Monday, May 11, 2009

13 things I love for this latest time:


1. Christian Sugiono, he is my favorite celeb.

2. Download video Christian Sugiono. Seperti
iklan, FTV, photo session, infotainment, sinetron, film, video klip and so on from YouTube. So, check the videos from those links.

3. Download video Titi Kamal manggung di acara music ON AIR, seperti di Dahsyat, KissVaganza, atau INBOX.


4. Nonton video di channel Adrian Sugiono on YouTube. Karena dia kuliah film, ngeliat videonya berasa gimanaaa gitu, mayan juga untuk nambah-nambah pengetahuan.

5. Makan sayur dan buah sebanyak-banyaknya, makan tablet hisap vitamin C, minum suplemen vitamin B, minum air seduh tanaman herbal mahkota dewa; supaya saya gak kurang vitamin B lagi.

6. Watch BUKAN EMPAT MATA everynight. Mayan juga untuk me-refresh badan yang capek seharian berkegiatan. Tukul ternyata lucu yah. Selain itu, saya juga coba cari BUKAN EMPAT MATA yang ada Tian atau Titi di YouTube. Ada beberapa sih yang saya dapet:

7. Beli gelang. Lagi suka aja, pengennya yang warna-warni dan beda.

8. Listen to Peterpan-Tak Ada Yang Abadi, liriknya dalem ya. Berasa pengen do the best and be the best untuk menggantikan yang sekarang ada dan menghadapai yang di depan.

9. Pakai sepatu lukis warna putih seharga Rp 55.000 yang saya beli lewat Marlina. Ayo yang mau beli juga silahkan pesan lewat saya.



10. Mengurus blog baru (ke-tiga) yang –pengennya sih- saya buat lebih professional. Kunjungi blog saya sebelumnya deh:

11. Ngumpulin laundry bag A Mild. Warna dan gambarnya kreatif dan ART banget!



12. Terapi air putih pake botol minum kesayangan (sayangnya saat ngetik ini botol mium YELLOW WINNIE THE POOH itu ketinggalan di rumah Furo)


13. Tidur midninght. Kalo tidur larut, bangunnya fresh banget.


So, what are things you love for this latest time?

Self Improvement

Typed on Sunday, March 29, 2009 at 11:50 p.m.


Barusan saya nonton MTV Rumah Gue edisi Christian Sugiono di YouTube. Asik banget, SPEEDY di rumah Cype cepet, jadinya NO NGADAT NO BUFFERING gitu YouTubenya, gak kayak kalo buka YouTube pake notebook yang mengandalkan jaringan Wi-Fi di sekolah. Sebenernya video itu udah lama, tapi saya baru tau aja kalo Christian Sugiono pernah ‘digeledah’ rumahnya, dan akhirnya saya coba search di YouTube. Yipeee! Rumahnya gak MEWAH LEBAY kayak seleb lain yang ala minimalis, ala mediteranian, bla bla bla. Rumahnya klasik, tapi –ajigile- gede banget, banyak ruangannya, furniture-nya unik daaaan pagar rumahnya bisa kebuka hanya dengan tepukan tanganmu! Aw aw aw! Tapi setelah ngeliat teras, ruang tamu, ruang makan, dapur, ruang gym, kamar Tian, ruang kerja, and the last ruang karaoke di rumah Tian; rasa kagum saya bertambah, abisnya dia keren banget sih!

Tapi dari sekitar setengah jam saya nonton MTV Rumah Gue edisi Christian Sugiono, yang bikin saya diem dan mikir cukup dalem adalah: Self improvement yang dibilang Tian untuk ngegambarin buku apa yang dia suka.

