Hello it's been a long time. I miss this blog much much much.
I have tons of stories. And will be start with... IYC Festival.
Salihara. Minggu, 4 Juli 2010. Festival Indonesian Youth Conference.
Di festival ini, saya bertemu teman-teman IYCers, teman-teman yang sama-sama berjalan bersama dengan IYC, mendukung IYC dari awal sampai akhir. Kami selama ini hanya saling berinteraksi lewat Facebook, Twitter, MSN atau YM. Dan akhirnya, setelah sekian lama, kita bisa ketemu! Mereka adalah Gaby (Panitia IYC, Sekertaris), Feli (Panitia IYC, Komunikasi), Fikri (Peserta Forum IYC dari Sul-Sel), Karina, Ririn, Rima. Ada satu yang nggak ketemu, Angga. Yang saat festival IYC sedang di US karena dapet SUSI (Study in The United States).
Saya datang (sangat) kepagian. Acara mulai jam 11 tapi saya sampai tempat acara jam setengah 8. Great. Niat datang cepet supaya nggak telat dan nggak macet, yang ada malah kepagian. Begitu sampai, ketemu Gaby dan Kak Ghian. Gaby langsung nanya, "Mau ngapain Nis dateng jam segini?" "Hai Gab, hehe kecepetan ya..." Oke, awal yang kurang menyenangkan. Akhirnya saya luntang lantung. Sempet ke Pejaten Village eh malah belum buka. Akhirnya nunggu di Kedai Salihara.
Salah satu sisi di Kedai Salihara
Yang bisa saya katakan adalah... Itu adalah pertama kalinya saya ke Salihara. Dan saya... jatuh cinta dengan tempatnya. Anak muda banget. Dari depan kesannya rimbun. Banyak daun-daun menjalar juga. Tapi semakin masuk kedalam, desain simpelnya bikin jatuh cinta. Di bagian depan ada toko kayak distro gitu, jual macem-macem brand karya anak bangsa, dan (teteup) anak muda banget. Tempatnya cozy. Warnanya warna semen gitu jadi kesannya sederhana. Di dekat Teater juga ada kolamnya. Ada beberapa graffiti di dinding. Ada beberapa poster yang menunjukkan seringnya orang-orang ngadain acara di Salihara. Hemm, semoga di Balikpapan suatu hari ada tempat kayak Salihara, Amin :)
Oh ya, balik dari Pejaten Village, saya langsung tukar bukti pembayaran tiket IYC, berupa print dari e-mail yang dikirim IYC. Nuker bukti pembayaran, disuruh isi kayak absen gitu. Teruuus, saya dapet tiket Festival. Daaan, Goodie Bag. Bagaimana bentuk tiketnya? Ini dia!
Apa isi Goodie Bagnya? Ada Majalah GoGirl!, Botol minum Tupperware, Buku Program Festival, Buku Panduan. Awesomeness, terutama... buku panduannya yang warna kuning.
Setelah itu saya nunggu Festival mulai di Kedai Salihara. Terus... ada beberapa angkot dateng, siapa yang datang? Peserta Forum IYC! Yay yay yay ketemu Fikri! Fikri ini salah satu IYCers dari Makassar, dan dia mewakili Sulawesi Selatan di Forum IYC. Saya udah pernah ketemu Fikri sebelumnya, waktu dia ke Balikpapan. Sempet ngobrol singkat sama Fikri, terus cipika cipiki singkat sama Kak Dey, dan kenalan dengan dua Wakil Kalimantan Timur: Dina Puspita Sari dan Arestya. Sebelum Festival mulai, anak-anak muda yang dateng dan sudah menukar tiket, ngumpul di depan Salihara. Rameee :D
Peserta Festival IYC
Jam 11, festival dimulai. Sesi pertama pilihan saya: Pendidikan. Saya sudah antri agak lama... eh ternyata salah tempat. Saya antri di Teater padahal acaranya di Galeri Salihara. Langsung naik kea atas. Lagi lari-lari keburu waktu takut ketinggalan sesi, di meja depan Galeri ada panitia yang nyapa, "Mau ke Galeri, Mbak?" "Aaaa Feli!" "Nisa!" Yay yay yay ketemu Feli! "Feli kamu kok kecil banget..." Feli: "..."
