Posts

Siapa yang lo kalahin?

Sebenarnya, siapa yang lo kalahin setiap hari? Teman yang iri dengan kemampuan lo? Sahabat yang diam-diam mendoakan kejatuhan lo? Atau musuh yang dari jauh menantikan kegagalan lo?
Sebenarnya, siapa yang lo kalahin? Kalo setiap hari suara yang paling sering lo denger adalah suara dari dalam hati dan pikiran lo yang pengen dianggap, Kalo sebenernya omongan orang yang jelek tentang lo bisa lo abaikan begitu saja tanpa masuk ke hati lo, Kalo sebenarnya masih banyak orang yang dukung lo dengan hati putih bersih murni tulus mereka.
Sebenernya, siapa yang lo kalahin hari ini? Siapa yang kekalahannya paling pengen lo saksikan? Dengan siapa lo bersaing hari ini? Pujian dari siapa yang paling lo tunggu atas kemenangan lo?
Sebenernya, siapa yang paling perlu lo kalahin? Kalo bukan rasa malas yang bikin lo ngga meraih apa-apa hari ini, Kalo bukan keraguan yang bikin lo mundur lagi selangkah, Kalo bukan rasa aman yang bikin lo ngga pindah-pindah dari titik nyaman lo yang ngga bikin lo berkembang, Kalo bukan ras…

Trying to move on? You should watch these movies!

Image
1. Caleste and Jesse Forever (8.5/10)
Pertama kali baca judulnya, asliii saya pikir ini film bakal basi banget, karena ada kata 'forever' di judul film. Tapi ternyata mereka akhirnya ngga 'forever' bersama, kok. Saya sukaaa banget film ini karena entah kenapa jalan cerita dan acting pemainnya membuat saya benar-benar merasakan apa yang mereka rasakan. Hmm, dan tentunya ya... I've been there. I know how it feels, I know it sucks. Caleste di film itu, itu saya. Caleste yang ambisius, sibuk, tukang ngatur hidup orang, nuntut ini itu, dan career-oriented; saya banget. Caleste yang ngga bisa sendiri sebenarnya, sok mandiri aja, tapi untuk masang rak buku rakitan di IKEA aja butuh bantuan mantan; itu saya banget. Caleste yang di depan mantan cuek bebek sok cool tapi aslinya sedih pas tau pasangan baru mantannya baik & cantik trus hobi banget kepo mantan; haha saya banget Caleste yang kurang sabar, kurang ngerti, kurang peka, yang akhirnya ketika udah kehilangan, ras…

"OMG, she's living my dream!"

ada beberapa IG story orang yang tiap nonton aku selalu ngomong dalam hati "OMG she's living my dream...", iri sih rasanya, tapi iri yang bikin semangat untuk memperbaiki hidup biar bisa kayak gt, syukur-syukur kalau lebih. — Annisa Zakiroh (@annisazakiroh) November 28, 2017 ini hal-hal sepele tiap hari yang orang rasain/kerjain dan dibagi ke orang lain karena pengen orang lain ngerasa energi positif dari hal yang mereka jalani tiap hari gitu. trus aku malah jadi iri, pengen juga. — Annisa Zakiroh (@annisazakiroh) November 28, 2017 nah ini dia beberapa orang di IG yang tiap liat story mereka aku jadi berdoa... kapan bisa kayak mereka juga. jiahahaha gapapa lah ya ngayal babu dikit. — Annisa Zakiroh (@annisazakiroh) November 28, 2017 1) @kekekania. tiap hari post bisnis @ChicandDarling yg sesuai dgn passionnya, keluarganya dgn 2 anak yg pinter2 & suami yg jago masak. asli byk bgt pasti huru haranya, dan ga jaim juga post downs & ups jd working mom. salute! — Anni…

sebuah kenangan

hari ini duduk di kursi panjang depan rumah menghadap ke kilang. diem aja. mikir. banyak banget yang terjadi dalam seminggu terakhir. tiba-tiba semuanya jadi cepat, belum sempat mencerna, keburu ganti peristiwa.

tiba-tiba ingat, 7 tahun lalu ada dua orang yang duduk di kursi itu, pura-pura menghadap kilang, padahal sambil menatap dalam diam dengan pipi yang sama-sama basah. berusaha meredam rintihan tapi apa daya terlalu nyaring untuk didengar dengan hati masing-masing.

salah satu menangis terlalu kencang, bertanya-tanya, kenapa takdir ini yang diterima oleh keduanya. sambil menggenggam tangan. bertanya lagi, berulang kali, perpisahan ini apalah artinya. terlalu berat untuk dihadapi berdua, belum siap ternyata.