Yah, sebenernya apa ya self improvement itu? Dan sebenernya apa ya yang udah dan harus saya lakuin untuk self improvement diri saya? Di kamus inggris-indonesia yang ada di notebook saya, self improvement adalah perbaikan diri. Dan sekarang, di usia saya yang berjalan 16 tahun, yang paling saya tunggu di ulang tahun ke-16 saya nanti cuma SIM (Surat Izin Mengemudi) biar saya gak panik lagi kalo di jalanan dengar peluit yang saya kira polisi ternyata malah tukang parker, walah walah. Trus, sebenernya kedewasaan saya di usia 16 tahun nanti sejauh mana ya? Dua tahun lagi saya kuliah, dan dari sekarang saya udah harus tau mau kuliah dimana, ngambil jurusan apa, dan korelasi kuliah yang akan saya tempuh itu dengan kehidupan saya ketika dewasa nanti apa. Selain itu, saya juga harus tau cita-cita saya itu apa, gimana ngedapetinnya; dan perbaikan diri yang gimana sih yang saya perluin? Dari TK sampai SMP; saya mimpi banget pengen jadi dokter, pengen masuk FKUI yang gileeee susaaahhh dan mahhaaaal banget masuknya. Tapi akhir SMP, saya pengen banget masuk TL (Teknik Lingkungan); saya pengen jadi orang yang aktif untuk nyelametin bumi, dan orang yang bisa berbuat banyak, untuk sebuah perbaikan, dan kemajuan; saya pengen punya sesuatu yang bisa di-share untuk mewujudkan sesuatu yang baik dan besar bersama. Tapi, semakin saya baca blog, tulisan, essay, puisi, syair dan bla bla bla; hasrat untuk jadi penulis jadi makin kuat. Dan seperti setiap orang tua berkata (walopun orang tua saya gak pernah ngomong begitu) “Mau makan apa kamu kalo ‘cuma’ jadi penulis?” Kini, pas SMA, setelah menelaah lagi sebenernya hidup seperti apa yang saya pengen kelak, saya jadi naksir sama ilmu komunikasi, yaaaa walaupun saya belum tau detail-nya.

Kemarin saya baca horoskop saya, Libra: “Kita adalah seorang pengkhayal dan memiliki segudang imajinasi yang menarik, jalankan semua mimpi dengan usaha nyata dari dirimu.” Oke, mimpi saya tuh jelas, pengen jadi orang yang bisa melakukan ‘sesuatu’ untuk ‘sesuatu’ yang lebih besar. Bukan cuma jadi follower yang NOTHING TO DO AND DO LESS TALK MORE. Saya pengen saat semua orang mengkritik, yang saya lakukan adalah menyampaikan point of view yang senetral mungkin. Saya pengen saat semua orang golput, yang saya lakukan adalah mengajak dan meyakinkan sebanyak-banyaknya orang kalo golput itu salah dan gak milih itu bukan sebuah pilihan yang baik. Saya pengen saat semua orang terkepung dengan sugesti dan idealisme yang mengada-ngada, saya bisa membuka mata mereka kalo many things are still in the air dan banyak yang bisa kita lakukan untuk sesuatu yang baru dan bermanfaat. Saya pengen saat semua keluarga besar saya menganggap kalo jadi PNS atau pegawai kantoran yang terbiasa menerima ‘uang panas’ itu oke karena bisa ngehasilin banyak duit dan bisa ngasi makan; saya pengen saya bisa buktiin, kalo saya bisa tetap hidup, tetap makan; dengan kejujuran, pengorbanan, dan hal-hal baru yang bisa saya lakukan gak cuma untuk diri sendiri. Pokoknya, saya cuma pengen pemikiran-pemikiran baru hadir di setiap kepala orang Indonesia, bahwa MEMBUANG SAMPAH ITU DI TEMPAT SAMPAH, BAHWA MILIK UMUM ADALAH MILIK UMUM, BUKAN MILIK PRIBADI. Bahwa SEKOLAH ITU UNTUK CARI ILMU, BUKAN CARI NILAI.

Balik lagi ke self improvement. Hal yang sudah saya lakukan sampai saya punya sebuah kepala dan hati yang seperti ini adalah: Membaca sejak usia 4 tahun. Menulis sejak usia 5 tahun. Membuat surat sejak usia 6 tahun. Membaca buku Faiz Abdurrahman: yang membuka gerbang sastra di mata saya pada usia 11 tahun. Membaca Revolusi Sekolah karya Fahd Djibran (fahd-isme.blogspot.com) yang membuka diri saya pada perubahan, kejujuran, semangat, inovasi, ide cemerlang, pengorbanan; pada usia 12 tahun. Membaca karya-karya Soe Hok Gie yang membuat saya mengerti idealisme, demonstrasi, kritik, semangat, kejujuran, kemunafikan, kenaifan, politik, dan membuat saya melihat segalanya dari sebuah point of view yang sangat netral; pada usia 13 tahun. Membaca Laskar pelangi yang membuat saya bersemangat untuk berkorban, berusaha, berlari, terjatuh, mencoba, menangis, meraih, dan terus berguling di pasir-pasir halus luasnya pantai dunia; pada usia 14 tahun. Mendengar radio BBC setiap pagi sejak usia 15 tahun yang membuat saya tahu, everythings are still in the air; membuat saya tahu, dunia ini luas dan beragam; membuat saya tahu, diluar sana masih banyak yang harus dibantu; membuat saya tahu, dunia menanti sesuatu yang membuka topeng kemunafikan; yang membuat saya tahu, bahwa saya ada disini, sebagai salah satu anak Indonesia yang patut bangga akan karya anak Indonesia lainnya yang selalu mencengangkan dunia namun sangat jarang diekspose media.