Masuk Galeri Salihara, langsung norak. Iii kereeen! Ruangannya putih, serba putih, dan (uniknya) bentuknya bulat. Tempatnya adem, dan nyaman banget.
Pembicara sesi ini Pak Arief Rahman Hakim dan Bang Beben Supendi. Moderatornya Muhammad Assad. Awal-awal moderator bicara dan disebut sebagai Bang Assad, saya mulai ngerasa... kayak tau... Eh ternyata bener. Muhammad Assad 'Abang'nya Angga (salah satu IYCers). Bang Assad ini kereeen banget loh, follow twitternya deh :)
Pak Arief Rahman Hakim dikenal sebagai pakar pendidikan, dan saat ini dosen Universitas Pelita Harapan. Kalau Bang Beben Supendi, kakaknya Dik Doank. Bang Beben memegang beberapa sekolah gratis untuk anak-anak kurang mampu. Dosen musik untuk sebuah universitas. Dan musisi Jazz. Favorit saya di sesi Pendidikan ini ya... Pak Arief! :D
Pembicara sesi ini Pak Arief Rahman Hakim dan Bang Beben Supendi. Moderatornya Muhammad Assad. Awal-awal moderator bicara dan disebut sebagai Bang Assad, saya mulai ngerasa... kayak tau... Eh ternyata bener. Muhammad Assad 'Abang'nya Angga (salah satu IYCers). Bang Assad ini kereeen banget loh, follow twitternya deh :)
Pak Arief Rahman Hakim dikenal sebagai pakar pendidikan, dan saat ini dosen Universitas Pelita Harapan. Kalau Bang Beben Supendi, kakaknya Dik Doank. Bang Beben memegang beberapa sekolah gratis untuk anak-anak kurang mampu. Dosen musik untuk sebuah universitas. Dan musisi Jazz. Favorit saya di sesi Pendidikan ini ya... Pak Arief! :D
Sesi Pendidikan
Bang Beben Supendi
Jadi, awalnya. Ada sambutan dari panitia. Ada salam juga dari Alanda Kariza (Program Director) yang saat Festival berlangsung sedang di US karena dapet SUSI (Study in United States).
Lanjut, pembukaan juga dari Bang Assad. Menjelaskan teknis tiap sesi, dan sebagainya. Pak Arief mulai duluan. Menjelaskan tentang Pendidikan. Tentang potensi setiap anak di dunia. Tentang pembagian kecerdasan. Oh ya, Pak Arief bilang kalau beliau juga nggak setuju dengan UAN. Kata beliau UAN nggak adil untuk anak-anak Indonesia. "Masa' mau ngebandingin anak SMAN 70 sama yang di Papua?" Satu yang paling diinget sama saya, "Kalau pacaran, jangan dari SMA. Nanti kamu udah S3, eh dia masih D3 aja. Maksudnya, iya kalo dia bisa ngikutin kamu, kalo nggak?" Hahaha. Ngerasa tersindir ;p
Sesi berjalan... dan saya mulai terpukau. Bang Beben lebih banyak memumpamakan pendidikan dari sisi pendidikan musik, terutama musik Jazz karena beliau adalah guru musik Jazz. Tapi, ya intinya teteup. Pendidikan yang mudah dan menyenangkan. Kalau soal cara biacara, saya lebih suka Pak Arief, karenaaa lebih touching, terus beberapa bagian ada yang kayak mendongeng :D
Yang bisa saya petik dari sesi ini: Tekuni pendidikan dengan jalanmu sendiri, jangan terpaku dan terpengaruh dengan orang lain. Temukan bakatmu, potensi diri, dan gali dengan pendidikan. Jika saat ini pendidikan kurang bersahabat bagimu, tetap berusahalah, suatu saat kaulah yang dapat memperbaiki dunia pendidikan di Indonesia.