7 tahun berselang. aku cuma bisa diam di kursi itu. perpisahan sudah terjadi. orang yang menangis itu jadi salah satu orang yang paling kurindu dalam hidupku. tapi peristiwa hidup sudah terlalu ramai kini. terlalu rumit untuk mengingat yang sederhana dan ringan saja.

cukup hanya sa…

Tentang Pilihan Yang Bisa Dipilih

Kadang ada masanya kita merasa diri kita hanya ada di level 6 dari 10, sehingga cuma bisa menggapai hal-hal di level itu, tidak bisa lebih. Kadang kita merasa tidak punya pilihan, cenderung pasrah dan menunggu tempat berlabuh kita. Kadang kita merasa bahwa jangankan memilih, yang di depan mata saja sudah cukup baik untuk kita. Kadang kita merasa sedang bersyukur dengan apa ya kita miliki, sampai kita lupa kalau kita juga punya hak mendapat lebih dan punya kewajiban berusaha lebih.
Suatu hari saya berkata ke teman saya, “Gue ngga mau ah magang disana, soalnya di kantor itu departemennya banyak banget, role gue sebagai anak magang pasti makin kecil, dan ngga bisa kenal semua orang.” Teman saya menjawab, “Gila ya bu, keterima magang aja lo belum tentu, tapi udah sok nolak kantor bagus aja.” Ya bagi saya itu bukan sebuah penolakan, hanya perwujudan kalau saya menghargai diri saya dengan memilih hal-hal yang menurut saya paling baik, mengenyampingkan perasaan rendah diri dan pesimis yang ad…

Some Adjustments Part. I

Image
For me, it is not easy to move out from a big city (Jakarta) where my life is always 'easy' to a small city and also my hometown, Balikpapan. I want to pour my feeling, my thinking and the way I cope with my new life here in a series of writing with title: Some Adjustments. Because the only thing we need to face changes is... Adjustment. What did I adjust?
So the first series is going to talk about the perks of living in the fourth industry revolution era, or, digital era. We are living in an era where our life couldn’t be separated with technology, or to be exact, smartphone. Nowadays, we use smartphone for everything, not only for calls and send messages. Everything is on the phone. All my life~ And since I moved out from Jakarta, there are some features or apps that don't use. There, I made some adjustments to my phone. And these are some apps that has to be deleted from my phone:
1. Eventbrite
This app is my guide to search interesting recent event/seminar/workshop in Ja…

When You Have To Choose

November 2016 adalah bulan terakhir saya menjalani masa klinik sebagai co-assisstant doctor, sambil menunggu dan mempersiapkan Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) yang saya jalani pada Februari 2017, saya menghabiskan 1-2 bulan merenungi langkah yang akan saya ambil satu hingga lima tahun ke depan, yang juga menentukan langkah saya di tiga hingga enam bulan setelah UKDI. Akhirnya setelah perenungan yang cukup panjang, saya memutuskan akan melanjutkan jenjang pendidikan master, bukan dokter spesialis. Cita-cita saya, saya ingin melanjutkan ke sebuah sekolah di kota yang sangat saya sukai 2 tahun dari sekarang. Dan cita-cita inilah yang mengantarkan saya ke perjalanan persiapan S2 yang saya jalani 6 bulan belakangan.
Dengan cita-cita ini, pertanyaan yang paling sering saya dapatkan adalah: Kenapa?
Kenapa memilih lanjut ke magister, bukan spesialis? Setelah menjalani 5,5 tahun pendidikan sekolah kedokteran, saya menyadari bahwa ternyata saya tidak terlalu nyaman bekerja di rumah sakit.…