Self improvement. Perbaikan diri. Dan semua buku yang pernah saya baca, semua visual yang saya tonton, semua suara yang saya dengar, semua hal yang pernah saya jalani, semua jelas sebuah perbaikan. Self improvement, adalah perbaikan diri atau pengembangan diri? Start from now, saya akan mencoba menjadi lebih dewasa, lebih membuka mata, kepala, dan hati untuk lebih tau sebenernya apa yang saya cari.
Daaan, ending dari post ini, I am going to say thank you sooo much to Christian Sugiono. He gave many ideas, knowledge, thinking, and many new things. (aih, agak lebay ya)

Roda Beradu dengan Koin

Typed on Tuesday, January 27, 2009


tuhan


pepatah tua yang sering didengungkan itu memang benar, hidup seperti roda, yang mampu berputar dan putar dan putar. setiap sisinya memiliki akhir yang tiada akhir dan memiliki cerita yang tiada sama, semua membawa harapanku, mimpiku, bahagiaku, persahabatanku, keluargaku, prestasiku, percintaanku, kekasihku, orangtuaku, rumahku, sekolahku dan segala hal dalam diriku dalam tempat yang berpisah dan berjarak.


baru kemarin rasanya aku bersua dengan SMANZA, menemukan hidup baru dan gaya hidup baru -lagi-. lalu mulailah aku bertata dalam canda dan tawa palsu yang kian tak terkendali. hingga akhirnya aku menangis, bersedih karena adaptasi yang kian tak menunjukkan kebahagiaan, lalu kemudian bisa tertawa dan mengecap bahagia bersama dewasanya semua teman baru. lalu persahabatanku yang makin menyatu membuat aku semakin gila. membuat aku semakin mengada-ada dalam posisi bahagia dalam roda hidupklu yang berada di puncak. cipeng, cype, dhea, dan agung yang menggilai hari-hariku semakin membuat hatiku bertanya, kenapa kesedihan masih begitu mampet menghadiahiku.


dan semua kini tergerus. baru kemarin rasanya aku melenggangkan langkah di kelas akselerasi yang mewah dan menyala terang, lalu aku hijrah ke sebuah kelas internasional, yang kembali mengadu adrenalinku untuk tetap berkata berani akan semua, akan semua yang ada. dan ketika adaptasi kembali menyapa dan mengajak kesedihan menyapa juga. saat itulah roda bahagia yang menyala-nyala di puncak itu kian mengkerut. menyusut seiring gelak yang tak henti bertanya kapan akan berpulang. lalu ketika akselerasi menjauh dan dhea kian menghantui hanya di balik badanku saja. bagi rapot di kelas baru pun kian mengundang kesedihan. nilaiku yang cukup itu membuat bahagia kembali di ubun-ubun. lalu kembali mengkerut ketika cype harus berhenti les dan pergi. disambut cipeng yang harus operasi tulang belakang hingga absen les dan bersua. lalu dimana? dimana lagi bahagia yang kemarin masih berada di puncak? aku semakin bertanya-tanya. is it a deal?


dihadapku kini semua yang semakin hilang. dhea yang pergi, cype yang pergi, cipeng yang pergi, lalu agung yang juga pergi. lalu dimanakah pundak untukku menempelkan air mata yang enggan mengering. untukku yang kian tak mengerti dimana bahagia harus dijumpai. dan mataku ini, sembab dan merah karena roda yang mengeram.


sementara pepatah lain menyambutku dengan hidup yang diibaratkan sebagai sebuah koin. memiliki 2 sisi yang berbeda, namun aku boleh melemparnya dan memilih salah satu diantaranya. disitulah, disitulah jalanku untuk memilih. memilih dimana bahagia yang mencapai ubun, atau mereka sahabat terbaikku yang hanya merekalah yang dapat mempengaruhi senyum-senyum di wajahku, atau kesedihan yang semakin menyeretku ke arah frustasi, atau tangisan yang kelam, atau cuek yang sama sekali tak menyelesaikan. how is life?

and let my besties know, if I love them, much than everything.


27 Januari 2009

dalam sergapan yang kian tak henti menyerang, bahwa perasaan ditinggalkan memang lebih sulit daripada meninggalkan orang yang dicintai.