Lanjut, pembukaan juga dari Bang Assad. Menjelaskan teknis tiap sesi, dan sebagainya. Pak Arief mulai duluan. Menjelaskan tentang Pendidikan. Tentang potensi setiap anak di dunia. Tentang pembagian kecerdasan. Oh ya, Pak Arief bilang kalau beliau juga nggak setuju dengan UAN. Kata beliau UAN nggak adil untuk anak-anak Indonesia. "Masa' mau ngebandingin anak SMAN 70 sama yang di Papua?" Satu yang paling diinget sama saya, "Kalau pacaran, jangan dari SMA. Nanti kamu udah S3, eh dia masih D3 aja. Maksudnya, iya kalo dia bisa ngikutin kamu, kalo nggak?" Hahaha. Ngerasa tersindir ;p
Sesi berjalan... dan saya mulai terpukau. Bang Beben lebih banyak memumpamakan pendidikan dari sisi pendidikan musik, terutama musik Jazz karena beliau adalah guru musik Jazz. Tapi, ya intinya teteup. Pendidikan yang mudah dan menyenangkan. Kalau soal cara biacara, saya lebih suka Pak Arief, karenaaa lebih touching, terus beberapa bagian ada yang kayak mendongeng :D
Yang bisa saya petik dari sesi ini: Tekuni pendidikan dengan jalanmu sendiri, jangan terpaku dan terpengaruh dengan orang lain. Temukan bakatmu, potensi diri, dan gali dengan pendidikan. Jika saat ini pendidikan kurang bersahabat bagimu, tetap berusahalah, suatu saat kaulah yang dapat memperbaiki dunia pendidikan di Indonesia.
Oh ya, di sesi ini, saya ketemu Karina, Ririn, Neng Ratna, Fikri, Iman, dan sebagai sebagainya :D Pokoknya pemuda-pemuda hebat yang concern sama Indonesia yang selama ini cuma bisa komunikasi secara digital. Selesai sesi, saya sempet foto-foto dengan teman-teman IYCers, tapi nggak semua :( Abis semuanya sibuuuk, terutama Karina yang supeeer eksis banyak temennya ;p *colek Karin*
Neng Ratna, Saya. Yang dua disamping kiri lupa (maaf :[ )
Ririn, Neng Ratna, Saya, Feli
Selesai sesi, saatnya istirahat sholat dan makan. Saya sempet ngobrol-ngobrol bareng Ririn, Gaby, dan kenalan dengan beberapa yang lain. Salahnya saya nggak memanfaatkan istirahat ini untuk makan, abisnya Kedai Salihara penuh bangeeet. Kenapa saya salah? Karena nggak ada istirahat lain selain istirahat ini, dan saya yang nggak makan jadi kelaperan. Ngikutin seminar jadi nggak fokus.
Oh ya, setelah ikut sesi pertama, saya jadi tahu cara berjalannya sesi. Jadi, setiap pembicara diberi waktu untuk menyampaikan materinya sesuai yang ditentukan panitia, bisa 10 menit, atau kurang, tergantung banyaknya pembicara. Rata-rata sesi berjalan 60 menit. Setelah setiap pembicara menyampaikan materi atau menjawab pertanyaan-pertanyaan moderator, ada sesi tanya jawab. Jadi peserta festival bisa tanya hal-hal yang sesuai dengan materi kepada pembicara. Nggak semua bisa tanya. Bisa jadi hanya 2-3 orang.
Waktu saya ke Kedai Salihara niat makan tapi nggak jadi, saya lihat dua orang... Seleb! Ah bukan seleb. Insan industri hiburan. Yep, yang satu insan film, yang satu insan musik. Si-a-pa? Mira Lesmana daaan Pandji Pragiwaksono. Bisa lihat nggak di dua foto ini? Bisa kan! Bisa koook (maksa). Yang keriting pirang itu Mira Lesmana, yang pakai topi biru itu Pandji Pragiwaksono. Kyaaa! Saya nggak ambil foto dari jarak lebih deket, jadi kelindungan daun-daun nih. Ke-na-pa ga mau ambil dari deket? Abisnya takut dibilang norak (padahal iya ;p).
Oh ya, setelah ikut sesi pertama, saya jadi tahu cara berjalannya sesi. Jadi, setiap pembicara diberi waktu untuk menyampaikan materinya sesuai yang ditentukan panitia, bisa 10 menit, atau kurang, tergantung banyaknya pembicara. Rata-rata sesi berjalan 60 menit. Setelah setiap pembicara menyampaikan materi atau menjawab pertanyaan-pertanyaan moderator, ada sesi tanya jawab. Jadi peserta festival bisa tanya hal-hal yang sesuai dengan materi kepada pembicara. Nggak semua bisa tanya. Bisa jadi hanya 2-3 orang.
