-tanya soal voucher Wondershoe yang saya dapat dari GoGirl! dan sudah saya tumpahkan di post sebelumnya. Akhirnya voucher Wondershoe sudah di tangan! :D

 

Happy :) Now gonna order the Wondershoe shoes. Do you wanna order yours? Click here :)