Waktu saya ke Kedai Salihara niat makan tapi nggak jadi, saya lihat dua orang... Seleb! Ah bukan seleb. Insan industri hiburan. Yep, yang satu insan film, yang satu insan musik. Si-a-pa? Mira Lesmana daaan Pandji Pragiwaksono. Bisa lihat nggak di dua foto ini? Bisa kan! Bisa koook (maksa). Yang keriting pirang itu Mira Lesmana, yang pakai topi biru itu Pandji Pragiwaksono. Kyaaa! Saya nggak ambil foto dari jarak lebih deket, jadi kelindungan daun-daun nih. Ke-na-pa ga mau ambil dari deket? Abisnya takut dibilang norak (padahal iya ;p).
Oke lanjut sesi kedua, Sesi Diplomasi. Saya kebagian tempat yang agak di depan di Teater Salihara. Teater Salihara itu kayak bioskop kursinya, tapi ada panggung di depannya. Tempatnya asiiik. Keren dan dingiiin banget nget nget. Di sesi ini saya banyak ketemu panitia-panitia IYC yang biasanya cuma saya lihat di foto atau cuma komunikasi lewat facebook atau twitter. Haaa senang :D
Sesi yang super. Baru masuk, udah disuguhi layar dengan tulisan Dr. Dino Patti Djalal. Oh God ini beneran mau ketemu Pak Dino? Kyaaa.
Lalu, datanglah Pak Dino dan istrinya Bu Rosa. Pak Dino nyapa, "Halo, Pak Dinonya ada?" Hehehe. "Saya Andi Malarangeng." Baru dateng aja Pak Dino udah hangat dan ramah. Kebayang sesi ini pasti berjalan hangat.
Pembicara sesi ini adalah Pak Dino Patti Djalal (Juru Bicara Presiden SBY) dan Pak Fariz Al-Medawi (Duta Besar Palestina untuk Indonesia). Moderator oleh Nurjannah Eka Putri. Sesi ini berjalan dengan 95% berbahasa Inggris.
Diawali pemutaran video Modernisator, dimana Pak Dino adalah Vice President dari Modernisator. Di video tersebut, saya bisa melihat beberapa anak muda yang saya kenal (secara digital) seperti Guinandra Luthfan Jatikusumo dan Alanda Kariza. Video tersebut kayak... video penyemangat untuk generasi muda Indonesia untuk memajukan Indonesia. Di video itu juga ada Agnes Monica, Fardan, dan lainnya.
Pak Dino Patti Djalal
Pak Fariz Al-Medawi
Pak Dino dan iPad-nya (iri)
Sesi berjalan dan saya terkagum-kagum. Hebat banget Panitia IYC bisa menghadirkan Pak Dino. Pak Dino yang baru pulang dari Toronto untuk menghadiri G20, Umrah, dan Turki; dari airport langsung ke Salihara untuk Festival IYC. Hebat banget nget nget :D
Pak Dino lebih banyak menjelaskan tentang keunggulan-keunggulan Indonesia dibanding negara berkembang lainnya saat ini, supaya kita anak-anak muda jadi termotivasi untuk memajukan negara kita. Pak Dino bilang, generasi kita adalah generasi terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Yang mampu mencapai perkembangan secara pesat. Dan Pak Dino sangat aware dengan gerakan-gerakan pemuda kayak Indonesian Youth Conference. Pak Dino juga sempet menyelipkan, kalau kita, Indonesia, adalah negara dengan demokrasi tersukses di Asia :)
Btw, istri Pak Dino cantik banget. Pak Dino sempet promosiin istrinya juga dan becanda, "Pasti kalian bingung kenapa dia mau sama saya." Hehehe.
Pak Fariz banyak cerita tentang Palestina, dan perbandingannya dengan Indonesia. Pak Fariz juga bilang, pemuda Indonesia jangan terlena dengan kemajuan Indonesia, tantangan masih banyak di depan. Kemajuan-kemajuan itu belum ada apa-apanya. Jalan masih panjang. Pak Fariz juga cerita tentang Indonesia sebagai negara dengan muslim terbanyak, dan kekagumannya dengan demokrasi di Indonesia. Beliau sangat kagum dengan demokrasi yang diselenggarakan pemerintah Indonesia. Kagum bagaimana setiap perempuan dapat pakai jilbab, dan saling berdampingan satu sama lain.
Yang dapat saya simpulkan adalah... Kita sebagai pemuda Indonesia harus coba melakukan sesuatu. Harus punya mimpi dan harus punya kemauan untuk mewujudkannya. Buat Indonesia jadi lebih baik. Walaupun masih muda, suara kita bisa sangat didengar. Kata Pak Dino, hanya dengan membuat akun twitter dan mulai menulis hal-hal yang ingin disuarakan lewat akun itu, suara kita telah didengar oleh orang-orang di seluruh dunia. Dan disitulah perubahan dimulai.
Pak Dino lebih banyak menjelaskan tentang keunggulan-keunggulan Indonesia dibanding negara berkembang lainnya saat ini, supaya kita anak-anak muda jadi termotivasi untuk memajukan negara kita. Pak Dino bilang, generasi kita adalah generasi terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Yang mampu mencapai perkembangan secara pesat. Dan Pak Dino sangat aware dengan gerakan-gerakan pemuda kayak Indonesian Youth Conference. Pak Dino juga sempet menyelipkan, kalau kita, Indonesia, adalah negara dengan demokrasi tersukses di Asia :)
Btw, istri Pak Dino cantik banget. Pak Dino sempet promosiin istrinya juga dan becanda, "Pasti kalian bingung kenapa dia mau sama saya." Hehehe.
Pak Fariz banyak cerita tentang Palestina, dan perbandingannya dengan Indonesia. Pak Fariz juga bilang, pemuda Indonesia jangan terlena dengan kemajuan Indonesia, tantangan masih banyak di depan. Kemajuan-kemajuan itu belum ada apa-apanya. Jalan masih panjang. Pak Fariz juga cerita tentang Indonesia sebagai negara dengan muslim terbanyak, dan kekagumannya dengan demokrasi di Indonesia. Beliau sangat kagum dengan demokrasi yang diselenggarakan pemerintah Indonesia. Kagum bagaimana setiap perempuan dapat pakai jilbab, dan saling berdampingan satu sama lain.
Yang dapat saya simpulkan adalah... Kita sebagai pemuda Indonesia harus coba melakukan sesuatu. Harus punya mimpi dan harus punya kemauan untuk mewujudkannya. Buat Indonesia jadi lebih baik. Walaupun masih muda, suara kita bisa sangat didengar. Kata Pak Dino, hanya dengan membuat akun twitter dan mulai menulis hal-hal yang ingin disuarakan lewat akun itu, suara kita telah didengar oleh orang-orang di seluruh dunia. Dan disitulah perubahan dimulai.
Selesai sesi Diplomasi, lanjut sesi Politik. Sesi ini dilangsungkan di Teater Salihara, lagi. Dan ada Najwa Shihab, lho...
Tunggu di posting Festival Indonesian Youth Conference Part II ya :)
NP: Nama-nama yang di-bold, itu ada link twitternya. Silakan kalau mau follow :)
NP: Nama-nama yang di-bold, itu ada link twitternya. Silakan kalau mau follow :)


























gak sia-sia kamu repost karena emang lebih bagus repostannya, lebih detil. dan bagian apa-yang-dipetik-dari-sesi-ini banyakiiin, misalnya quote2 atau becandaan yang kamu inget. biar yang ga dateng berasa dateng nih.. :p
ReplyDeleteLANJUUUT~
Okay kalo gitu mesti re-post lagi, hehe. Thanks Kak! :D
ReplyDeleteasik yang repost keduanya lebih bagus lagi. makasi ya niis sudah berbagi hihi maaf bawel :D
ReplyDeleteannisa, foto sesi diplomasi yang nyorot penonton, disebelah cow yang lagi baca buku kuning, itu aku! masih inget nggak, yang nyapa kamu n_n
ReplyDeletepost lebih banyak lagi zak. mataku lapar melihatnya. muahha
ReplyDeletepost lebih banyak lagi zak. mataku lapar melihatnya. muahha
ReplyDeleteanita: Iya Nit tunggu ya sabar mehehe lagi males nulis yang panjang2 hehe :P
ReplyDelete